drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Berhutang Pada Rakyat | Bagian : 1

Sapa Suruh Datang Jakarta


Oleh : drh.chaidir, MM

Sapa suruh datang Jakarta
Sapa suruh datang Jakarta
Sandiri suka sandiri rasa
Ee do e sayang...........


Tidak jelas siapa penggubah dan kapan lagu itu digubah, yang pasti folksong Manado, Sulawesi Utara itu memang populer. Ringan dan ceria, itulah kesan apabila kita mendengarkan lagu itu dilantunkan. Barangkali tidak berlebihan bila folksong itu menimbulkan imej, orang Manado punya rasa humor yang tinggi, jujur, dan sportif. Tangan mencencang bahu memikul. Mengapa mesti sewot, kan tidak ada yang memaksa Anda untuk datang ke Jakarta. Jadi rasain sendiri, risiko tanggung penumpang, begitulah kira-kira.

Pemberitaan media cetak dan elektronik akhir-akhir ini yang tiada henti-hentinya memberitakan tingkah polah Jakarta, entah mengapa, menyebabkan lagu rakyat Manado itu terngiang-ngiang di telinga saya, padahal Manado dengan Pantai Bunakennya yang indah itu baru sekali saya kunjungi. Barangkali karena lirik lagunya terasa kontekstual dengan situasi dan kondisi akhir-akhir ini, ketika kelompok-kelompok kepentingan ramai-ramai mengerahkan massanya ke Jakarta untuk kemudian pulang dengan tangan hampa. Sebuah perbuatan yang kelihatannya sia-sia.

Tidak ada seorang pun yang bisa melarang orang lain datang ke Jakarta, sebab Jakarta adalah ibu kota republik ini. Milik semua orang. Tetapi Jakarta kini bukan lagi Batavia, yang dihuni oleh orang-orang Belanda yang sangat gemar bersepedaria seperti di Amsterdam sana. Jakarta telah berkembang menjadi sebuah kota yang supersibuk, macet di mana-mana, tidak lagi bersahabat dan tidak lagi mampu memberikan kenyaman, keamanan, dan kemudahan bagi warganya dan para pendatang. Pokoknya siape lu siape gue.

Jakarta bukan sebuah kota yang mampu memanjakan pengunjungnya seperti Singapura atau Kuala Lumpur misalnva Pencopet, penipu,preman.dan komplotan penjahat kapak merah ada di mana-mana. Bila Anda kurang waspada, maka Anda akan jadi korban.

Demikian parahnya citra ibu kota itu sampai ada pemeo: sekejam-kejamnya ibu tiri, lebih kejam lagi ibu kota.

Orang Manado bukan tidak tahu itu. Mereka tahu Jakarta itu kejam, tapi tetap saja ada yang nekat datang mengadu nasib. Ada yang berhasil, tapi tentu ada yang gagal. Itu manusiawi. Yang gagal ada yang pulang kembali ke kampung halaman tercinta tanpa beban, tidak marah-marah dan tidak menyalahkan siapa-siapa, tidak juga menyalahkan Jakarta, dan jauh pula dari merajuk. Mereka menyanyi, ..."sapa suruh datang Jakarta...."

Kemampuan mengejek dan menertawakan diri sendiri seperti nyanyian orang Manado itu, kalau memang demikian interpretasinya, memerlukan kedewasaan emosional. Orang yang terbatas kecerdasan emosionalnya, akan cenderung mempersalahkan pihak lain dan akan cenderung mencari peternakan "kambing hitam". Kambing hitamlah yang jadi korban, yang siap untuk disembelih oleh siapa saja dan kapan saja. Kasihan betul kambing hitam itu. Untung mereka tidak "matre". Kalau mereka "matre" pasti harganya telah melambung seperti dolar Amerika.

Hari-hari terakhir ini semua pasang mata dan telinga diarahkan ke Jakarta menanti dengan berdebar-debar kejutan apa gerangan yang akan terjadi di ibu kota. Keadaan laksana kembali seperti di awal gerakan reformasi yang dilaksanakan oleh mahasiswa ketika mulai memuncak pada tahun 1998 yang berhasil menggusur Presiden Soeharto. Ketika itu perkembangan bukan lagi terjadi hari demi hari, jam demi jam, tapi detik per detik, begitu metafora yang digunakan oleh Dr. Nurcholis Majid, menggambarkan perubahan keadaan yang berlangsung cepat dan unpredictable.

Massa yang datang ke Jakarta, yang sebagian besar berasal dari Jawa Timur untuk mengikuti Istighatsah Qubro, doa bersama yang ditaja oleh Nahdathul Ulama, agaknya belum semuanya kembali ke daerah. Iring-iringan mereka menuju gedung DPR untuk memprotes Sidang Paripurna DPR yang menjatuhkan Memorandum II dengan menggunakan transportasi bus, truk, kereta api, dan sebagainya menjadi tontonan menarik, dan itu bisa ditonton oleh siapa saja melalui layar kaca.

Jakarta secara ekonomis memang masih menjadi ladang bisnis raksasa. Dengan penduduk lebih dari sepuluh juta jiwa dan di siang hari lebih padat lagi karena penduduk yang tinggal di hinterland atau di suburban semuanya tumpah-ruah ke Jakarta, membuat megapolitan ini menjadi salah satu megapolitan yang terpadat di dunia. Dan semuanya tentu memerlukan layanan publik seperti jasa angkutan, utilitas, lapangan pekerjaan mulai dari yang halus sampai yang kasar, penyediaan bahan makanan dan minuman, pemeliharaan kebersihan, dan seterusnya. Coba hitung berapa liter kebutuhan susu, berapa butir telur, dan berapa ekor ayam potong, berapa pula kebutuhan "ayam kampung" dan "ayam kampus". Jumlahnya tentu tidak main-main dan itu sebuah bisnis besar. Mana ada yang gratis di Jakarta. Andaikan Jakarta bisa aman seperti kota-kota megapolitan lainnya di dunia, tidak hari demi hari terancam kerusuhan dan keresahan seperti sekarang, maka Jakarta adalah sebuah industri raksasa dan ladang bisnis yang menggiurkan. Jakarta yang aman dan menggairahkan akan dapat menjadi lokomotif bagi Pulau Jawa yang sudah amat sangat sumpek itu.

Sayangnya, Jakarta kini ibarat orang yang mengidap virus yang siap menularkannya kepada orang lain. "Virus kerusuhan" yang diidap Jakarta sering latah ditiru oleh kota-kota lain tidak hanya di Jawa, tapi juga kota-kota di luar Jawa.

Kerusuhan memang menakutkan apalagi kalau sudah melibatkan massa. Citra Jakarta, ibu kota kita, memang sedang terpuruk terutama akibat pengerahan-pengarahan massa itu. Banyak yang ketakutan, terutama orang-orang asing. Oleh karenanya dalam suatu pertemuan Konsul Malaysia dan Konsul Singapura di Pekanbaru belum lama ini, saya berkali-kali meyakinkan mereka, Riau sangat jauh

dari Jakarta, mudah-mudahan tidak tertular virus Jakarta. Saya cuma tidak katakan Riau kini terasa bahkan semakin jauh dari Jakarta. "Sapa suruh datang Jakarta...."


(4-10 Mei 2001)


Tulisan ini sudah di baca 188 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Berhutang Pada Rakyat

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Berhutang-Pada-Rakyat/56-Sapa-Suruh-Datang-Jakarta.html