drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

1001 Saddam | Bagian : 5

1001 Saddam


Oleh : drh.chaidir, MM

AIkisah, Ratu Shahrizad dihukum mati oleh suaminya, Sang Raja yang sedang bertahta. Eksekusi akan dilakukan menjelang fajar. Tapi Sang Ratu ternyata tidak mau menyerah begitu saja kepada nasib. Dia mencoba menunda eksekusinya dengan mengisahkan cerita demi cerita kepada suaminya, dan setiap cerita diakhiri dengan akhiran (ending) yang harus diteruskan pada malam berikutnya. Sang Ratu dengan cerdik menggantung cerita. Cerita Aladin disambung besok malam, demikian juga cerita Ali Baba, cerita simbad dan sebagainya selalu dilanjutkan besok malam. Demikian seterusnya sehinggalah eksekusinya tertunda 1001 malam.

Keseluruhan cerita yang didongengkan oleh Sang Ratu itu disebut Dongengan Malam di Tanah Arab. Dan sesungguhnya dongeng-dongeng itu merupakan hasil daya cipta penyair-penyair masa lampau di Irak untuk mengungkapkan masa-masa keemasan kota Baghdad. Konon, tidaklah semua dongeng itu berasal dari Arab, ada yang berasal dari India dan ada pula yang berasal dari Persia. Namun karena cerita dongeng ini didongengkan di Baghdad, maka terkenallah ibukota Irak itu sebagai Kota 1001 Malam. Tidak begitu jelas, apakah kisah Ratu Shahrizad itu sendiri juga sebuah dongeng atau kisah nyata.

Kota 1001 Malam itu kini di ambang kehancuran total secara kultural dan fisik, akibat agresi tentara Amerika dan Inggris yang melakukan pengeboman secara membabi buta, menewaskan ribuan orang-orang tak berdosa, dan menghancurkan situs-situs peninggalan sejarah Islam yang masih tersisa oleh zaman.

Sebenarnya, Irak muncul sebagai sebuah negara merdeka baru pada akhir Perang Dunia I. Tetapi awal sejarahnya telah dimulai sejak lebih dari 8.000 tahun yang silam di sebuah wilayah yang dikenal sebagai "Bulan Sabit Subur" (Fertile Crescent). Di dataran subur di antara Sungai Efrat dan Sungai Tigris inilah, pertanian dan aksara pertama mulai dikembangkan, dan salah satu kekaisaran paling awal didirikan. Di sini pula konon kapal Nabi Nuh terdampar. Adalah Bangsa Sumeria dalam sejarah Irak kuno yang mulai memperkenalkan peradaban kepada dunia. Merekalah yang memperkenalkan penggunaan roda, pandai besi, menciptakan kalender pertama dan daur 60 menit per jam dan 24 jam per hari yang sampai kini masih dipakai di seluruh dunia. Di masa Kekaisaran Babilonia, dibangunlah sebuah Taman Bergantung, sehingga menjadi salah satu keajaiban dunia.

Namun Irak adalah sebuah negeri melegenda yang tak putus dirundung perang. Mulai dari zaman Sebelum Masehi, tepatnya tahun 539 SM, Irak dikalahkan oleh Bangsa Persia. Beberapa abad kemudian penaklukan dilakukan pula oleh Iskandar Yang Agung. Bahkan Kekaisaran Romawi juga pernah mengokupasi Irak.

Dalam masa kebangkitan Islam, pada tahun 637, Irak dikuasai oleh bangsa Arab yang beragama Islam. Selama pemerintahan Khalifah Abbasiyah (750—1258), Irak dengan ibukotanya Baghdad menjadi pusat Zaman Keemasan Islam dan bangsa Arab. Kesusastraan, sains, dan perdagangan berkembang dengan pesat. Tahun 1258 negeri itu diserang dan ditaklukkan oleh Hulagu, cucu Jengis Khan, hingga kekayaan dan perbendaharaan ilmu pengetahuan yang sangat penting bagi peradaban dunia, hancur total. Tahun 1400 diserang oleh bangsa Mongolia di bawah pimpinan Timur Lenk. Tahun 1508 pula diserang bangsa Persia yang dipimpin oleh Ismail Shafawy; tahun 1683 dikuasai oleh Turki Usmani, yang beberapa abad kemudian (1917) diduduki Inggris. Tahun 1980 sampai delapan tahun kemudian Irak berperang dengan tetangganya Iran, yang menyebabkan lebih dari 70.000 tentaranya tewas. Pada tanggal 2 Agustus 1990, Irak mengejutkan dunia dengan menyerang dan menduduki Kuwait, yang dianggap sebagai boneka Amerika di Teluk Persia. Penyerangan Kuwait itu akhirnya menyulut Perang Teluk pertama pada bulan Januari— Februari 1991. Irak akhirnya terkena sanksi dilarang terbang dan dilarang menjual minyak dan diemabrgo oleh PBB sehingga membuat negara itu lurnpuh.

