drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Berhutang Pada Rakyat | Bagian : 1

Mengelola Kemarahan


Oleh : drh.chaidir, MM

Amuk pastilah muara dari sekumpulan kemarahan. Tetapi kemarahan sebenarnya tidak selalu berakhir dengan amuk. Kemarahan adalah ibarat air terjun, apabila dikelola secara tepat ia akan menjadi sumber energi. Kawan baik saya seorang wartawan senior, pernah menangis sambil menulis artikel. "Saya marah pada keadaan yang tidak mampu saya perbaiki," ceritanya. Kemarahan kawan saya itu dituangkannya dalam tulisan, jadilah sebuah artikel yang penuh sentuhan.

Sesungguhnya aksi-aksi kekerasan sebagai manifestasi dari kemarahan, bukanlah gejala yang baru dalam masyarakat. Dalam beberapa tahun terakhir ini, aksi kekerasan menampakkan peningkatan yang sangat signifikan di Indonesia.

Kekerasan sebenarnya merupakan fenomena universal karena tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Usianya adalah setua sejarah dan peradaban umat manusia. Masa lampau telah dijejali secara berlimpah ruah oleh sikap, aksi dan tindak kekerasan. Tidak seorang dan tidak satu komunitas pun luput dari aksi kekerasan dalam berbagai bentuk dan manifestasi. Perbedaan hanyalah dalam bentuk, skala, frekuensi, intensitas, dan kausalitas tindak kekerasan itu sendiri.

Tentu layak menjadi bahan renungan, mengapa orang cepat menjadi marah? Padahal dulu kita terkenal sebagai bangsa yang berbudaya tinggi, penuh dengan sopan-santun, penyayang antara sesama dan peramah. Mengapa? Agaknya tidak mudah membuat argumentasi secara eksak. Kadang-kadang hanya karena kendaraan yang satu terhalang atau disalib oleh kendaraan lain, sumpah serapah pun keluar dari mulut. Kita mencari-cari alasan dalam benak kita, bahwa kita berhak untuk marah karena orang tersebut telah berlaku seenaknya. Kita tidak mau tahu dengan alasan orang lain, atau suasana yang melingkupi batin seseorang, sehingga di bawah sadar seseorang berbuat salah.

Saya mendapatkan pengalaman kecil yang tidak pernah terlupakan ketika sedang berada dalam perjalanan lewat darat dari Rockhamton menuju Brisbane di Australia, tiga belas tahun yang lalu. Pengemudi mobil adalah Dr. Peter Jellineck, dosen saya. Untuk ukuran saya, Peter seorang yang arbgan dan urakan. Suatu ketika tanpa sengaja dia menyentuh klakson, dan tentu saja benda itu berbunyi. Pengemudi mobil di depan entah mendengar entah tidak, tetapi yang menarik perhatian saya, ketika mobil berhenti, Peter menghampiri pengemudi tersebut untuk hanya sekadar minta maaf bahwa dia tanpa sengaja telah membunyikan klakson.

Mudahnya kemarahan meledak menjadi amuk barangkali karena terlalu banyak hal-hal yang menjengkelkan. Tetapi satu hal yang agaknya patut dicatat adalah terlalu besarnya jurang antara harapan dan kenyataan. Banyak yang tidak bisa memahami dengan jernih, ketika seseorang memaksakan kehendaknya, maka sebenarnya pada saat yang sama ada kehendak orang lain yang dirampas. Ketika seseorang marah kepada yang lain, pada saat yang sama orang lain juga bisa marah. Kita marah kepada pengemudi di depan ketika dia terlambat menjalankan kendaraannya beberapa detik, tetapi kita juga tidak senang ketika kendaraan di belakang kita berlaku tidak sabar dengan membunyikan klakson.

Keakraban, kebiasaan yang tidak dapat dihindari, ekspektasi, pengorbanan, agenda-agenda yang saling bertubrukan, kebiasaan aneh, tanggung jawab dan semua masalah kemasyarakatan dapat berperan dalam menghadirkan lingkungan yang penuh tekanan dan berpotensi menimbulkan friksi dan kemarahan. Dan susahnya, kita seringkali bereaksi terlalu berlebihan setiap kali berhadapan dengan keadaan yang buruk atau mengecewakan. Kita meledak di luar kendali dan langsung kehilangan pandangan yang lebih luas.

Sebenarnya, perasaan kita selalu bersama kita, tetapi kita jarang bersama perasaan itu. Sebaliknya, kita biasanya baru sadar tentang emosi kita ketika sudah menumpuk dan menindih. Irama kehidupan modern memberi kita terlalu sedikit waktu untuk melakukan refteksi atatt bahkan berkontemplasi. Sebenarnya setiap hari kita memerlukan waktu merenung, apa yang telah kita perbuat, apa yang seharusnya kita perbuat, tetapi tidak kita perbuat, atau sebaliknya. Kita membutuhkan waktu untuk mawas diri, tetapi biasanya kita tidak memanfaatkannya. Emosi mempunyai agenda tersendiri, tapi ketergesaan hidup kita tidak menyediakan ruang untuk itu, tidak memberi waktu. Kita membiarkan batin kita bersuara lirih, padahal suara ini menawarkan kemudibatiniah yang dapat kita gunakan untuk menjelajah rimba belantara kehidupan. Pernahkah kita merasa malu kepada diri sendiri dengan kemarahan yang pernah kita lakukan?

Oleh karena itu, sangat diperlukan adanya kesadaran dan kecerdasan emosi. Kecerdasan emosi merujuk pada kemampuan mengenali perasaan kita sendiri dan perasaan orang lain, kemampuan memotivasi diri sendiri, dan kemampuan mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam hubungan dengan orang lain. Kecerdasan emosi mencakup kemampuan-kemampuan yang berbeda, tetapi saling melengkapi dengan kecerdasan akademik. Banyak orang cerdas, dalam arti terpelajar, tetapi tidak mempunyai kecerdasan emosi, sehingga lemah dalam pengendalian diri.

Orang yang tidak memiliki kesadaran emosi akan cenderung menggunakan semangat juangnya dengan kasar. Ia terlalu mudah untuk tersinggung, dan tanpa sadar, kemarahan membuatnya memperlakukan orang lain dengan kasar. Dalam lingkungan masyarakat madani, yakinlah tidak akan ada seorang pun mau bekerja sama dengan orang seperti itu, yang selalu menganggap orang lain lebih rendah. la tidak mempunyai kesadaran sama sekali bahwa emosinya membuatnya tersingkir.

Resep yang paling ampuh dalam mengelola kemarahan sebenarnya adalah kesabaran dan memberikan teladan kepada lingkungan. Definisi kesabaran menurut orang tua-tua: Kalau mandi di hilir-hilir, tapi jangan di hilir sangat nanti hanyut ke muara.

Kemarahan pada skala yang tidak destruktif adakalanya perlu. Anda tidak akan pernah merasa betapa nikmatnya sinar matahari bila tidak ada awan mendung. Jadi sesekali mendung, duniawi namanya. Bukankah badai pasti akan berlalu ?!

(12-18 November 1999)


Tulisan ini sudah di baca 126 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Berhutang Pada Rakyat

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Berhutang-Pada-Rakyat/53-Mengelola-Kemarahan.html