drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Berhutang Pada Rakyat | Bagian : 1

Fenomena Perubahan


Oleh : drh.chaidir, MM

Siapa pun yang pernah kuliah dan menamatkan studinya di Yogyakarta, pastilah merasa enggan meninggalkan kota itu. Saya pun mengalami syndrome yang sama ketika harus berpisah dengan kampus "Bulak-sumur" UGM. Obsesi saya, suatu saat kelak saya akan kembali ke Yogyakarta untuk menikmati suasana kuliah seperti sediakala.

Pada kenyataannya, itu tidak pernah terjadi dan tidak akan pernah terjadi. Pertama, saya tidak akan pernah kembali menjadi mahasiswa "culun" yang mengayuh sepeda ke kampus bersama ratusan mahasiswa lainnya. Walaupun semisal ada kesempatan untuk kembali kuliah di Pasca Sarjana, suasananya sudah lain. Kedua, Yogya (bahkan juga kampus "biru" Bulaksumur) sama sekali telah berubah.

Perubahan memang tidak akan pernah bisa terbendung oleh siapa pun. Dan kita merupakan aktor dalam fenomena perubahan itu. Anehnya, kita kadang-kadang tidak menyadari hal itu. Alam tidak akan pernah berhenti berubah, dan perubahan yang terjadi tidak akan pernah bisa mengembalikan keadaan seperti sediakala. Dalam fenomena alam tidak ada istilah status quo.

Kata orang bijak, hanya satu yang tidak pernah berubah di dunia ini, yaitu perubahan itu sendiri. Artinya, di mana pun, perubahan pasti berlangsung, tinggal seberapa besar dan seberapa dahsyat. Itu saja.

Tetapi perubahan memang belum tentu berupa kemajuan. Semua makhluk hidup mengalami perubahan. Namun, terkecuali makhluk hidup yang bernama manusia, makhluk lain jarang sekali mengalami perubahan yang bersifat suatu kemajuan. Makhluk yang lain itu, kalau pun mereka berubah, perubahannya memerlukan waktu yang lama sekali.

Tanaman paku-pakuan tumbuh, ikan berenang dalam cara yang sama seperti yang mereka lakukan jauh sebelum "zaman kuda makan besi". Semut-semut yang rajin melakukan kegiatan sehari-hari untuk mempertahankan kelangsungan hidup mereka, tetap dengan cara vang tidak berbeda ketika Hinosaurus masih merguacai dunia.

Tetapi manusia, dalam sejarah yang singkat, telah mengubah wajah dunia dan dirinya sendiri. Dengan menggunakan pikirannya yang cerdas manusia "mengobok-obok" (pinjam istilah Joshua) dunia agar berubah lebih cepat dan lebih cepat lagi dan akhirnya manusia bingung sendiri karena gagasannya cepat menjadi usang.

Pola perubahan sosial klasik seperti dalam revolusi industri yang terjadi di Eropa, ketika masyarakat agraris tradisional di sana bergerak menuju masyarakat industri maju, telah menjadi wacana usang. Pola perubahan seperti itu dianggap terlalu sederhana, terlalu linear, tidak multidimensi, dan terlalu mudah untuk dibaca.

Dalam masyarakat yang sudah terobok-obok seperti dewasa ini, benturan peradaban agaknya lebih menarik dan menantang untuk dibicarakan. Kita sedang berhadapan dengan lingkungan baru yang aneh. Di kantor, di kampus, di pasar, di kedai kopi, bahkan di rumah sendiri. Otak kita sudah dimasuki "virus" perubahan. Perubahan yang terjadi bukan saja karena penguasaan ilmu dan teknologi, baik yang berhubungan dengan rekayasa industri maupun biologi, tetapi juga oleh kesadaran dan perlombaan eksploitasi sumber daya alam yang memang memiliki keterbatasan.

Melihat benturan yang demikian keras, setengah percaya setengah tidak kita barangkali sedang berhadapan dengan keruntuhan peradaban. Perubahan telah menjadi kata kunci, tidak peduli ke arah yang lebih baik atau buruk. Dewasa ini misalnya, demikian susah mencari apa yang bernama etika dan sopan santun. Murid tidak lagi hormat kepada guru, yang muda tidak lagi "segan" kepada yang tua mencaci-maki, suka merampas hak orang lain, bahkan dengan teganya membunuh. Ke mana perginya orang-orang kita yang dulunya peramah, penyayang sesama, suka menolong, suka tersenyum, sehingga oleh bangsa asing orang kita sering disebut the smilling people? Adakah ini akibat salah asuhan karena sistem pendidikan yang tidak sesuai, atau karena minimnya keteladanan?

Tampaknya, kita telah memiliki lebih banyak lagi keragaman sifat dari pada yang kita miliki kemarin. Dengan kondisi yang demikian maka ke depan kita akan menghadapi tantangan yang lebih berat dalam mempertahankan persatuan dan kesatuan bangsa, karena sesungguhnya dengan kondisi hari ini pun kita sudah mengalami tantangan hebat.

Bila kita memandang peristiwa demi peristiwa itu dari kejauhan, maka beberapa hal yang semula tak kelihatan menjadi kentara. Peristiwa satu dengan lainnya tampak seperti terpisah, berdiri sendiri, namun agaknya tidaklah demikian. Peristiwa-peristiwa itu saling berhubungan, paling tidak pada suatu garis fatamorgana. Sesungguhnya, peristiwa dan kecenderungan itu merupakan bagian dari suatu fenomena perubahan: kematian peradaban lama dan kebangkitan peradaban baru.

Selama kita menganggap itu sebagai perubahan yang terpisah, dan luput melihat arti penting yang lebih besar dan mendasar, maka tidak mungkin kita bisa mendesain suatu respon yang masuk akal. Coba lihat bagaimana kita merangkak dari suatu krisis ke krisis lain, bergerak sempoyongan ke masa depan, tanpa rencana strategis, nyaris tanpa harapan, dan tanpa wawasan. Padahal kita memerlukan pola pikir, mata, dan telinga baru.

Tentu, tidaklah mudah untuk menyesuaikan diri dan mengelola perubahan-perubahan besar dan mendasar yang terjadi secara simultan dalam masyarakat, baik bagi elit politik maupun masyarakat umumnya. Kita tidak mungkin menghentikan perubahan apalagi memutar mundur jarum jam. Nasihat William Cullen Bryant agaknya layak kita renungkan: "Jangan menangisi perubahan, sebab apalah jadinya kalau keadaan tidak pernah berubah". Yang paling bijak adalah menuruti petuah orang tua-tua: orang optimis adalah bagian dari pemecahan masalah, dan orang pesimis adalah bagian dari masalah. Tinggal pilih.

(24-30 September 1999)


Tulisan ini sudah di baca 146 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Berhutang Pada Rakyat

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Berhutang-Pada-Rakyat/54-Fenomena-Perubahan.html