drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Berhutang Pada Rakyat | Bagian : 1

Memelihara Konflik


Oleh : drh.chaidir, MM

Memelihara konflik tentu berbeda dengan memelihara lembu, tapi produk akhirnya bisa sama. Kok bisa? Begini. Memelihara lembu, orang mengharapkan lembunya berkembang biak, beranak-pinak, lembu dewasa kemudian dijual untuk mendapatkan uang. Uang hasil jualan dipergunakan untuk menyekolahkan anak, beli sepeda motoi, Jitabung, atau kawin lagi. Maka di Jawa, lembu disebut rojo koyo (sumber kekayaan).

Apa hubungannya dengan kortflik? Konflik juga dipelihara, bukan untuk dikembangbiakkan, tetapi agar tidak mati. Konflik diperlukan untuk memelihara kekuasaan, memelihara pengaruh. Pengaruh dipergunakan untuk kepentingan bisnis, berdagang (menggaleh). Bisnis menghasilkan uang. Contohnya, sudah menjadi rahasia dunia bahwa Amerika Serikat memelihara konflik dimana-mana agar mereka bisa menjual senjata, menjual pesawat pembom, menjual kapal perang, membangun pangkalan militer, atau menjual jasa perlindungan pertahanan keamanan.

Jadi memelihara lembu atau memelihara konflik dalam perspektif ekonomi adalah sama. Ujung-ujungnya duit. Hanya saja yang satu direct (langsung), yang lain indirect (tak langsung). Ada yang ragu untuk menanam modal di zaman tak menentu ini, tapi kawan saya dari Taiwan justru percaya, di masa tak menentu inilah saatnya investasi. Semakin tinggi risiko semakin besar rupiahnya. "More risk more money," katanya.

Di zaman dahulu pun, konflik telah dimanfaatkan oleh pemegang kekuatan dan kekuasaan. Ujung-ujungnya fulus juga. Coba simak gaya kompeni (VOC)-persekutuan dagang Belanda zaman dahulu melakukan taktik devide el impera atau taktik adu domba.

Konflik antar raja, atau antar suku, atau antar agama, dipelihara. Dengan pengetahuan dan peralatan yang lebih maju dari pribumi, kompeni selalu memposisikan diri sebagai juru damai. Juru damai tidak gratis, Bung! Kompeni pasti meminta kompensasi, kalau tidak monopoli perdagangan, mereka meminta wilayah untuk bertanam cengkeh. Kalau perolehan tidak memuaskan maka mereka menggunakan kekuatan seniata. Yang kalah meniadi daerah taklukan dan harus menyetor upeti secara rutin. Jadi, ada konflik ada fulus.

Dalam ilmu manajemen, ada istilah MBC dan MBO. Tapi tidak ada hubungan saudara sama sekali dengan Badan Tinju Dunia WBC dan WBO. MBC adalah singkatan dari management by conflict-manajemen berdasarkan konflik, sedangkan MBO kepanjangannya adalah management by objective-manaiemen berdasarkan tujuan.

Konflik memang bisa dipelihara, "dikelola" untuk tujuan tertentu oleh kelompok manajemen atau oleh kelompok kepentingan tertentu. Konflik pada hakikatnya dapat didefinisikan sebagai segala macam interaksi pertentangan atau antagonis antardua atau lebih kepen-tingan. Konflik timbul karena banyak sebab, bisa karena faktor elemen-elemen yang berbeda, seperti elemen identitas yang menyangkut suku, agama, ras, bahasa, latar belakang sejarah, bisa juga karena ketidakadilan distributif. Terjadi ketidakadilan dan ketidakseimbangan dalam distribusi sumber daya ekonomi dan sosial politik dalam masyarakat. Misalnya, kenapa kelompok etnis tertentu mendapatkan distribusi sumber daya alam yang lebih banyak dari etnis lainnya, kenapa distribusi ekonomi tidak merata antara satu suku dengan suku lainnya. Dalil-dalil pembenaran tentu bisa dikemukakan terhadap adanya perbedaan tersebut, tetapi ketimpangan itu tetap akan menjadi potensi konflik. Hal ini dimungkinkan terjadi karena perbedaan persepsi, nilai-nilai dan sebagainya.

Bila konflik tersebut ke samping kanan atau kiri, maka disebut konflik horizontal. Kalau konflik itu atas-bawah seperti antara pusat dengan daerah, maka konflik disebut sebagai konflik vertikal. Konflik yang terjadi di Maluku, Sulawesi Tengah, atau Kalimantan Tengah dapat dikategorikan konflik horizontal. Lain konflik Riau? Presi den Abdurrahman Wahid tampaknya mengelompokkan konflik Riau sebagai konflik vertikal, sama dengan konflik Aceh dan Papua, sehingga Gus Dur perlu berteriak, kalau dia mundur dari jabatan presiden, maka nanti Riau dan Aceh akan merdeka, katanya. Ah, masaaaak?

Sesungguhnya di Riau tidak hanya melulu konflik vertikal seperti kasus otonomi, CPP Block, usul pembentukan Propinsi Kepulauan Riau dan Negara Riau Merdeka. Kasus konflik horizontal juga tidak kalah serunya: kasus Torganda, kasus Selat Panjang, kasus PT. Arara Abadi, adalah konflik horizontal yang tak kalah hebohnya. Korban memang tidak berjatuhan banyak, tetapi getaran jeritannya terdengar ke mana-mana.

Siapa sesungguhnya yang tega-teganya memelihara konflik? Konflik tak ubahnya seperti memelihara anak harimau. Bila kecil kelihatan lucu dan menggemaskan, tetapi bila besar tuannya pun siap dilibas. Maka bagi yang hobi memelihara konflik, jangan biarkan anak harimau itu besar. Konflik-konflik kecil sampai pada derajat tertentu, akan dapat merangsang dinamika kelompok untuk memajukan prestasi, tetapi konflik besar juga mampu membunuh organisasi, bahkan membunuh etnis. Maka sesungguhnya daripada memelihara anak harimau, akan lebih baik jika konflik dieliminir sejak masih kecil. Masalahnya, bila remote control berada di tangan kita sendiri, barangkali kita bisa mengarahkannya kepada sesuatu yang positif, tetapi bila yang memegang remote control adalah provokator, maka konflik akan lebih runyam.

Ada tiga metode penyelesaian konflik yang lazim dipergunakan, yaitu metode dominasi atau penekanan, metode kompromi, dan metode pemecahan masalah interaktif. Metode dominasi tidak mengharamkan aturan mayoritas melalui pemungutan suara atau voting.

Metode kompromi adalah pcnyelesaian. konflik melalui pencarian jalan tengah yang dapat diterima kedua belah pihak dan menerima tawaran kompensasi (dalam banyak kasus, metode ini seringkali dimanfaatkan oleh para "calo reformasi", yakni kelompok yang pintar menangguk di air keruh). Berbeda dengan dua metode sebelumnya, dalam penyelesaian konflik melalui pemecahan masalah secara interaktif, konflik antarkelompok diubah menjadi masalah bersama, yang dapat diselesaikan melalui teknik-teknik pemecahan masalah. Apa pun teori teknik penyelesaiannya, yang diperlukan adalah kejujuran dan keikhlasan semua pihak.


(16-22 Maret 2001)


Tulisan ini sudah di baca 185 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Berhutang Pada Rakyat

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Berhutang-Pada-Rakyat/55-Memelihara-Konflik.html