drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

1001 Saddam | Bagian : 6

Mendung Fasti Berlalu


Oleh : drh.chaidir, MM

Ungkapan Thomas Jefferson agaknya patut kita simak baik-baik, tentang bagaimana seharusnya bersikap bila hati sedang panas dan emosi sampai ke ubun-ubun. "Kalau sedang marah", kata Thomas Jefferson, "berhitunglah sampai sepuluh sebelum berbicara, atau bahkan seratus kalau sedang marah sekali".

Hari-hari terakhir ini, para petinggi serumpun Indonesia-Malaysia sedang mempertontonkan kemarahannva. Perang pernyataan antara Jakarta dan Kuala Lumpur nampaknya tak terhindarkan, Awalnya bermula ketika Ketua MPR, Prof. Dr. Amien Rais, MA membuat pernyataan keras yang mengatakan bahwa hukuman cambuk kepada TKI ilegal di Malaysia itu tidak manusiawi dan menghina martabat Indonesia. Pernyataan ini kontan dibalas oleh Menteri Luar Negeri Malaysia, Syed Hamid Albar. Albar mengecam Amin sebagai ikut bertanggung jawab atas pengangguran WNI. Menlu ini kemudian mengimbau warganya untuk tidak berkunjung ke Indonesia karena sentimen anti Malaysia sedang merebak di Indonesia.

Gendang pun tingkah-bertingkah ketika Perdana Menteri Malaysia, Dr. Mahathir Mohamad menganggukkan kepala mengiyakan saran Menlunya. Sementara di Jakarta, Ketua DPR Ir. Akbar Tanjung menampakkan solidaritasnya dengan menyatakan sependapat pula dengan Amien. Untung Ibu Megawatt Soekarnoputri, Presiden kita, tidak gemar berpidato seperti ayahandanya, Bung Karno. Kalaulah sikapnya revolusioner juga seperti Bung Karno, maka situasi akan runyam.

Tetapi sesungguhnya iklim politik di rantau ini sekarang bukan lagi iklim revolusi seperti ketika Presiden Pertama RI Bung Karno mengklaim bahwa seluruh wilayah pulau Kalimantan harus masuk Indonesia. Padahal Sabah dan Sarawak di Kalimantan Utara ketika itu telah memutuskan bergabung dengan Malaysia. Pertelagahan itu akhirnya memicu konfrontasi dengan Malaysia. Untung "Perang Saudara" ini tidak berlangsung lama.

Semenjak pulihnya hubungan Indonesia - Malaysia pada tahun 1967, kedua negara kemudian semakin mesra. Tenaga kerja Indonesia pun dipermudah masuk ke Malaysia karena pada dasarnya Malaysia memang membutuhkan tenaga kerja. Malaysia pun menikmati hubungan kerja sama yang saling menguntungkan ini (symbiose mutualistic). Malaysia memerlukan tenaga kerja, Indonesia memerlukan lapangan pekerjaan, klop. Tetapi kemudian ada yang kebablasan. Para penyalur tenaga kerja di Indonesia ingin mencari untung yang sebesar-besarnya. Maka jurus akal-akalan pun dimulai. TKI tanpa dokumen diseberangkan dengan segala macam cara dan ini melibatkan suatu jaringan yang makin lama makin sistematis. Prinsipnya, "more risk more money" (semakin tinggi risiko semakin banyak uangnya). Para TKI yang lugu-lugu atau setengah lugu, juga ikut gila-gilaan tanpa memperhitungkan risiko, apalagi ada yang sudah berhasil dan bisa mengirimkan uang kepada keluarganya di Indonesia. Ada satu dua kapal yang tenggelam, atau tertangkap polisi di Malaysia. Itu nasib, begitulah pemahaman yang tertanam atau ditanamkan.

Pengusaha perkebunan atau apa pun di Malaysia konon juga tidak sedikit yang nakal pada mulanya. Mereka senang mempekerjakan TKI ilegal ini karena upahnya lebih murah daripada TKI resmi. TKI ilegal ini juga tidak akan berani menuntut macam-macam karena "tali aki" mereka sangat tergantung pada tauke. Bila tauke melapor kepada polisi maka tamatlah mereka. Menurut cerita dari berbagai versi, adakalanya bila tauke merasa harus mengeluarkan banyak ringgit untuk membayar upah TKI ilegal ini, maka sang Tauke memanggil polisi secara diam-diam untuk melakukan razia dan TKI ilegal ini pun lari lintang pukang.

