drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Berhutang Pada Rakyat | Bagian : 1

Menghargai Perbedaan


Oleh : drh.chaidir, MM

Banyak tingkah laku hewan yang ditiru oleh manusia, tentu secara tidak disengaja. Tetapi juga ada tingkah laku manusia yang ditiru oleh hewan, paling tidak dalam fabel berikut.

Seorang ahli pendidikan Dr. R.H. Reeves menulis sebuah fabel terkenal yang berjudul The Animal School (Sekolah Hewan) Tngat, bukan Sekolah Dokter Hewan! Ceritanya menggambarkan watak manusia yang pelakunya diperankan oleh hewan, berisi pesan moral dan budi pekerti. Fabel ini layak untuk direnungkan bagaimana kita harus menghargai perbedaan. Dan terasa kontekstual di tengah minimnya pemahaman terhadap kebhinnekaan di tengah masyarakat kita dewasa ini.

Alkisah, hewan-hewan memutuskan bahwa mereka harus berbuat sesuatu yang heroik untuk mengatasi masalah "Dunia Baru". Mereka pun mendirikan sebuah sekolah. Kurikulumnya: berlari, berenang, memanjat, dan terbang. Untuk memudahkan administrasi, semua hewan harus mengambil semua mata pelajaran.

Itik pakar dalam berenang, bahkan lebih baik dibandingkan gurunya. Itik juga memperoleh nilai yang bagus sekali dalam pelajaran terbang, tetapi ia sangat buruk dalam berlari. Karena ia lambat dalam berlari ia harus tinggal sesudah sekolah usai dan juga melepaskan pel-ajaran berenang untuk berlatih lari secara ekstra. Itik dipaksa oleh gurunya sehingga kakinya yang berselaput pecah-pecah dan kemampuan renangnya menjadi sedang-sedang saja. Tetapi kemampuan yang sedang-sedang saja dapat diterima di sekolah, jadi tak seekor hewan pun yang khawatir soal itu selain si itik.

Kancil memulai sebagai murid terpandai di kelas dalam pelajaran berlari, tetapi ia stres karena hams belajar berenang.
Tupai ahli sekali dalam memanjat sebelum ia frustasi dalam pelajaran terbang, karena gurunya menyuruh ia belajar terbang dari tanah ke atas, dan bukan dari puncak pohon ke bawah. Tupai menderita kejang-kejang pada kaki dan "tangan"nya karena latihan yang berlebihan, dan karena itu ia hanya mendapat nilai C untuk pelajaran memanjat yang menjadi keahliannya.

Elang adalah murid yang suka menimbulkan masalah. Dalam pelajaran memanjat ia mengalahkan semua yang lain menuju puncak pohon, tetapi ia bersikeras menggunakan caranya sendiri untuk tiba di sana. la terbang.

Pada akhir tahun ajaran, seekor belut abnormal yang dapat berenang dengan luar biasa dan juga dapat berlari, memanjat dan terbang sedikit, mendapat nilai rata-rata tertinggi. Dan ia mendapat kehormatan mengucapkan pidato perpisahan.

Sekolah yang didirikan oleh hewan-hewan itu, yang niatnya semula mulia yakni untuk mengatasi masalah dunia, ternyata hasilnya tidak sesuai dengan harapan. Hal ini disebabkan kurikulumnya dibuat seragam dan harus dipatuhi.

Penyeragaman berarti orang dipaksa untuk menyesuaikan diri dalam suatu kondisi yang belum tentu sesuai dengan karakternya. Penyeragaman hanya akan menimbulkan kesemuan.

Reformasi menyadarkan kita akan banyak hal, termasuk logika berpikir. Hal-hal yang dulu membuat kita menggeleng-gelengkan kepala, sekarang membuat kita mengangguk-angguk. Dulu kita menganggap, keseragaman adalah simbol dari kesatuan, rasa senasib sepenanggungan. Pakaian diseragamkan, sepatu diseragamkan, bahkan topi pun diseragamkan. Semua dibuat seragam. Bila tidak, berarti tidak ada persatuan dan kesatuan.

Belakangan disadari penyeragaman justru menyuburkan perbedaan, semakin dipaksakan untuk seragam semakin tumbuh rasa perbedaan. Susahnya, perbedaan yang ditekan tidak muncul kepermukaan, tapi ibarat sebuah gunung es. Yang muncul hanya sedikit sedangkan yang di bawah permukaan laut dan tidak kelihatan, jangan tanya. Kapal mewah sekelas Titanic pun ditenggelamkannya ke dasar samudra.

Tidak dapat dipungkiri, pola integrasi dan interaksi sosial yang baru telah muncul. Pendidikan, teknologi komunikasi dan informasi, pola produksi, pola konsumsi, gaya hidup telah meningkat dan berubah. Kelas masyarakat baru yang muncul cenderung menghargai tinggi per-bedaan dan kemajemukan. Mereka menghargai persatuan dan kesatuan, tetapi tidak harus diukur dengan uni-formitas yang lebih banyak bersifat formalitas.

Pendiri bangsa kita sebenarnya telah secara sangat tepat merumuskan moto Bhinneka Tunggal Ika. Mereka menyadari kemajemukan masyarakat kita dan kemajemukan itu tidak mungkin diseragamkan. Kita berbeda-beda, tetapi tetap satu. Ada sesuatu yang mengikat perbedaan suku, bangsa, agama, dan bahasa. Sesuatu itu harus tumbuh dari kesadaran bahwa kita sebangsa dan setanah air. Bersatu dalam perbedaan adalah pola integrasi yang paling manusiawi. Oleh karena itu, paradigma baru pemerintahan kita, yakni otonomi daerah, pada dasarnya adalah manifestasi dari apreasiasi kita yang semakin baik terhadap perbedaan. Permasalahan di suatu daerah tidak sama dengan daerah lainnya, sehingga menyamaratakan dan menyeragamkan, adalah pendekatan dengan pemaksaan kehendak. Setiap orang diperkenankan untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan keberadaan sebagai manusia yang memang diciptakan berbeda satu dengan yang lainnya.

Dalam melihat sebuah gambar yang sama misalnya, orang bisa berbeda interpretasi. Tentu tidak ada yang salah dan benar. Orang yang arif akan bilang, saya bisa menghargai pandangan Anda dan Anda menghargai pandangan saya. Jadi ada kesadaran adanya perbedaan persepsi. Perbedaan ini mestinya disyukuri, karena kita bisa menjelaskan apa yang kita lihat. Orang lain juga bisa membantu kita menjelaskan apa yang dia lihat. Ada proses interaksi untuk penajaman pandangan.

Kata orang bijak perbedaan pendapat adalah kawan berpikir. Anda tidak akan memperoleh apa-apa bila anda berdebat dengan seseorang yang setuju dengan pandangan Anda. John F. Kennedy agaknya berlebihan memandang kekuatan heterogenitas itu, tetapi bahwa heterogenitas membuat orang bertambah maju, memang bukan lagi sekadar hipotesa.

(17-23 September 1999)


Tulisan ini sudah di baca 142 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Berhutang Pada Rakyat

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Berhutang-Pada-Rakyat/50-Menghargai-Perbedaan.html