drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Berhutang Pada Rakyat | Bagian : 0

Prakata Penulis


Oleh : drh.chaidir, MM

Kerajaan Melayu Riau tempo dulu terkenal dengan tradisi sastra yang tinggi. Hal itu dapat dilihat dari munculnya karya-karya sastra yang luar biasa seperti "Gurindam Duabelas" yang ditulis oleh Raja All Haji. Sastra berkembang karena kala itu tradisi tulis-menulis di kalangan sastrawan dan intelektual Melayu juga telah tumbuh dengan subur.

Dibukanya keran keterbukaan publik dan pers sejak saat-saat awal gerakan reformasi tahun 1998, telah pula memunculkan ratusan koran dan tabloid. Bahkan kota-kota kecil di daerah pun telah memiliki koran, baik berbentuk harian mapun tabloid mingguan. Tak terkecuali di Riau, penerbitan koran dan tabloid tumbuh dengan subur. Ini menguntungkan tidak hanya bagi masyarakat yang haus akan informasi yang bebas dan independen, tetapi juga bagi penulis-penulis yang selama ini tidak dapat mengekspresikan pemikiran mereka karena terbatasnya media dan ruang gerak.

Kini tradisi menulis yang dulu dimiliki oleh cerdik cendekia Melayu itu tampaknya memperoleh atmosfer yang baik dengan banyaknya media, baik cetak maupun elektronik. Kebebasan menulis pun dibuka selebar-lebarnya. Pengembangan intelektualitas seakan memperoleh ladang yang subur.

Motivasi untuk menjadi bagian dari tradisi tulis-menulis itu, menjadi pendorong bagi saya untuk terus memelihara kegemaran menulis. Wahana cukup tersedia, problematika yang mengundang wacana selalu ada pula sebagai bahan penulisan, tidak akan pernah habis-habisnya dalam masyarakat kita yang bergerak maju dengan cepat dan kadang-kadang terlihat dalam gerak-gerik yang aneh.

Di tengah masyarakat yang sedang berada dalam masa transisi sekarang ini, saya beruntung berada di Lembaga Perwakilan Rakyat. Posisi itu membuat saya terpaksa harus bersentuhan dengan berbagai problematika dalam masyarakat lokal dan kemudian berinteraksi dengan manusia-manusianya.

Pengalaman berinteraksi dengan sesama anggota di DPRD yang multipartai juga memberikan saya kesempatan untuk belajar lebih banyak lagi tentang sesuatu yang tidak saya miliki, sebab masing-masing anggota memiliki karakter yang berbeda. Masing-masing anggota, karena latar belakang yang berbeda, seperti suku, agama, adat istiadat,lingkungan masyarakat, dan pendidikan, berbeda pula caranya merespon suatu masalah.

Pengalaman itu seringkali menjadi bahan renungan dan mendorong saya untuk mengekspresikannya dalam bentuk esai lepas. Demikian pula terhadap perilaku masyarakat kita umumnya yang kurang mampu memberikan apresiasi memadai terhadap makna perbedaan. Ada kata-kata bijak dari tetua kita: "Belajarlah dari kesalahan orang lain; karena Anda tidak akan punya waktu untuk mempelajari sendiri semua hal". Dalam aspek tertentu, menulis bagi saya merupakan kesempatan untuk belajar dan mendalami lebih jauh makna di balik peristiwa.

Sesungguhnya, tulisan-tulisan yang dirangkum dalam buku ini adalah tulisan-tulisan lepas yang saya tulis setiap minggu sebagai catatan akhir pekan di Tabloid Serantau yang terbit di Pekanbaru. Tidak pernah terlintas dalam pikiran bahwa catatan-catatan itu akan dibukukan, sampai kemudian beberapa orang wartawan yang mangkal di DPRD dan beberapa kawan, menyarankan agar tulisan itu dibukukan. Alasannya seoerhana sekali: terlepas dari muatannya, rasanya sayang kalau catatan-catatan itu hilang demikian saja. Anggap sajalah itu sebagai sebuah buku kumpulan "Catatan dibuang sayang", kata mereka. Kawan yang lain memompa semangat dengan mengatakan bahwa buku ini barangkali bisa sebagai bacaan alternatif di kala senggang.

Keberatan saya semula, sebenarnya disebabkan karena saya sendiri sulit menemukan tema sentral dari catatan-catatan akhir pekan itu. Sebab catatan-catatan itu umumnya merupakan refleksi terhadap situasi dan kondisi yang berkembang di tengah masyarakat. Kita semua menyadari betapa sulitnya memotret perilaku masyarakat kita dalam kurun waktu menjelang akhir tahun 1999 sampai dengan awal 2001, kurun di mana catatan-catatan perenungan ini ditulis. Perubahan yang terjadi di tengah masyarakat demikian revolusionernya walaupun semua belum mau mengakui bahwa ini adalah sebuah revolusi.

