drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Berhutang Pada Rakyat | Bagian : 1

Superman & Super Semar


Oleh : drh.chaidir, MM

Dari satu segi, superman dan supersemar tidak berbeda. Keduanya digambarkan sebagai makhluk super. Superman adalah imajinasi tentang manusia super, sebuah konsep filosofis dari Friedrich Nietzsche, sedangkan supersemar adalah (mestinya) Semar yang super.

Tapi itu kan dari satu segi, padahal segala sesuatu itu bersegi-segi. Yang bersegi tiga namanya segitiga, yang bersegi empat, namanya persegi empat. Yang segi empat ini masih lagi terbagi dalam beberapa bentuk, ada yang namanya bujur sangkar, ada yang namanya empat persegi panjang, dan ada yang namanya persegi empat suka-suka alias tak beraturan.

Nah, superman dan supersemar terjemahannya tergantung pada suasana kejiwaan ketika sedang menyebutnya. Bila suasananya remang-remang, ada musik, ada bir, ada kacang dan ada hostess yang tersedia untuk berasyik-asyik, maka superman berarti "ekstra joss". Bila berada ditengah-tengah massa yang berunjuk rasa, maka superman berarti seorang orator yang bisa membakar semangat, membuat massa bisa menyerang dengan beringas atau membuat massa tidak menyerang.

Tapi ketika ada makhluk yang berhasil menyelamatkan nyawa seorang ibu dan anaknya yang terperangkap dalam kobaran api di sebuah gedung pencakar langit, saat orang biasa sudah berputus asa, dan kemudian sang penyelamat terbang menghilang ketika orang-orang belum sempat mengucapkan terima kasih karena masih terperangah, maka itu baru superman betulan seperti yang digagas oleh Friedrich Nietzsche itu.

Dalam imajinasi filsuf Jerman itu, superman adalah sebuah konsep manusia sempurna yang selalu berusaha keras untuk mencapai kesempurnaan. Melalui kemauan keras superman dapat mengangkat dirinya memiliki pengendalian diri yang sempurna. Dalam alam pikiran Friedrich Nietzsche, superman memiliki kekuatan moral dan mental, jadi sebenarnya adalah sebuah konsep tentang moral. Tetapi kemudian konsep itu dielaborasi, bahkan disalahgunakan oleh rezim Nazi di bawah Hitler untuk menjastifikasi bahwa bangsa Arya, etnis Jerman, adalah bangsa yang memiliki superioritas.

Dalam suasana kejiwaan ketika sedang membayangkan superman, maka supersemar juga tidak seperti yang dibayangkan secara umum. Supersemar pastlah Semar yang super. Semar dalam cerita wayang adalah bapak dari Petruk, Gareng, dan Bagong. Keempat anak-beranak ini, masih dalam dunia perwayangan, merupakan punakawan bagi Arjuna, Bima, dan raja-raja atau ksatria lainnya. Punakawan berarti pelayan atau pengawal atau abdi pengiring raja-raja Jawa di zaman dahulu. Namun berbeda dengan ketiga orang anaknya, yang berbakat besar sebagai pelawak seperti yang pernah kita saksikan di layar TVRI, Semar bukan pelawak, melainkan penasihat yang arif dan bijaksana. Semar adalah bapak pelindung Pandawa atau Pandawa Lima (sekali lagi dalam cerita wayang) dalam negara Astina, yaitu Yudistira, Werkudara, Arjuna, Nakula dan Sadewa. Semar juga dipandang sebagai dewa. Nah, jadi supersemar kan bisa bermakna dewa yang super.

Tetapi Supersemar yang kembali menjadi gunjingan atau wacana hari-hari terakhir ini, bukanlah Semar yang super itu. Melainkan Surat Perintah Sebelas Maret yang disingkat dengan Supersemar. Alkisah, dipercaya oleh banyak orang pintar, supersemar (yang surat itu) adalah sebuah surat yang dahsyat, surat yang ditandatangani oleh Presiden Bung Karno untuk menyerahkan kekuasaan kepada Soeharto. Supersemar adalah sebuah "cek kosong". Atas dasar Supersemar itulah Soeharto melakukan apa saja yang baik menurutnya, melayarkan bahtera Indonesia mencapai pantai tujuan. Bahwa kemudian dalam perjalanan Soeharto selama 32 tahun dia membangun sebuah imperium dan kapalnya tidak pernah sampai ke tujuan, itu cerita lain.

Orang kemudian bertanya-tanya surat sakti seperti apa sebenarnya Supersemar itu, yang bisa membuat orang kaya tujuh turunan. Orang semakin penasaran karena yang beredar di pasaran bukanlah Supersemar yang original, tapi yang palsu atau paling banter aspal (asli tapi palsu). Banyak orang yang patut ditanya telah ditanya, ke mana gerangan Supersemar yang asli itu. Pihak-pihak yang sangat berkepentingan dengan surat tersebut agaknya mulai sedikit grogi karena saksi sejarah yang mampu mengungkapkan rahasia Supersemar itu satu demi satu wafat. Itu pula agaknya alasan mengapa perburuan Supersemar itu kembali menghangat di awal milenium ketiga ini.

Yang juga sangat menarik untuk direka-reka adalah mengapa surat itu diberi singkatan Supersemar. Adakah barangkali penamaan surat itu karena Soeharto ketika itu sedang berpikir tentang superman? Sebagai orang yang sangat Jawa, apalagi sebagai putra daerah Yogyakarta, Soeharto tentu seorang pengagum Semar. Dan karena pengagum, bisa saja Soeharto menokohkan dirinya seperti Semar. Soeharto tak akan memilih tokoh Petruk atau Gareng atau Bagong. Ini terlihat ketika dia mundur dari panggung politik, Soeharto menggunakan istilah lengser keprabon. Soeharto terobsesi menjadi seorang tokoh tua yang amat disegani, yang semua ucapannya bisa menjadi jampi-jampi. Dan dengan pride yang sangat besar ketika itu, Soeharto tentu tidak mau menjadi Semar sembarang Semar, tapi pasti Semar yang super maka kloplah singkatan surat itu (barangkali) menjadi Supersemar.

Kalau kita berpikir ke depan, ketemu atau tidak Supersemar yang asli, agaknya tidaklah terlalu penting. Sebab ke depan, dalam era demokrasi yang semakin baik, pola cek kosong seperti Supersemar itu adalah pola yang kuno yang tidak boleh dipertahankan. Alih kepemimpinan harus jelas mekanismenya dan transparan. Tapi kita tentu tidak menolak bila dalam masyarakat kita yang masih dalam kesulitan ini muncul superman-superman seperti dalam konsep Friedrich Nietzsche itu.


(31 Maret-6 April 2000)


Tulisan ini sudah di baca 106 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Berhutang Pada Rakyat

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Berhutang-Pada-Rakyat/58-Superman-&-Super-Semar.html