drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

1001 Saddam | Bagian : 6

Mobil Bodong


Oleh : drh.chaidir, MM

Entah bagaimana ceritanya, mobil bodong alias mobil "seken" alias mobil "recondition" alias mobil bekas yang tidak jelas, tiba-tiba saja nyembul di pelabuhan Sungai Siak Pekanbaru, Riau. Mungkin bukan bodong namanya kalau mobil ini tidak tersembul tanpa basa-basi seperti itu. Kehadirannya walaupun tidak menarik bagi kuli pelabuhan, tetapi menarik bagi kuli disket alias wartawan. Heboh pun tak bisa dihindarkan. Habis, para "janda" itu memang masih mulus dan konon gratis lagi. Cerita yang mengiringi si bodongpun tentu saja cepat merebak ke langit.

Dalam rapat konsultasi terbatas antara petinggi-petinggi Riau dengan Menteri Perindustrian dan Perdagangan, Ibu Rini S. Soewandi, beberapa hari lalu di Pekanbaru, masalah ini diangkat ke permukaan. Maka bertitahlah Ibu Menteri kita yang enerjik ini. Dulu, kata Ibu Menteri, memang pernah ada dispensasi yang diberikan kepada Irian Jaya dan Aceh untuk memasukkan mobil-mobil bekas bagi kepentingan umum, tetapi kebijakan itu telah distop. Sejak saat itu tidak lagi pernah ada izin untuk memasukkan mobil bekas, tidak lagi ada dispensasi.

Menariknya, masalah mobil bodong ini kembali membuat kita berurusan dengan tetangga kita yang kaya raya, Singapura. Kenapa Singapura? Karena selama ini yang banyak menyimpan mobil-mobil bekas ini adalah Singapura dan Jepang. Sebenarnya, tidak juga tepat dibilang "menyimpan". Masalahnya begini. Di Singapura, ada ketentuan yang berlaku. Anda hanya boleh memiliki mobil baru (brand new) yang anda beli dengan uang sendiri, selama 10 tahun. Setelah 10 tahun mobil tersebut harus discrap (dipotong-potong dan dihancurkan) menjadi besi tua. Asumsinya setelah 10 tahun mobil tersebut tidak layak lagi dipergunakan. Saya tidak tahu ketentuan yang berlaku di Jepang. Tapi di Singapura, sepengetahuan saya ketentuan yang berlaku memang demikian.

Alasannya antara lain, mobil tua tersebut tidak lagi aman untuk keselamatan, baik bagi si pemilik maupun bagi orang lain. Asap knalpotnya bisa meracuni udara, bahan bakar boros, pelumasnya menjadi limbah, bunyi mesinnya keras, apalagi kalau tertatih-tatih di jalan bebas hambatan. Di samping itu keterbatasan jalan umum dan sapce untuk parkir embuat Singapura memberlakukan larangan penggunaan mobil tua dengan ketat.

Masalah larang-melarang di Singapura, kita tidak heran, Singapura memang paling terkenal. Mereka tidak hanya melarang, tetapi juga mengenakan fine (denda) secara tegas bagi yang melanggar. Jangankan menggunakan mobil tua di jalan-jalan umum, meludah sembarangan saja bisa kena fine, apalagi bila kencing sembarangan. Membuang sampah dan merokok di sembarang tempat sudah pasti kena fine 5000 dolar Singapura atau kira-kira setara dengan dua puluh juta rupiah. Begini kena fine, begitu kena fine.

Ketegasan pemerintah Singapura dalam mengenakan fine terhadap suatu pelanggaran dicemooh oleh sementara warganya sendiri dengan menyebutkan: Singapore is "fine" country. Istilah fine yang juga berarti baik, mereka pelesetkan.