Dalam kurun waktu itu, perubahan di tengah masyarakat berlangsung cepat. Peristiwa demi peristiwa yang tidak akan terlupakan terjadi silih berganti. Hal-hal yang luar biasa terjadi, termasuk peristiwa-peristiwa yang merupakan tragedi bagi peradaban kemanusiaan. Yang luar biasa itu misalnya, terpilihnya Abdurrahman Wahid yang lebih popular dengan panggilan Gus Dur sebagai Presiden Republik Indonesia yang keempat melalui pemilihan yang sangat demokratis dalam Sidang Umum MPR awal Oktober 1999.

Siapa pun mengetahui riwayat perjalanan hidup Gus Dur di panggung politik Indonesia, seorang politikus yang kiai atau kiai yang politikus. Intelektualitasnya tidak diragukan, tapi dia punya hambatan physically. Penglihatannya tidak berfungsi normal, semua orang tahu itu, termasuk anggota MPR-RI yang memilihnya.

Harapan krisis multidimensi akan dapat dituntaskan dengan segera, mekar di awal kepemimpinan Gus Dur. Kerusuhan, terutama di ibu kota, serta merta turun. Orang percaya bahwa Gus Dur adalah resepnya, Gus Dur adalah seorang tokoh pemersatu. Namun rupanya itu tidak berlangsung lama. Gus Dur ternyata tidak bisa menghilangkan kebiasaannya untuk berbicara cepas-ceplos. Pernyataan-pernyataannya yang sering kontroversial menjadi makanan empuk bagi kalangan pers, yang di era reformasi ini hampir tidak ada remnya sama sekali. Maka pelintiran demi pelintiran pun semakin menjadi-jadi. Dan inilah awal dari sebuah kompleksitas yang menjadi sejarah nasional kita.

Para pengamat juga seringkali kecele menganalisis sepak terjang presiden, apalagi saya sebagai seorang penulis lokal yang hanya mengandalkan informasi dari media cetak dan elektronik. Oleh karena itu, akibat perkembangan keadaan yang berlangsung sangat cepat dan dinamis, apalagi dikaitkan dengan komentar-komentar Gus Dur yang luar biasa menariknya, catatan-catatan akhir pekan saya di Tabloid Serantau adakalanya terlihat terlepas antara satu dengan lainnya. Hal ini disebabkan adanya perkembangan pemahaman terhadap suatu isu atau permasalahan.

Tragedi kemanusiaan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya, seperti peristiwa yang terjadi di Maluku dan Sampit, Kalimantan Tengah, yang terekam dengan baik oleh media informasi, acapkali mempengaruhi emosi saya saat menulis. Tidak hanya kita, tetapi juga seluruh dunia seakan tidak percaya tragedi itu betul-betul terjadi. Bagaimana mungkin orang-orang Indonesia yang selalu dijuluki sebagai the smilling people, orang-orang yang mu-rah senyum, bisa menjadi pemberang dan baku bunuh. Itu pula yang menyebabkan nuansa ketidakpercayaan terhadap apa yang terjadi di Maluku dan Kalimantan Tengah itu seringkali menjadi ilustrasi dalam beberapa catatan.
Kemungkinan adanya duplikasi ilustrasi tidak terhindarkan. Hal ini disebabkan karena keseluruhan catatan ditulis dalam rentang waktu akhir tahun 1999 sampai dengan awal 2001. Di sarnping itu ada beberapa hal yang barangkali sudah berbeda dengan situasi dan kondisi pada hari ini. Lingkungan masyarakat cepat sekali berubah, demikian pula panggung politik. Bintang-bintang panggung naik turun silih berganti.

Untuk sedikit membantu memudahkan pembaca, isi buku ini dibagi dalam lima bagian. Bagian pertama bertajuk "Demokratisasi dan Masyarakat yang Sedang Berubah. Catatan-catatan yang dikelompokkan dalam bagian ini merupakan refleksi terhadap demokratisasi yang sedang berlangsung dalam masyarakat yang sedang dilanda euforia. Demokrasi diberi makna yang sangat lebar dan reformasi itu sendiri pada segmen tertentu dari para pelakunya berubah menjadi komoditas.

Bagian kedua, "Riau dan Konflik Kepentingan". Tidak bisa dihindari untuk memperkatakan adanya konflik kepentingan di Riau. Ibarat gula dan semut, Riau adalah gulanya. Sebagai daerah yang kaya sumber daya alam, tetapi masyarakat lokalnya termarjinalkan, Riau menjadi menarik sebagai bahan penulisan dengan kompleksitas problematikanya, dan saya sendiri merupakan bagian kompleksitas itu.

