drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

1001 Saddam | Bagian : 6

TKI: Benci Tapi Rindu


Oleh : drh.chaidir, MM

Kalaulah Malaysia bisa pindah, agaknya mereka akan pilih pindah daripada bertetangga dengan Indonesia. Mereka selalu pening berurusan dengan pen-datang haram dari Indonesia yang tak pernah kunjung selesai. Tapi mereka mau pindah ke mana? Itu tidak mungkin, kan? Sudah menjadi nasib Malaysia berjiran dengan Indonesia, demikian juga sebaliknya, sampai dunia kiamat.

Kisah pemulangan TKI ini memang bukan cerita baru. Malaysia secara sporadis sudah sering memulangkan para pendatang haram (TKI ilegal) ini. Tapi Malaysia selalu pening tujuh keliling, dipulangkan sekapal, datang dua kapal, dipulangkan dua kapal datang empat kapal, demikian seterusnya. Ada TKI yang dihukum mati karena terlibat kasus kejahatan pembunuhan atau narkoba, ada yang dicambuk dan sebagainya, tapi mereka tidak kapok, masalahnya juga tidak selesai. Ma-laysia mungkin tidak tahu adanya pameo di Indonesia: "mati satu tumbuh seribu", atau "patah tumbuh hilang berganti", jadi tak ada habis-habisnya. Susah kan? Dihukum mati satu kapal, eh...datang seribu kapal. Kalau logikanya begitu, diundang sajalah TKI ini beberapa kapal agar masalahnya selesai. Nah ini baru "pucuk dicinta ulam tiba". Repot.

Namun ketika akhir Juli 2002 ratusan ribu Tenaga Kerja Indonesia (TKI) eksodus dari Semenanjung Malaysia kembali ke Indonesia, apalagi dengan ancaman cambuk bagi yang coba-coba membandel, memang banyak yang merasa terusik. Ini masalah yang sangat serius bagi kedua hala, Indonesia dan Malaysia. Banyak yang berkomentar, haruskah TKI ini diusir, haruskah dicambuk? Tidakkah ada solusi lain yang menunjukkan semangat perjiranan, bertetangga yang baik? Betulkah semangat ASEAN itu telah mati? Hal ini terasa menjadi sebuah ironi ketika bagian lain di dunia ini semakin membuka perbatasannya. Eropa Barat misalnya, yang tergabung dalam European Community, hampir tak mengenal lagi batas-batas negara satu dengan lainnya. Mosok ASEAN yang katanya mau menerapkan AFTA masih repot mengurus warganya.

Ratusan ribu orang (tentu kumal dan apak) berjejal-jejal di pelabuhan-pelabuhan penyeberangan di Malaysia menunggu kesempatan menyeberang kembali ke Indonesia, memang bukan masalah yang sederhana baik bagi Malaysia maupun bagi Indonesia. Sehingga Presiden Megawati Soekarnoputri pun membicarakan masalah ini dengan Perdana Menteri Malaysia, Dr. Mahathir Mohamad, dalam pertemuan kedua pemimpin di Bali baru-baru ini.

Malaysia tentu tidak sedang melaksanakan Program Pengunduran Diri Sukarela (PPDS), seperti yang dilaksanakan oleh PT. Tripatra, kontraktor Caltex itu. Sebab, kalau Tripatra melaksanakan pengurangan jumlah tenaga kerjanya, konon, karena volume pekerjaan yang semakin berkurang akibat order dari Caltex yang menurun, maka Malaysia bukan karena alasan rasionalisasi tenaga kerja.

Sebagai sebuah negara maju yang sedang giat membangun di segala bidang, Malaysia tentu membutuhkan banyak tenaga kerja mulai dari tenaga-tenaga kerja profesional di bidang Informasi Teknologi (IT) sampai ke tenaga-tenaga kerja kasar di kebun-kebun sawit, karet, buah-buahan, buruh-buruh bangunan, atau tenaga kerja yang berani menyabung nyawa sebagai pembersih kaca-kaca gedung pencakar langit. Dan tenaga kerja itu, sebagian kecil memang dapat mereka penuhi terutama tenaga kerja profesional, tetapi sisanya tidak dapat mereka penuhi dari dalam negeri sendiri.

