drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Berhutang Pada Rakyat | Bagian : 1

Democracy, Democrazy


Oleh : drh.chaidir, MM

Apa beda democracy dan democrazy? Democracy berarti, petani kacang boleh jadi presiden, contohnya Jimmy Carter. Sedangkan democrazy berarti, petani kacang boleh berbuat apa saja, kecuali jadi presiden.

Lho, kok begitu? Memang begitu. Dalam kamus bahasa Inggris John M. Echols dan Hassan Shadily, disebutkan democracy jelas artmya: demokrasi. Tetapi demo crazy? Saya telah membalik-balik kamus tersebut tiga hari tiga malam, tapi tetap tidak ketemu. Bahkan juga dalam kamus bahasa prokem yang disusun Prathama Rahardja dan Hendri Chambert-Loir terbitan Grafiti, juga tidak ditemukan istilah democrazy.

Jadi democrazy terserah Anda menerjemahkannya. Kalau menurut kaidah bahasa Inggris MD (Menerangkan-Diterangkan), maka democrazy bisa berarti: gila demo. Gila demo berarti orang yang hari-hari kerjanya hanya berunjuk rasa, tak peduli siapa kawan siapa lawan. Mereka berunjuk rasa bisa karena dibayar atau bila perlu mereka membayar agar bisa berunjuk rasa. Nah, gila kan! Tapi itu mungkin di Jakarta, di Pekanbaru mana ada yang gila-gilaan seperti itu, kalaupun ada paling setengah gila.

Barangkali karena kedengarannya hampir sama, padahal kosakata ini jauh berbeda, maka democrazy dipergunakan sebagai plesetan dari democracy. Democrazy adalah demokrasi yang gila-gilaan, begitulah kira-kira. Tetapi sesungguhnya, democracy dan democrazy jelas berbeda.

Democracy atau demokrasi dalam beberapa bulan terakhir ini memang menjadi wacana dan membuat orang tergila-gila. Masyarakat sedang dilanda euforia, yaitu suatu perasaan senang dan bahagia rohani dan jasmani. Perasaan senang dan bahagia yang luar biasa akan mem-buat orang lepas kendali, lupa diri dan tampak seperti orang gila atau setengah gila.

Masyarakat memang wajar dilanda euforia, sebab dalam era reformasi ini, keran kebebasan dan keterbukaan dibuka sebebas-bebasnya dan selebar-lebarnya, pers dibiarkan berkembang sesuka hatinya, demokrasi dibiarkan mekar ibarat bunga di taman, berwarna-warni, pokoknya meriah. Orang bebas menghujat, tetapi juga bebas dihujat.

Dulu, kebebasan yang kita nikmati seperti sekarang ini dianggap milik Barat, berbau liberalisme, dan itu virus, jangan dekat-dekat, berbahaya. Sekarang bahkan kita lebih liberal dari Amerika, "induk hangkang"nya liberalisme itu sendiri. Opo ora hebat? Tapi ya nggak apa-apa. Suatu saat nanti kita bisa bilang, "Hei Amerika, hei Australia, belajarlah kepada Indonesia cara menggunakan kebebasan, cara yang Anda pergunakan sudah kuno, ketinggalan zaman."

Demokrasi kalau tidak diplesetlnan, sebenarnya berasal dari dua kata Yunani, yaitu demos artinya rakyat dan kratia artinya pemerintahan. Jadi, demokrasi adalah suatu pola pemerintahan dalam mana kekuasaan untuk memerintah berasal dari mereka yang diperintah atau rakyat. Demokrasi adalah pola pemertntahan yang mengikutsertakan secara aktif semua anggota masyarakat dalam proses pengambilan keputusan.

Mantan Presiden Amerika Serikat Abraham Lincoln memberikan rumusan yang terkenal, demokrasi adalah pemerintahan yang berasal dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat (a government from the people, by the people, and for the people), artinya pemerintahan oleh mereka yang diperintah.

Apakah semua rakyat ikut memerintah? Kalau itu yang terjadi maka itu namanya democrazy. Demokrasi langsung bukan hanya tidak dapat direalisasikan, melainkan juga secara etik tidak perlu. Yang sudah teruji adalah demokrasi dengan sistem perwakilan. Sistem ini sudah lama dikenal bahkan telah diakui sejak Revolusi Perancis.

Beberapa filsuf terkenal seperti John Locke (abad ke-17), Voltaire dan Jean Jacques Rousseau (pada abad ke-18), serta Jeremv Bentham dan T.S. Mill pada abad ke-19. A merupakan pemikir-pemikir yang mengetengahkan konsep demokrasi perwakilan.

Ciri-ciri khas demokrasi sejati antara lain adalah dijaminnya hak asasi manusia. Semua warga negara sama kedudukannya di depan hukum dan pengadilan, hak-hak politik seperti kebebasan berkumpul dan beroposisi diakui. Pemerintah dikontrol oleh warga rakyat yang dipilih dengan bebas melalui pemilihan umum dan membiarkan tindakan-tindakannya dinilai oleh rakyat. Jadi ada check and balance. Demokrasi akan berkembang dengan baik dalam suatu masyarakat yang dewasa sehingga dapat membedakan apa yang menguntungkan dan apa yang merugikan seluruh rakyat. Sikap demokratis terlihat bila seorang anggota masyarakat tidak marah manakala orang lain mengatakan "tidak" terhadap pemikirannya.

Alam demokrasi memerlukan aturan main yang menjamin adanya fair play (yaitu suatu aturan yang adil dan saling menghormati). Menekan sekelompok orang lain agar tidak ikut bermain bukan carayang demokratis. Bahkan dalam sistem demokrasi yang sehat, kaum minoritas dan kalangan oposisi diperlukan. Sebab kelompok inilah yang dapat menyampaikan kritik-kritik positif karena mereka tidak terlibat dalam permainan secara langsung.

Sesungguhnya, demokrasi ada batas-batasnya. Secara etis harus dikatakan bahwa tidak ada pihak manapun di dunia, entah minoritas, entah mayoritas, yang memiliki suatu hak mutlak agar kehendaknya terlaksana. Kehendak satu pihak menemukan batasnya pada kehendak pihak lain. Tidak ada hak atas kebebasan yang tidak terbatas. Sebagai mahkluk sosial manusia wajib menghormati orang lain walaupun keberadaannya tidak sesuai dengan setting yang kita kehendaki.

Democracy dan democrazy, diftongnya memang hampir sama, tetapi sebenarnya dalam kosakata sangat jauh berbeda. Namun kalau di lapangan sekarang kedua kosakata ini sulit dibedakan, itu barangkali karena kita sedang mulai menikmati demokrasi sambil belajar, atau mulai belajar sambil menikmati demokrasi. Enak, gila!

(22-28 Oktober 1999)


Tulisan ini sudah di baca 384 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Berhutang Pada Rakyat

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Berhutang-Pada-Rakyat/51-Democracy,-Democrazy.html