Bagian ketiga, "Tokoh dan Inspirasinya", memuat catatan-catatan tentang beberapa tokoh yang muncul di "panggung" dan kontekstual untuk diperkatakan. Tokoh-tokoh ini sudah barang tentu bukan mewakili komunitas tertentu, melainkan tokoh yang demikian saja muncul dalam gagasan saya dan ingin saya perkatakan. Di sana ada Gus Dur yang humoristik, ada Dr. Mahathir Mohamad dari negeri jiran, juga ada Albert Einstein yang oleh majalah Time dipilih sebagai "Manusia Abad XX".

Bagian keempat, "Masyarakat dan Perilakunya". Catatan-catatan yang dimasukkan dalam kelompok ini merupakan catatan permenungan terhadap perilaku masyarakat kita yang sedang berubah cepat. Apa saja yang berubah dengan cepat selalu akan membawa dampak bagi sesuatu itu sendiri dan lingkungannya, tak terkecuali masyarakat dimana kita merupakan penumpang di dalam gerbongnya yang sedang bergerak laju.

Bagian kelima dari buku ini merupakan catatan religius tentang Ramadan, Idul Fitri, dan ibadah Haji. Masyarakat Riau di mana saya lahir dan dibesarkan adalah masyarakat yang religius. Dan lingkungan itulah yang mempengaruhi alam pemikiran saya dan menjadi bingkai daya cipta sampai kapan pun.

Dengan diterbitkannya buku ini, saya ingin menyampaikan penghargaan kepada kawan-kawan yang telah memberikan dorongan moril kepada saya untuk terus menulis. Komentar kawan-kawan terhadap catatan akhir pekan saya di Tabloid Serantau selalu membesarkan hati saya dan selalu menjadi dorongan kuat bagi saya.

Drs. Indrasal, Pemimpin Redaksi Tabloid Serantau adalah penggagas penyediaan halaman bagi saya setiap minggu. Oleh karena itu, kepada Indrasal dan kawan-kawan pengasuh Tabloid Serantau yang senantiasa memberikan dorongan sekaligus kritik terhadap catatan saya, saya memberikan penghargaan. Deringan telepon dari Indrasal yang mengingatkan saya terhadap deadline, selalu membuat saya kalang kabut, tapi saya menikmati itu.

Pengorbanan istri saya, Hj. Yulianti, S.H. yang dengan tulus selalu membiarkan saya "tenggelam" di ruang kerja bergelut dengan komputer, sangat mengesankan. Dia sangat memahami karakter saya yang selalu ingkar. Janji saya untuk menyusulnya ke kamar 10 menit lagi biasanya molor sampai satu jam dan biasanya saya dapatkan dia sudah lelap. Saya sungguh tidak bisa kompromi dengan Chaleed, putraku yang paling kecil, yang tak kuasa saya tolak ajakannya untuk tidur. Apa yang saya lakukan kemudian adalah diam-diam kembali ke ruang kerja bila dia sudah pulas. Chaleed, saat kau dewasa nanti, kau akan mengerti. Rimba, Lingga, dan si Tomboy Hanna Rauda, mudah-mudahan kalian bangga dengan buku ini.

Terus terang saya tidak bisa menyembunyikan kegembiraan saya atas kesediaan Prof. Dr. Ichlasul Amal, M.A. untuk memberikan kata pengantar dalam buku ini. Kontribusi Mahaguru UGM Yogyakarta, almamater saya ini, sungguh tak ternilai harganya. Untuk itu setulus hati saya menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih yang tak terhingga.

Sahabat saya Mahyudin Al Mudra, S.H., M.M. putra Riau yang kini bermukim di Yogya, adalah kawan diskusi yang hangat. la bersama istrinya Ir. Tuti Sumarningsih, ST., M.T., membaca dengan teliti kata demi kata dalam naskah ini dan memberikan koreksi yang membesarkan hati. Pimpinan Penerbit Adicita Karya Nusa Yogyakarta ini juga memberikan sumbangan pemikiran dalam penyuntingan dan perwajahan, sekaligus menerbitkan buku ini. Saya merasa berutang budi kepada mereka berdua.

Terakhir, semogalah buku ini bisa memperkaya khazanah wacana tentang aspirasi masyarakat di daerah yang tiada pernah berhenti memperkatakan nasibnya yang seringkali terabaikan.

Pekanbaru, 29 Mei 2002


drh. Chaidir, M.M.



Tulisan ini sudah di baca 119 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Berhutang Pada Rakyat

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Berhutang-Pada-Rakyat/48-Prakata-Penulis.html