Riwayat eksodus orang-orang Indonesia ke Malaysia, konon, sudah cerita lama. Dulu, ketika terjadi kerusuhan etnis di Malaysia pada tahun 1969, pemimpin-pemimpin Melayu di semenanjung itu, menurut cerita, secara diam-diam membuka pintu lebar-lebar bagi orang-orang Indonesia untuk datang ke Malaysia. Kebetulan ketika itu, dalam hal pendidikan misalnya, Malaysia memang kekurangan tenaga dan mendatangkan banyak tenaga guru. Maka, tenaga-tenaga yang dikirimkan secara resmi itu mengajak serta saudara-saudaranya untuk memperbaiki nasib di Malaysia. Konon sejak saat itu pula berbondong-bondonglah orang-orang Indonesia ke Malaysia. Dan orang-orang Indonesia ini sekaligus memperkuat barisan Melayu di semenanjung itu.

Waktu kemudian mencatat, tidak hanya ketersediaan lapangan pekerjaan yang membuat Malaysia ibarat gula, upah tenaga kerja pun sangat menarik minat. Dengan pekerjaan yang kira-kira sama beratnya, Malaysia memberi upah lebih kurang 20 kali lipat dibandingkan dengan upah yang mereka terima di Indonesia.

Siapa yang tidak tergiur? Upah tenaga kerja di Malaysia memang telah membuat para tenaga kerja di Indonesia bermimpi-mimpi. Mereka ingin mengubah nasib dirinya sendiri dan keluarganya. Mereka juga mempunyai cita-cita dan berhak melamun tentang masa depannya. Mereka berani menanggung risiko apa pun, sebab kalau mereka tidak berani mengambil risiko, mereka tidak akan mendapatkan apa-apa. Keadaan di kampung halamannya sendiri sama sekali tidak menjanjikan perubahan dan harapan. Para pemimpinnya lebih banyak memikirkan masalah-masalah politik ketimbang peningkatan kesejahteraan rakyat secara langsung. Semua masalah dipolitisir, semua masalah dipecahkan dengan pendekatan politik. Pendekatan politik secara sederhana akan menggunakan pendekatan kekuasaan, pendekatan mayoritas-minoritas, pendekatan kepentingan dan sebagainya.

Ketika Malaysia memulangkan para TKI ilegal kita dengan pendekatan hukum, penegakan peraturan perundangan yang berlaku di negeri itu, kita memandangnya sebagai masalah politik sehingga ketersinggungan pun berpeluang terjadi.

Sesungguhnya kita semua memberikan kontribusi terhadap masuknya ratusan ribu tenaga kerja ilegal ke jiran kita. Kalau hanya puluhan orang, atau bahkan ratusan orang dibandingkan dengan sekitar 2 juta TKI yang ilegal, kita boleh mengatakan ini "error", atau kenakalan yang manusiawi. Tetapi kalau sudah mencapai ratusan ribu orang yang ilegal, masihkah dapat kita katakan ini sebagai sebuah error? Masihkah dapat kita katakan mereka lolos dari pengawasan? Mereka bukan lolos, tapi diloloskan. Siapa yang terlibat? Sebenarnya masalah siapa-siapa, pihak-pihak mana, instansi-instansi mana yang terlibat dalam mafia pengerahan tenaga kerja ilegal ini, ibarat angsa putih terbang siang.

Menyedihkan, yang menjadi korban justru para TKI. Di negeri sendiri mereka diloloskan dengan berbagai macam akal bulus yang tentu saja tidak gratis. Di negeri orang mereka terusir.

Malaysia selamanya akan selalu membutuhkan tenaga kerja kita dan selalu akan menarik untuk didatangi oleh para TKI kita, selama kita masih belum mampu membangun perekonomian yang kokoh. Dan Dr. Mahathir Mohamad pun mengatakan sesungguhnya Malaysia masih mengharapkan TKI. Mereka memang tidak suka dengan TKI ilegal dan TKI yang suka berbuat onar, tetapi mereka memerlukan tenaga kerja. Malaysia sebenarnya benci tetapi rindu TKI. Banyak persamaan di antara kita, bangsa serumpun ini. Namun agaknya ke depan kita perlu sungguh-sungguh mengurus penyaluran TKI ini agar lebih bermartabat.

(18 Agustus 2002)


Tulisan ini sudah di baca 219 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku 1001 Saddam

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/1001-Saddam/187-TKI:-Benci-Tapi-Rindu.html