drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

1001 Saddam | Bagian : 6

Belajar Melihat Gajah


Oleh : drh.chaidir, MM

Gajah adalah sejenis satwa ukuran raksasa, tapi tidak selamanya mudah terlihat, apalagi kalau sudah berada di pelupuk mata. Sementara tungau, makhluk sejenis parasit yang ukurannya sehalus butiran debu, justru terlihat dengan mudah walaupun nun jauh di seberang lautan. Ah! Itu tidak mungkin. Mana mungkin tungau di seberang lautan nampak, dan manalah pula mungkin gajah berada di pelupuk mata, sebesar apa itu mata. Atau mungkin gajahnya yang sebesar tungau sehingga bisa nangkring di pelupuk mata. Tapi itulah kiasan. Orang kita dulu-dulu memang pintar membuat perumpamaan. "Tungau di seberang lautan nampak, gajah di pelupuk mata tak kelihatan". Perumpamaan ini dengan tepat menggambarkan betapa kesalahan orang lain dapat mudah terlihat tapi kesalahan diri sendiri tidak terlihat.

Dalam bentuk yang berbeda kata tapi sama makna, "hitunglah kesalahan sendiri sebelum menghitung kesalahan orang lain". Lakukan introspeksi sebelum melakukan inspeksi. Menghitung kesalahan orang lain mudah, tapi menghitung kesalahan diri sendiri memerlukan kesadaran dan kedewasaan emosional, dan itu seringkali sulit bin zzzulit.

"Tungau" kelompok lain bisa kita hitung dengan mudah bahkan kalau perlu sampai sembilan nolnya, tapi yang namanya "gajah" kelompok sendiri selalu luput. Artinya, kesalahan orang lain, atau kelompok lain, atau partai lain, bisa dengan mudah dihitung, tapi kesalahan orang kita, kelompok kita atau partai kita, sulit menghi-tungnya. Kesalahan kelompok kita bahkan bisa dijusti-fikasi, dengan kata lain dicarikan pembenarannya. Jadi jangan heran bila sebuah kesalahan, suatu saat bisa disulap menjadi tampak sebagai sebuah kebenaran.

"Melihat tungau di seberang lautan", tidak usah ada pembelajaran. Semua orang bisa melakukannya. Bukankah sekarang banyak ditemukan maling teriak maling? Banyak yang mengaku reformis, tapi perilakunya bukan seorang reformis, bahkan sesungguhnya tidak lebih dari sekadar konsumen reformasi. Reformasi hanya dipergunakan sebagai tameng untuk menutupi maksud-maksud yang tersembunyi. Banyak yang meng-aku prodemokrasi tetapi tindak tanduknya na'uzubillah. Banyak yang mempropagandakan "manajemen qolbu", tapi mereka sesungguhnya tidak paham hakikat manajemen qolbu itu sehingga tindak tanduknya justru mencemari kesucian manajemen qolbu itu sendiri.

Mudah ditemukan di tengah masyarakat kita bagaimana seseorang membungkus kepentingan-kepentingan pribadi atau kelompoknya dalam "jaket" reformasi, bahkan tidak segan-segan berlindung di balik kepentingan publik atau kepentingan rakyat. Di depan, dialah yang paling reformis berjuang untuk rakyat, dialah yang paling demokratis, dialah yang paling suci, bicaranya lantang, kritiknya pedas, tetapi sesungguhnya ada udang di balik batu. Di belakang layar, dia melakukan bargaining untuk mendapatkan keuntungan-keuntungan pribadi atau kelompok. Kredibilitas dan integritasnya digadaikan.

Perilaku sosial seperti ini sesungguhnya karakter dari sebuah masyarakat atau individu yang belum tercerahkan, masyarakat yang sakit. Tetapi itu sebuah realitas sosial yang jamak kita temui dewasa ini dan harus kita hadapi. Tapi tunggu dulu. Jika alur pikirnya demikian, nampaknya tidak boleh lagi ada kritik, tidak boleh lagi ada koreksi. Itu juga salah. Kritik tetap diperlukan, bahkan mutlak. Tanpa kritik, demokrasi akan mati, reformasi akan tinggal kenangan. Tapi, kritik dalam lingkungan masyarakat yang tercerahkan tetap memiliki sebuah demarkasi. Ada koridor di mana kritik memiliki halaman. Keluar dari halaman itu, dia akan bernama fitnah. Koridor itu adalah fakta atau argumentasi yang obyektif dan bernas, benar katakan benar salah katakan salah.

Kita tidak lagi bisa mengatakan bahwa kita berbudaya dan bermartabat, bila siapa saja boleh mengatakan apa saja, boleh menghujat siapa saja, dengan atau tanpa fakta. Dasarnya adalah suka atau tidak suka dan pra-sangka. Prasangka yang dikemas menjadi fakta jelas ha-nya ulah petualang-petualang. Apabila pernyataan petualang ini yang kemudian kita angkat menjadi sebuah wacana, maka pada dasarnya kita semua telah menjadi petualang.

Kritik yang hanya bersandar pada perasaan negatif atau prasangka terhadap orang lain atau kelompok lain adalah sebuah ilusi. "Setiap kali anda mempunyai perasaan negatif terhadap orang lain, sebenarnya anda hidup di dalam suatu ilusi", kata Anthony de Mello. "Di dalam diri anda ada suatu ketidakberesan yang serius. Anda tidak melihat kenyataan yang sesungguhnya. Ada sesuatu di dalam diri anda yang harus diubah. Dunia sekeliling kita baik-baik saja. Yang harus diubah adalah diri anda".

Anthony de Mello agaknya benar. Kritik berbalas pantun tidak akan menyelesaikan masalah, karena sesungguhnya masyarakat sudah dapat menilai mana yang pialang mana yang petualang. Percuma saja berlindung di balik sehelai ilalang. Yang pertama harus kita lakukan adalah berusaha mencari solusinya di dalam diri kita sendiri, di dalam cara berpikir dan sikap mental kita sendiri. Introspeksi mestinya didahulukan dari inspeksi. Sebab inspeksi berarti pemeriksaan dengan saksama terhadap orang lain, meneliti apakah peraturan dipatuhi, atau apakah pekerjaan dilakukan sebagai-mana mestinya. Sedang introspeksi berarti peninjauan ke dalam, atau koreksi terhadap diri sendiri, koreksi terhadap perbuatan, sikap, kelemahan, kesalahan yang dibuat sendiri, dan seterusnya.

Perumpamaan gajah dan tungau itu agaknya tidak terlalu salah dalam situasi dan kondisi masyarakat kita dewasa ini yang banyak tenggelam dalam Conflict of interest. Kepentingan yang mengedepan bukan kepentingan masyarakat banyak, tapi kepentingan pribadi, kelompok, atau bahkan partai. Mungkin benar kata orang, kita sudah hampir kehilangan kecerdasan dan kearifan berpikir sama sekali.

Tapi sebagai entitas masyarakat yang kita anggap masih berbudaya, kita kan tidak mau tenggelam terus menerus dan tidak mau tidak tercerahkan. Mari kita menertawakan diri sendiri perihal kepicikan kita, kedunguan kita, kerakusan kita, dan seterusnya. Pelajaran pertamanya adalah mari belajar melihat gajah di pelupuk mata, agar nampak yang benar itu benar dan kita bisa mengikutinya, dan nampak yang salah itu salah agar kita bisa menghindarinya.

(17 November 2002)


Tulisan ini sudah di baca 125 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku 1001 Saddam

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/1001-Saddam/190-Belajar-Melihat-Gajah.html