drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Berhutang Pada Rakyat | Bagian : 2

Bulan Negeri Serantau


Oleh : drh.chaidir, MM

Seakan diatur, tiga negeri serantau: Indonesia, Malaysia dan Singapura, hari jadinya jatuh pada bulan Agustus. Indonesia 17 Agustus 1945, Malaysia 31 Agustus 1957, dan Singapura 9 Agustus 1965.

Tunggu, masih belum lengkap kalau belum menyebut hari jadi Propinsi Riau tanggal 9 Agustus 1957, ketika Presiden pertama RI, Ir. Soekarno menandatangani pemekaran Propinsi Sumatra Tengah: menjadi tiga propinsi, Sumatra Barat, Riau, dan Jambi. Hari jadi propinsi Riau, untuk pertama kali dirayakan pada bulan Agustus tahun ini di Gedung Lancang Kuning DPRD Riau, lengkap dengan pembacaan syair.

Dengan tiga negeri serantau (bahkan empat termasuk Riau) merayakan hari jadi pada bulan Agustus, cukup alasan untuk menyebut bulan ini bulan negeri serantau. Boleh, kan? Tapi Saudara, bukankah itu kebetulan? Benar, tetapi kebetulan yang baik tentu perlu disyukuri. Barangkali ada hikmah yang bisa dipetik. Siapa tahu kelak akan ada perayaan hari jadi bersama negeri serantau Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Tentu tertumpang pula di sana Riau, Negeri Lancang Kuning. Siapa tahu? Sebenarnya ada banyak persamaan negeri-negeri serantau ini, ketimbang perbedaannya. Yang paling menonjol adalah kesamaan bahasa. Bahasa Melayu adalah bahasa yang dimengerti oleh umumnya anak manusia yang tinggal di rantau ini.

Di Singapura walaupun etnik Melayu hanya 14 persen dari penduduknya (Cina 74%), tapi umumnya etnik Cina di pulau ini dapat berbahasa Melayu (berba-hasa Indonesia). Sebutlah tokoh Lee Kuan Yew, atau Perdana Menteri Goh Chok long, atau BG Lee (Lee Shien Long), semua dapat berbahasa Melayu dengan lancar. Di Malaysia jangan tanya, lebih dari separo penduduknya etnik Melayu dan berbahasa Melayu.

Bahasa jelas menjadi alat perekat persaudaraan yang paling ampuh. Contohnya adalah negara-negara Amerika Latin. Kecuali Brazil yang berbahasa Portugis, semuanya berbahasa Spanyol. Argentina, Chili, Uruguay, Venezuela, Bolivia, Equador, Kolombia, dan Peru misalnya, semua berbahasa Spanyol dan ini membuat mereka merasa senasib sepenanggungan.

Nah, kalau bahasa menunjukkan bangsa bisakah negeri-negeri di Amerika Latin itu disebut Bangsa Amerika Latin? Atau negeri-negeri serantau itu disebut sebagai Bangsa Melayu?

Di samping bahasa, kepentingan lain yang saling isi-mengisi di antara negeri-negeri serantau ini adalah kegiatan perdagangan. Jauh sebelum adanya konsep segi-tiga pertumbuhan Singapura-Johor-Riau (Sijori) atau IMS-GT (Indonesia-Malaysia-Singapura Growth Triangle), negeri-negeri serantau ini sudah saling tukar-menukar barang dagangan.

Dewasa ini bahkan sebenarnya Singapura itu sudah "setanah air" dengan kita, sebab sudah banyak sekali tanah dan pasir kita yang dipakai untuk menguruk pantainya. Bahkan bandara internasional Changi yang megah dan tersibuk kedua di dunia itu pun sebagian dibangun di atas pasir urukan dari Riau. Demikian juga kawasan industri yang mengagumkan di Jurong, di bagian barat daya Singapura, diuruk dengan pasir laut dari Riau. Membandingkan foto satelit Singapura 30 tahun yang lalu dengan Singapura terkini, memang kelihatan betapa kawasan daratan negeri pulau itu bertambah lebar. Sementara di bagian lain, hinterlandnya di Riau Kepulauan, ada pulau-pulau yang terancam hilang karena pasir di sekitarnya dikeruk secara berlebihan.

Tapi sudahlah. Itu tidak usah terlalu disebut-sebut, yang penting bagaimana ke depan kita membangun iklim "win-win" di rantau ini. Suka atau tidak kita tetap akan menjadi negeri serantau sampai dunia kiamat. Kita tidak lagi bisa memilih tetangga. Atau ada negeri yang mau pindah?
Memperingati hari jadi adalah sebuah momentum komtemplasi. Menelusuri kembali harapan-harapan yang direnda sejak awal, bahkan juga mimpi-mimpi indah, untuk kemudian dihadapkan dengan realita.

Negeri serantau ini masing-masing memiliki permasalahan yang berbeda. Kita tidak tahu secara persis apa yang menjadi renungan Malaysia dan Singapura di hari jadinya. Sebenarnya, duniawi bila terjadi deviasi antara cita-cita dengan realita, tapi kita di sini jelas menghadapi sekian banyak masalah-masalah besar yang tak kunjung terpecahkan. Buah karya ciptaan pikiran dan akal budi manusia sesungguhnya merupakan berkah, bukan sebaliknya, merupakan kutukan terhadap kemanusiaan. Yang terjadi, buah cipta itu berkah untuk sekelompok orang, tapi tragisnya membawa kesengsaraan bagi kelompok lainnya.

Saya teringat ucapan Albert Einstein, si jenius penemu Teori Relativitas itu, di depan mahasiswa Institut Teknologi California suatu kali. "Mengapa ilmu yang sangat indah ini, yang menghemat kerja dan membikin hidup lebih mudah, hanya membawa kebahagiaan yang sedikit kepada kita? Jawabannya sederhana. Karena kita belum lagi belajar bagaimana menggunakannya secara wajar".

Einstein benar, ilmu yang seharusnya mengungkai masalah menjadi mudah, malah membuat berbelit-belit bak benang kusut. Kita mengundang investor untuk membuka lapangan pekerjaan, tapi yang diperoleh adalah kemiskinan sistematis, ketidakadilan, dan pertengkaran. Kita ingin mewujudkan demokrasi, tetapi etika yang dikembangkan adalah ademokrasi. Kita mengerti keterbukaan, tetapi kemudian "kebablasan". Einstein tidak meminta kita harus mengerti diagram dan rumus-rumus persamaan matematika yang rumit, melainkan hanya kewajaran, karena kebenaran adalah universal. Adakah perbedaan yang begitu signifikan dalam menggunakan ilmu pengetahuan secara wajar antara negeri-negeri serantau ini, yang mengakibatkan hasil akhir demikian berbeda?

Momentum "bulan negeri-negeri serantau" ke depan agaknya perlu dimanfaatkan untuk membangun kesadaran kemajuan bersama. Di rantau bertuah ini kita tidak akan pernah terpisahkan.

(20-26 Agustus 1999)


Tulisan ini sudah di baca 147 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Berhutang Pada Rakyat

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Berhutang-Pada-Rakyat/59-Bulan-Negeri-Serantau.html