Saddam Hussein, dari Partai Baath, yang menjadi pemimpin Irak semenjak tahun 1979 memang mengambil sikap yang konfrontatif terhadap Amerika Serikat. Saddam menunjukkan sikap ketidaksenangannya kepada Amerika yang selalu saja mendiskreditkan dirinya berada di belakang aksi-aksi teror, sementara Amerika sendiri dianggap sangat toleran bahkan tutup mata terhadap kebrutalan Israel yang menindas bangsa Palestina. Amerika dianggap tidak adil dan berlaku sewenang-wenang. Amerika sebaliknya menggambarkan Saddam Hussein sebagai seorang pemimpin diktator dan represif.

Kini Perang Teluk jilid dua sudah terjadi dan bila tidak terjadi mukjizat, Irak akan hancur karena lawan memiliki peralatan dan perlengkapan perang yang sangat canggih. Namun tidak seperti Perang Teluk jilid satu, perang jilid dua ini dikutuk oleh dunia. Alasan bahwa Saddam masih tetap membandel dan menyimpan senjata pemusnah dianggap terlalu mengada-ada, karena Tim Khusus PBB sendiri tidak menemukannya. Tapi Amerika Serikat dan Inggris tidak mau tahu, dan tetap saja membombardir Irak terutama Baghdad sehingga menimbulkan korban ribuan jiwa dan harta benda yang nilainya tidak sedikit. Tragisnya, sebagian besar dari korban pengeboman itu adalah penduduk sipil, orang-orang tua, wanita, dan anak-anak yang tak berdosa. Kota 1001 Malam, Baghdad, yang beberapa kali pernah hancur dalam beberapa abad yang lalu, kini kembali hancur. Kita tidak tahu justifikasi apa lagi yang akan diberikan oleh Amerika dan Inggris atas penye-rangan yang membabi-buta ini. Sementara orang-orang Irak, syaraf takutnya telah putus, mereka memilih mati syahid untuk membela tanah airnya.

Pada kondisi ini apa bedanya Bush dan Blair dengan Hulagu, keponakan Jengis Khan yang menghancurkan Baghdad dan membunuh pemimpin-pemimpin Kekhalifahan Abbasiyah pada abad ke-13 atau dengan Timur Lenk dari Mongolia yang juga kemudian menghancurkan Baghdad. Mereka menguasai Baghdad beberapa abad, kemudian dikalahkan oleh agresor lain. Agresor satu pun dikalahkan kelak oleh agresor lainnya. Di atas langit ternyata ada langit. Apalagi Bush dan Blair menyuruh tentaranya berperang dengan risiko mati di negeri orang, dengan misi hanya untuk menghancurkan rezim Saddam dan menggantikannya dengan rezim pro Amerika.

Saddam Hussein bisa saja hancur lebur dihantarn rudal-rudal dan bom Amerika yang dahsyat itu. Taruhlah Amerika berhasil memaksakan berdirinya rezim baru boneka Amerika, tapi sampai kapan rezim itu akan bertahan? Seratus tahun, dua ratus tahun, atau seribu tahun? Sejarah akan mencatat, seperti yang dicatat terhadap Hulagu dan Timur Lenk itu. Bukankah Bush dan Blair kini sedang menyemai Saddam di Irak dan di bagian dunia lainnya. Akan segera tumbuh 1001 Saddam yang mungkin akan lebih Saddam daripada Saddam. Nah!!

(6 April 2003)


Tulisan ini sudah di baca 144 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku 1001 Saddam

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/1001-Saddam/182-1001-Saddam.html