drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Berhutang Pada Rakyat | Bagian : 1

Mencoba Memahami Australia


Oleh : drh.chaidir, MM

Australia adalah negeri Barat yang berada di selatan negeri kita. Memang terasa agak aneh, negeri Barat mestinya jauh di barat sana, di Eropa atau di Amerika. Tapi itulah Australia.

Ada sebuah anekdot. Konon suatu ketika, Perdana Menteri Australia Paul Keating datang ke Jakarta bertemu dengan Presiden 5oeharto (kedua-duanya kini sudah mantan). Dengan takzim Paul Keating bertanya sambil mohon pehinjuk kepada Presiden Soeharto, "Saya ingin belajar dari Indonesia bagaimana caranya agar Australia bisa menjadi republik." Dengan kalem Soeharto menjawab, "Saya juga ingin belajar dari Australia bagaimana caranya agar Indonesia bisa menjadi kerajaan." Ini agaknya berkaitan dengan joke orang Madura. Konon dulu, kalau orang Madura ditanya siapa Presiden Indonesia, mereka akan menjawab Harmoko. Lho, lalu Soeharto itu siapa? Soeharto itu rajanya!

Australia adalah sebuah negara yang berbentuk kerajaan, tetapi perilakunya liberal, dan terkesan sebagai sebuah negara republik. Sebaliknya Indonesia adalah sebuah negara republik, tetapi karena presidennya bertahta laksana sang raja (ketika itu), maka terkesan seperti kerajaan.

Dalam episode lain, tapi ini kisah nyata, Australia melaksanakan referendum. Opsi yang ditawarkan kepada rakyat Australia: negara tetap berbentuk kerajaan atau berbentuk republik. Lebih dari separo rakyat Australia ternyata memilih negaranya tetap berbentuk kerajaan.

Aneh, kan? Di seluruh penjuru dunia dewasa ini, justru orang ramai-ramai memilih negara berbentuk republik, bahkan negara besar seperti Uni Soviet telah berkecai-kecai (pinjam istilah Prof. Tabrani) menjadi negara republik kecil-kecil. Australia ternyata ogah republik dan lebih suka berada di bawah ketiak Ratu Inggris.

Hasil referendum pasti tidak bohong. Dan bagi kita tidak ada urusan, mau kerajaan atau mau republik. Sama saja. Tidak ada sesuatu yang salah, hanya sedikit terasa aneh saja. Rupanya tidak mudah bagi kita memahami isi hati orang Australia Dalam perspektif kita. kerajaan berarti ada raja, dan raja berarti feodalistik. Hanya saja memang, raja dalam perspektif kita dan raja dalam perspektif Inggris yang menjadi induknya Australia, agaknya berbeda.

Seperti halnya negara-negara Barat lainnya, Australia juga memberikan apresiasi yang tinggi terhadap HAM. Namun pada sisi lain, Australia justru enggan memberi penghargaan yang layak terhadap suku asli Aborigin. Memang suku Aborigin hanya lebih kurang 2 persen saja dalam komposisi etnik di Australia yang berpenduduk 16.8 juta jiwa, sisanya, etnik Eropa 95 persen, Asia 2 persen, dan lainnya 1 persen.

Suku Aborigin pemilik sah Benua Australia, tersingkir oleh pendatang dari Inggris yang kemudian mengklaim benua itu milik mereka semenjak pertama kali didarati oleh James Cook pada tahun 1770. Marjinalisasi suku Aborigin ini kemudian semakin menjadi-jadi ketika orang-orang Eropa berbondong-bondong datang ke Australia untuk menambang emas.

Hubungan Indonesia-Australia selalu mengalami pasang surut. Ada kalanya mesra, adakalanya tegang bahkan saling bakar bendera. Susah dipahami dan diprediksi.
Tahun 1986, sesaat sebelum saya berangkat studi ke Australia, kedutaan mereka di Jakarta didemo oleh KNPI. Demo tersebut adalah sebagai reaksi balas setelah beberapa hari sebelumnya harian Sydney Morning Herald menyiarkan berita yang menghina Presiden Soeharto. Pers Australia memang dari dulu tidak bersahabat dengan Indonesia. Pemerintah Australia berulangkali terpaksa melakukan klarifikasi bahwa apa yang disiarkan oleh media massa bukan merupakan sikap pemerintah. Media massa tidak bisa dikontrol oleh pemerintah untuk tidak mcnghujat ncgara lain. Memang susah dimengerti.

Dalam sebuah pertemuan kecil dengan asosiasi peternak di luar kota Townsville beberapa hari kemudian, dengan agak kikuk mereka mengatakan bahwa kalangan peternakan Australia tidak ada urusan sama sekali dengan pemberitaan di media massa. Mereka mengatakan tidak ada masalah dengan peternak Indonesia. Rasanya kita tetap berhubungan baik dan saling membutuhkan kata mereka.

Entah mereka jujur entah tidak, hanya mereka yang tahu. Tetapi bisnis peternakan antara Australia dan Indonesia tidak boleh dikatakan kecil. Australia adalah pemasok utama ternak sapi untuk Indonesia, demikian pula daging bekunya, susu, dan keju. Saya kira kalangan swasta Australia akan rugi besar bila mereka tidak bisa lagi memasok peternakan dan hasil-hasilnya ke Indonesia. Sementara Indonesia masih bisa mencari pemasok lainnya dan saya kira pasti banyak yang antre karena Indonesia adalah pasar yang sangat potensial.

Ketika beberapa tahun kemudian Indonesia terkena wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) pada ternak sapi yang menimbulkan kerugian besar pada peternak, Australia adalah negeri yang paling risau. Hal ini wajar karena peternakan merupakan industri utama di Australia. Mereka ketakutan setengah mati terhadap kemungkinan melanglangbuananya virus PMK itu ke Australia. Bila itu terjadi, tamatlah riwayat mereka. Oleh karena itu, tidak ada pilihan lain, Australia harus membantu Indonesia sepenuhnya memerangi PMK tersebut. Prinsip mereka, lebih baik berperang di negeri orang daripada di negeri sendiri.

Tahun 1999, tidak ada lagi PMK. Australia kembali hadir, namun kali ini memerangi orang-orang prointegrasi di Timor Timur dan menembaki TNI. Bedanya, ketika mereka ikut membantu memerangi PMK, Australia menunjukkan rasa persahabatan dan senasib sepenanggungan. Sedangkan sekarang, mereka arogan dan penuh dengan suasana permusuhan. Saya mencoba memahami, tetapi tetap tidak memahami Australia.


(26 November-2 Desember 1999)


Tulisan ini sudah di baca 106 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Berhutang Pada Rakyat

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Berhutang-Pada-Rakyat/57-Mencoba-Memahami-Australia.html