drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

1001 Saddam | Bagian : 6

Dying Young


Oleh : drh.chaidir, MM

DYING YOUNG adalah sebuah judul film yang ceritanya cukup memukau. Dying Young - sedang menuju ke kematian muda, begitu kira-kira maksud pengarang cerita film itu. Yang namanya sebuah karangan, pengarangnya tentu mengarang-ngarang, dan dia sangat piawai mengarang-ngarang sehingga karyanya sangat memikat ketika diangkat ke layar perak. Kisah kematian muda juga dikarang-karang dalam banyak versi. Coba ikuti kisah percintaan Romeo and Juliet yang legendaris itu, yang mengilhami berbagai kisah percintaan anak manusia berabad-abad kemudian. Kisah percintaan dalam film nasional Pengantin Remaja yang dibintangi Sophan Sophian dan Widyawati diawal 70-an, yang kemudian sungguh-sungguh menjadi pasangan suami-istri dalam dunia nyata, juga berkisah tentang kematian muda. Kematian muda memang tragis, menyedihkan, diratapi, dan berurai air mata.

Penyesalan yang menyesakkan dada adalah bagian yang tak terpisahkan dari kisah-kisah itu. Impian, cita-cita, harapan, dan khayalan-khayalan indah semua ikut terkubur. Suasana pasti menjadi (bisa) sangat emosional, tapi apa hendak dikata, nasi telah jadi bubur. Dalam hidup dan kehidupan, kematian muda tidak hanya menjadi milik manusia secara physically semata. Kata-kata itu juga menjadi sebuah hiperbola dalam kisah yang bernama reformasi. Ya, reformasi. Kendati reformasi bukan makhluk, tapi dia bisa mati muda.

Lima tahun yang lalu, di bulan Mei yang suram, tercatatlah kisah yang berdarah-darah, tetapi itu sekaligus merupakan casus belli dalam gerakan reformasi yang ditulangpunggungi mahasiswa dan merubah sejarah bangsa. Sejak saat itu rezim Soeharto yang telah berkuasa selama 32 tahun dan dianggap represif dan otoriter, runtuh. Era demokratisasi dan transparansi menyingsing menggairahkan dan mempesona, semua hati berbunga-bunga. Kita telah memasuki sebuah era baru, harapan mengembang, mimpi-mimpi indah melingkupi suasana hati. Namun baru lima tahun berlalu ketika peristiwa-peristiwa berdarah-darah itu masih segar dalam ingatan, kalangan pesimistis memvonis: reformasi sedang menuju ke kematian muda, bahkan ada yang sangat ekstrem menyebutkan, memang telah mati muda!

Sebuah perubahan besar, entah itu reformasi yang kita alami, entah itu sebuah revolusi, menurut Ali Syariati, seorang tokoh reformasi Iran yang pernah bermukim di New York, selalu berisi dua hal, yakni darah dan pesan. Apa yang ditulis oleh Ali Syariati agaknya tidak perlu diragukan. Kita memiliki sejarah yang panjang tentang perubahan-perubahan besar itu dan kita juga memiliki sejarah yang berjela-jela tentang perjuangan yang bermandi darah dan air mata. Tapi pesan dari sebuah gerakan perubahan? Messages perjuangan? Agaknya tidak berlebihan, hanya pesan "merdeka" dari perjuangan merebut kemerdekaan yang demikian mematri di dada setiap manusia Indonesia, sedangkan perjuangan-perjuangan setelah itu yang sebenarnya berhasil membawa perubahan-perubahan yang signifikan, cepat sekali pudar laksana lagu pop cengeng yang hanya populer semusim, setelah itu tenggelam. Gerakan sosial atau people power tahun 1966, 1974, 1978, 1998 yang dimotori oleh mahasiswa sebenarnya membawa pesan yang tidak jelek. Pesannya bagus. Gerakan reformasi tahun 1998 misalnya, jelas agendanya. Paling tidak ada enam agenda besar yang merupakan pesan yang diusung oleh mahasiswa, (1) turunkan Soeharto; (2) berantas Korupsi Kolusi Nepotisme (KKN); (3) hapuskan Dwi Fungsi ABRI; (4) demokrasi politik; (5) demokrasi ekonomi dan (6) tegakkan supremasi hukum. Dari enam agenda tersebut, sesungguhnya sebagian besar, secara kuantitas, telah tercapai namun ruh dari gerakan tersebut, yakni pemberantasan KKN dan penegakan supremasi hukum, sehingga tercipta suatu pemerintahan yang memiliki akuntabilitas yang tinggi dalam bentuk good governance dan clean government, masih jauh dari harapan. Padahal itulah pesan dari darah yang telah tumpah dan anak-anak muda yang gugur sebagai martir di awal gerakan reformasi ini. Sayang sekali pesan yang pada awalnya murni itu, kini telah ditunggangi dengan berbagai macam pesan kepentingan yang justru kontraproduktif dengan pesan-pesan reformasi itu sendiri.