Cerita yang sampai ke tanah air ada duka ada sukanya, tapi yang pasti lama-kelamaan para TKI ilegal yang masuk ke Malaysia semakin banyak, bahkan sampai ratusan ribu orang. Sesungguhnya, tenaga kerja ilegal ini tidak hanya TKI. Ada juga yang berasal dari Pakistan, Bangladesh dan juga Filipina, tetapi yang terbanyak memang dari Indonesia. Eksesnya pun semakin hari semakin merisaukan pemerintah Malaysia, seperti perkelahian, pembunuhan, perampokan, dan sebagainya. Maka Undang-undang baru keimigrasian (Akta Imigresen) pun disusun oleh Malaysia. Akta ini memberi pengampunan bagi "pendatang haram" sampai 31 Juli 2002. Bagi yang melanggar dikenai hukuman denda dan cambuk. Maka tercambuklah beberapa orang TKI yang kemudian membuat heboh itu.

Ketika TKI ilegal mulai bermasalah, dan Malaysia mulai memulangkan mereka ke Indonesia dalam beberapa tahun terakhir ini, Riau adalah daerah yang sering terkena getahnya. Pemerintah Provinsi Riau, Pemerintah Kota Dumai, dan Pemda Kabupaten Bengkalis telah beberapa kali harus membiayai pemulangan TKI tersebut ke Jawa. Banyak yang telah kembali ke Jawa atau ke daerah lain, tetapi juga tidak sedikit yang ngacir untuk kemudian kucing-kucingan menunggu kesempatan menerobos kembali ke Malaysia.

Riau memang secara geografis sangat dekat dengan Malaysia. Hanya dua jam naik ferry dari Dumai, kita sudah tiba di Melaka. Dengan pesawat fokker 27, Pekanbaru-Melaka bahkan hanya 45 menit. Oleh karena itu dua negeri serumpun ini memang banyak persamaannya. Latar belakang budaya, bahasa, agama, adat istiadat adalah faktor-faktor yang sulit membedakan antara keduanya. Dulu bahkan kedua negeri ini berada dalam "satu wilayah perekonomian" bersama Singapura.

Orang-orang Riau dan Sumatera Barat banyak yang memiliki hubungan keluarga dengan orang Malaysia, demikian juga sebaliknya. Pahlawan Nasional yang menjadi kebanggaan orang Riau, Tuanku Tambusai, bahkan wafat dan dimakamkan di desa Rasah, Seremban, Negeri sembilan. Tuanku Tambusai dikenal sebagai seorang ulama dan keluarganya cukup banyak tersebar tidak hanya di Negeri Sembilan tetapi juga di Negara Bagian lainnya di Malaysia.

Hubungan emosional antara Riau dan Malaysia sudah terjalin demikian dalam. Ketika hubungan Jakarta-Kuala Lumpur agak memanas, serombongan besar warga Negeri Sembilan Malaysia asyik menonton Lomba Pacu Jalur di Teluk Kuantan. Malamnya rombongan ini mendapat kehormatan dijamu di Gedung Daerah Provinsi Riau, disuguhi tari persembahan, dan esoknya berdarmawisata ke Benteng Tujuh Lapis, basis perjuangan Tuanku Tambusai di Rokan Hulu. Tidak ada sama sekali nuansa permusuhan. Yang menonjol justru nuansa persaudaraan. Ferry yang beberapa kali sehari melayari Selat Melaka dari Dumai ke Melaka pergi pulang juga tidak terpengaruh oleh perang pernyataan Jakarta dan Kuala Lumpur. Tapi kalau gajah sama gajah berantuk, kancil juga yang akan mati terjepit. Kalaulah Jakarta dan Kuala Lumpur tetap bersitegang, Riau pasti daerah yang paling menderita.

Saya percaya, Jakarta dan Kuala Lumpur tidak akan berbuat konyol. Mendung pasti berlalu. Kata orang bijak, kita tidak akan pernah menikmati sinar matahari bila tidak ada mendung. Tanggal 31 Agustus 2002 ini Hari Ulang Tahun Malaysia yang ke-45, mari kita ucapkan tahniah!

(1 September 2002)


Tulisan ini sudah di baca 119 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku 1001 Saddam

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/1001-Saddam/188-Mendung-Fasti-Berlalu.html