Maka, kalau tidak mau kena fine, segeralah kirim mobil anda yang telah berulang tahun ke-10 ke tempat scrap mobil. Nomor polisi mobil yang discrap dikembalikan kepada pemerintah untuk garansi bahwa anda akan dapat membeli mobil baru dengan mudah dan harga yang lebih murah. Bolehkah menyimpan mobil tua? Boleh. Tetapi anda harus membayar pajak yang tergolong cukup mahal. Orang-orang Singapura adalah orang-orang yang pragmatis. Mengapa harus ada mobil kesayangan, mobil kenangan, mobil hoki, dan sebagainya? Mereka akan memilih beli mobil baru daripada bersusah-susah mengurus mobil tua. Akibatnya mobil yang harus discrap memang banyak sekali, padahal menurut ukuran kita, kondisi mobil tersebut masih bagus. Mobil kita yang dipelasah seenaknya selama 10 tahun di jalan yang berlobang-lobang saja masih bagus, apalagi dengan mobil-mobil yang di pakai secara teratur dengan kondisi jalan-jalan yang mulus seperti di Singapura.

Karena itu tidak heran, umumnya mobil yang dipergunakan di Pulau Batam di awal tahun 80-an adalah mobil-mobil recondition atau mobil bodong ini. Murah dan kondisinya masih bagus. Kebiasaan yang mendatangkan untung dari bisnis mobil recondition ini sampai sekarang rupanya masih berkelanjutan, walaupun sudah ada larangan. Konon, mobil-mobil bodong yang lolos dari "pintu-pintu" Batam ini sekarang ada yang sudah ditahan oleh aparat keamanan di Jambi. Itu kan yang tertangkap basah, yang tidak tertangkap?

Keuntungan dari bisnis mobil bodong ini agaknya memang menggiurkan. Teman saya, seorang warga negara Indonesia yang telah lama bermukim di Singapura, mengatakan, sebuah mobil Mercy yang harganya di tempat kita masih berkisar sekitar 500 juta rupiah, dengan status mobil bodong harganya hanya sekitar 100 juta rupiah atau bahkan kurang dari itu.

Mobil-mobil bodong yang berjumlah 30 unit yang sekarang sudah berada di gudang Bea Cukai Pekanbaru, konon kabarnya adalah mobil-mobil hibah dari pengusaha Singapura yang dermawan. Mobil-mobil itu dihibahkan secara gratis. Tapi maksud baik belum tentu berakhir dengan baik. Mobil-mobil tersebut terpaksa diangkut ke Pekanbaru, karena masa tunggunya di Singapura konon telah habis. Apabila mobil-mobil tersebut belum diangkut ke Pekanbaru, maka Pemerintah Singapura akan mengenakan fine 1500 dolar AS permobil per hari. Bayangkan! Maka kapal Marcopolo pun mengangkut mobil-mobil tersebut ke Pekanbaru. Masalah kemudian muncul kembali ketika petugas Bea Cukai menolak pembongkaran mobil-mobil tersebut karena belum mengantongi izin dari Menperindag sebagai salah satu persyaratan utama. Marcopolo mau saja menunggu, tapi uang tunggunya 1750 dolar AS per hari atau kira-kira Rp 17 juta,-. Siapa yang mau menanggung?

Maka sekarang mobil itu nangkring manis di pelabuhan. Kabarnya bila satu bulan tidak dikeluarkan, mobil-mobil tersebut masuk kategori barang tak bertuan. Bila satu bulan kemudian juga tidak berhasil dikeluarkan, maka mobil-mobil tersebut akan menjadi milik negara, dan satu bulan kemudian barang tersebut akan dilelang. Tetapi mengomentari pentahapan ini, Ibu Menteri menegaskan dalam rapat koordinasi tersebut, hal ini tidak mungkin karena itu berarti kita melegalkan barang yang tidak legal. Dan itu bisa menjadi preseden. Nah Iho, benang-benang kusut kan?

Kita memang tidak selayaknya berburuk sangka kepada tetangga kita yang kaya itu, tetapi pengalaman kita yang buruk dalam masalah pembuangan limbah, kemudian perlakuan yang tidak adil dalam bisnis pasir laut, membuat kita perlu berhati-hati. Orang kaya, kata Socrates, layak dipuji apabila ia tahu untuk apa ia mempergunakan hartanya. Dan Singapura, mereka suka tidak mau tahu.

(19 Mei 2002)


Tulisan ini sudah di baca 581 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku 1001 Saddam

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/1001-Saddam/184-Mobil-Bodong.html