Sebuah kontemplasi tentu layak kita lakukan bersama. Kambing hitam ada dimana-mana kalau kita hanya mau sekadar mencari kambing hitam, tapi pertanyaan yang mendasar adalah, adakah itu akan menyelesaikan masalah? KKN ternyata tidak hanya milik rezim, dia ada dimana-mana, semua rezim memiliki peluang yang sama untuk melakukannya. Tapi kalau kita sedikit lebih bersedia melakukan perenungan yang lebih mendalam, bentuk KKN seperti apa sesungguhnya yang bertentangan dengan hukum yang ingin kita tegakkan supremasinya itu. Apakah penunjukan Ali Khameini, anak kandung Ayatullah Khomeini, sebagai pemimpin para mullah di Iran menggantikan Ayatullah Khomeini, tergolong nepotisme? Padahal Iran telah berhasil membentuk negara republik dengan meruntuhkan monarchi absolut Iran di bawah Raja Diraja Shah Iran. Ali Khameini sukses memimpin Iran dan dicintai rakyatnya. Adakah penunjukan Lee Shien Long sebagai salah seorang menteri yang disebut-sebut akan menggantikan ayahandanya Lee Kwan Yew sebagai Perdana Menteri Singapura, oleh partainya People Action Party (PAP) juga tergolong derivat nepotisme? Tidak ada orang yang meragukan bagaimana briliannya Lee Shien Long. Haramkah bagi Samudra Sukardi memimpin Garuda Indonesia, bila itu diperoleh melalui kemampuannya, yang tidak ada sangkut pautnya dengan pertolongan saudara kandungnya, Laksamana Sukardi, yang kebetulan Menteri BUMN?

Memberi peluang atau membantu famili dalam konsep Islam adalah sunnah rasul. Adakah itu bentuk KKN yang diharamkan ^ Agaknya, ilustrasinya bisa menjadi panjang dan panjang sekali. Lantas, apakah dengan demikian kita anggukkan saja KKN itu? Tentu tidak. Sekali lagi, pemberantasan KKN dan penegakan supremasi hukum itu adalah ruh dari gerakan reformasi yang telah menumpahkan darah dan air mata.

Nepotisme memang negatif, tetapi dalam contoh Ali Khameini atau Lee Shien Long itu, nepotisme menampakkan wajah lain. Analog dengan itu agaknya adalah pandangan umum terhadap feodalisme, suatu bentuk tatanan sosial politik yang memberikan peran besar kepada bangsawan. Dalam bentuk yang paling ekstrem, apa yang menjadi titah raja menjadi wajib dipatuhi. Misalnya, sang raja bisa menjatuhkan hukuman mati bila menurutnya orang tersebut layak dihukum mati. Semua tergantung raja. Tapi era seperti itu sudah lama lewat. Raja di zaman modern ini tidak pernah bertitah yang aneh-aneh, yang menonjol justru keteladanan, sehingga membuat rakyatnya respek. Lihatlah Ratu Elizabeth di Inggris, Raja Bhumibol di Thailand, atau Raja Malaysia, Yang Dipertuan Agung. Itu pulalah agaknya yang terjadi pada Ali Khameini atau Lee Shien Long, mereka berhasil membangun keteladanan, menegakkan keadilan, dan tidak hipokrit.

Pesan nabi berikut ini agaknya memang sangat menarik untuk kita renungkan: Korupsi ulama berupa ketidakpedulian, korupsi penguasa bernama ketidakadilan, dan korupsi kaum sufi adalah kemunafikan. Susahnya dalam masyarakat kita sekarang, yang namanya ketidakpedulian, ketidakadilan, dan kemunafikan tidak hanya menjadi stigma ulama, penguasa, dan kaum sufi saja. Semuanya tidak lagi hitam putih. Pemimpin informal masyarakat pun, pemimpin kelompok, pemimpin kafilah yang demikian beranekaragam dalam masyarakat dengan berbagai identitas, kalau kita mau jujur juga, memiliki stigma yang sama.

Reformasi menurut saya masih ada, paling tidak, paradigma pemerintahan kini telah berubah dan itu adalah buah reformasi. Masyarakat tidak lagi takut bersuara, mereka sangat paham akan haknya walaupun kadang abai terhadap kewajibannya sebagai anggota masyarakat. Kita memang tidak mungkin meraih semua yang kita inginkan sekaligus. Umar bin Abdul Azis dari dinasti Bani Umaiyah yang mencoba melakukan reformasi dengan memperbaiki manajemen pemerintahan setelah masa kekhalifahan para sahabat Nabi, juga gagal karena konflik internal. Masa keemasan Islam itu baru datang setelah dinasti Bani Abbasiyah di bawah Khalifah Harun Al Rasyid, dengan pilar utamanya pengembangan sumber daya manusia.

Bersabarlah! Perbaiki niat! Berikan keteladanan! insya Allah pesan reformasi akan terus hidup.

(18 Mei 2003)


Tulisan ini sudah di baca 178 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku 1001 Saddam

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/1001-Saddam/192-Dying-Young.html