drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Berhutang Pada Rakyat | Bagian : 0

Pengantar Penerbit


Oleh : Mahyudin Al Mudra, S.H., M.M.

Besarlah batang sagu bertampin
Bila dikerat mati ujungnya
Besarlah hutang para pemimpin
Dunia akhirat kan ditanggungnya, *)


Berbeda dengan "energi luar" yang bisa langsung menghempaskan segala sesuatu yang ada disekitarnya, "energi dalam" adalah kekuatan yang ttdak bisa kita lihat dengan seketika. Kita baru akan menemukannya, dan mungkin terkaget-kaget dibuatnya setelah masuk lebih dalam, mengenal lebih jauh, dan mengikuti alur lika liku yang dimilikinya. Menemukan energy dalam adalah pengalaman yang mengesankan dan selalu membuat kita merasa dibangkitkan dari kerutinan panjang yang melelahkan.

Energi seperti inilah yang akan kita temukan pada sosok Chaidir dengan tulisan-tulisannya. Sikapnya yang santun, tutur katanya yang sederhana, serta keseluruhan penampilan kesehariannya yang "biasa-biasa saja", membungkus keluasan dan kedalaman wawasannya menjadi energi yang baru bisa kita lihat setelah membaca buah pikiran dan perenungannya.

Mengikuti tulisannya dari halaman ke halaman, kita akan diajak merambah ke semesta pemikiran yang sangat luas. Menukik jauh ke dasar samudra, meniti ufuk dikaki langit, dan suatu ketika menembus awan menuju ke angkasa. Amat jelas tergambar kepekaannya pada gejolak yang terjadi di masyarakat sekitarnya. Bukan saja gejolak yang kasat mata, namun juga gejolak batin dan perenungan yang menyertainya.

Buku ini jelas bukan textbook politik, ekonomi, sosiologi, ataupun filsafat humaniora - bahkan dengan rendah hati penulisnya mengatakan ia sulit menemukan tema sentral dari catatan-catatan lepas yang ditulisnya setiap akhir pekan di Tabloid "Serantau", Pekanbaru - namun keluasan dan kedalaman wawasan penulis serta kepiawaiannya memotret dan menganalisa fenomena tersebut menjadikan buku ini semacam "modul" yang mampu mengantarkan pembaca mengikuti "kursus kilat" untuk memperoleh pemahaman hakiki atas masalah-masalah yang disebutkan di atas.

Salah satu kelebihan penulis, ia mampu membuat "jarak" terhadap objek tulisannya, suatu sikap yang memang harus dimiliki oleh seorang intelektual agar tidak biased dalam menjastifikasi sesuatu permasalahan. Hal ini terlihat ketika ia memperkatakan (meminjam istilah penulis) tentang "hutang" legislatif yang harus dibayar kepada rakyat, mengingat bahwa ia adalah ketua DPRD Tingkat I Riau dan sudah beberapa periode duduk di lembaga tersebut. Bahkan dengan tanpa beban ia juga mengkritisi perilaku sementara politisi di daerah maupun di pusat yang melanggar nilai-nilai hukum, moral, dan etika. Hal semacam ini sulit dilakukan oleh seseorang yang tidak memiliki keberanian untuk berkaca di depan cermin dan melihat kekurangan diri - dalam hal ini kelompok/golongan - nya sendiri, atau sebaliknya, hanya bisa dilakukan oleh orang yang berlaku "maling teriak maling".Dan rasanya, penulis bukanlah golongan yang disebutkan terakhir.

Meskipun banyak tulisan dari buku ini yang berangkat dari kasus lokal, namun penulis selalu saja mampu menariknya ke dalam konteks nasional, bahkan universal. Itulah sebabnya, walaupum penulis banyak berbicara tentang permasalahan yang terjadi di Riau yang ditulis dalam kurun waktu tahun 1999 - 2001, tulisan ini tetap relevan untuk dibaca siapa pun yang memiliki kepedulian terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara, karena sesungguhnya yang dibicarakan adalah permasalahan kemanusiaan dan kebangsaan yang bisa terjadi di mana pun di bumi Indonesia.

Tulisan dalam buku ini diperkaya dengan pantun, kata-kata bijak, dan ajaran filosofis yang berpendar ke sanubari kita, menjadi mutiara hidup yang sangat berharga untuk diresapi dan diamalkan. Gaya bertutur penulis yang kental dengan warna Melayu - sekaligus populer dan kosmopolit - dalam penyuntingan sengaja dipertahankan, karena merupakan kekayaan budaya bahasa yang tidak mudah ditemukan pada penulis lain. Pembaca juga bisa mengikuti suasana batin penulis melalui gaya bertuturnya, yang suatu ketika ringan, kocak, dan "gaul", sementara di lain ketika diekspresikan dalam kalimat-kalimat panjang yang sarat dengan pemikiran moral-etis-filosofis.

Akhirul kata, semoga buku ini bisa menghadirkan sesuatu yang baru ke hadapan pembaca. Harapan yang lebih besar, semoga perenungan-perenungan "budak Melayu" ini merupakan sumbangan permikiran yang berharga bagi kehidupan berbangsa dan bernegara kita di masa mendatang, yang tengah menghadapi tantangan demikian besar.
Kepada penulis yang telah mempercayakan pengolahan dan penerbitan naskah berharga ini kepada kami, Penerbit Adicita Karya Nusa menyampaikan terima kasih tak terperi: jika kecil telapak tangan, nyiru pun kami tadahkan. Kami bangga mempersembahkan buku ini kepada pembaca. Tahniah.




Jogjakarta, 29 Mei 2002
Mahyudin Al Mudra, S.H., M.M.





*; Diambil dari: "Tunjuk Ajar Dalam Pantun Melayu" oleh Tenas Effendy.


Tulisan ini sudah di baca 113 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Berhutang Pada Rakyat

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Berhutang-Pada-Rakyat/46-Pengantar-Penerbit.html