drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

1001 Saddam | Bagian : 5

Wawancara Imajiner dengan Saddam


Oleh : drh.chaidir, MM

Ditemui di bunkernya di tepi sungai Tigris, Baghdad, kota dongeng 1001 malam itu, Saddam Hussein terkesan rileks nonton CNN yang nonstop 24 jam menyiarkan Perang Teluk jilid dua. Dia dikelilingi oleh beberapa orang stafnya. "Negeriku sekarang menjadi negeri 1001 rudal," katanya dingin. Ternyata Saddam juga memiliki rasa humor seperti orang Yogya, suka bermain kata-kata. "Nggak bapak, nggak anak, sama saja" (maksudnya, dulu dalam Perang Teluk jilid satu Prcsiden Amerika Serikat George Bush, sekarang anaknya, George Walker Bush), "keduanya paranoid", kata Saddam, sambil mengunyah kurma kegemarannya.

Lho kenapa anda mengatakan begitu?

(Saddam menatapku) Mereka merasa dirinya hebat, bisa mengalahkan siapa saja. Mereka menganggap diri mereka super power. Tapi coba anda lihat, George Bush digantikan oleh Bill Clinton dan Clinton digantikan oleh George W Bush, sebagai Presiden Amerika Serikat. Tapi Saddam masih berdiri kokoh di sini, nggak ada mati-matinya. Atau kalau pun aku mati, mati satu tumbuh seribu. Banyak rakyat Irak yang akan bisa menggantikan aku, bahkan lebih hebat dari Saddam Hussein.

O ya, apa benar anda mempersiapkan orang-orang yang mirip dengan anda?

Ah, itu bukan sesuatu yang penting. Aku justru memperoleh inspirasi dari kuiz televisi anda. Aku lupa nama stasiunnya, tapi nama acaranya aku ingat, ASAL, Asli Apa Palsu, pembawa acaranya Taufik Savalas. Ya kan? (Saddam nyengir) Sejak Perang Teluk jilid satu, aku memperkenalkan kuiz ASAL anda itu di Irak, dan ternyata peminatnya banyak. Orang Irak ternyata ganteng-ganteng dan banyak yang mirip aku. Sebenarnya aku bisa saja melakukan kloning, untuk menciptakan orang-orang yang sama sebangun dengan aku, tapi menurutku itu haram.

Sampai saat ini sudah berapa Saddam ASAL yang bisa anda himpun?

Negeriku kan negeri 1001 malam, Saddam pun ada 1001. Aku berani bertaruh Bush tidak akan bisa membedakan mana Saddam asli dan mana yang palsu atau asli tapi palsu. Bush tidak akan pernah bisa melihat mana Saddam yang sesungguhnya, karena dia tidak punya mata hati.

Ok, sebenarnya kenapa sih koq kelihatannya Bush dendam amat sama anda?

Nggak tahu, aku kan tidak pernah mengganggu Bush. Duabelas tahun Irak diembargo oleh Amerika dan sekutunya. Kami tidak boleh menjual minyak. Ada orang yang mau beli minyak kami, tapi mereka tidak berani karena diancam oleh Amerika. Kami tidak berbuat apa-apa, padahal anak-anak kami membutuhkan obat-obatan, vitamin, dan gizi yang baik. Sekarang anak-anak kami tumbuh dalam keadaan kurang gizi. Kami dituduh memiliki senjata pemusnah, dituduh memiliki senjata biologis, dan sebagainya. Mengenai "senjata biologis" ini, bukan hanya aku, Bush juga punya, Tony Blair punya, semua orang laki-laki punya senjata (Saddam lagi-lagi bercanda). Anda kirim Inul pun ke Irak, aku tetap tidak akan memperlihatkan "senjata biologis" itu, haram, haram, haram.

Dari mana Mr. Presiden mengenal Inul?

Aku kan baca majalah Time. Aku sedang berpikir, pasca perang nanti mungkin aku akan undang Inul untuk ngebor sumur-sumur minyak baru, ha ... ha ... ha ... hhhuk (Saddam terbatuk).

Tapi Time itu kan majalah Barat?

Justru karena itu majalah Barat. Anda tidak akan pernah mengenal perilaku Barat bila anda tidak membaca apa-apa tentang Barat. Aku juga mengenal filsafat perangnya Sun Tzu. Untuk mengalahkan musuh, anda tidak hanya cukup mempelajari kelemahannya, tapi anda juga harus mengenal kekuatannya. Di sinilah kesalahan Bush. Dia hanya mengenal kekuatannya sendiri, sebagai sebuah negeri super-power, dan dengan kekuatannya itu dia kira dia bisa melibas siapa pun. Benar, Amerika mungkin bisa meluluhlantakkan Saddam dengan beribu-ribu rudal. Tapi, ingat! Ribuan Saddam lain akan muncul dan mereka akan memusuhi Amerika selamanya. Dia tidak mengenal kami. Dia hanya mengenal Irak dalam bingkai prasangka, sangat subyektif.

Tapi apa sih kekuatan Irak?

Kekuatan Irak ada di sini (Saddam menunjuk ke dadanya). Penderitaan mengajarkan kepada kami, jiwa sia-sia melawan pedang, namun jiwa bersama pedang akan selalu menang atas pedang saja. Itulah sebabnya mengapa kami tidak takut kepada Amerika dan sekutunya. Kami berperang dengan jiwa. Kami dapat memastikan bahwa pedang kami memiliki jiwa. Kami berperang di negeri kami sendiri, mempertahankan kehormatan negeri, membela hak yang hendak dirampas oleh agresor. Kami terpaksa menyaksikan orang-orang tak berdosa mati dan kami sendiri berisiko untuk mati. Tapi kalaupun ajal itu datang, kami akan mati syahid. Sementara pedang Amerika? Pedang mereka tak berjiwa. Mereka tidak tahu berperang untuk apa. Cobalah tanya prajurit Amerika dan sekutunya. Mereka tidak akan bisa menjelaskan mengapa mereka harus mengarungi samudera luas dan menembaki orang-orang di Negeri 1001 Malam ini dan kemudian menghabiskan nyawa mereka sendiri di sini. Kalau prajurit-prajurit itu boleh memilih, mereka tentu lebih suka mabuk-mabukan di pub, makan hamburger, atau berlibur dengan keluarga. Sekarang mereka berperang setengah hati karena takut mati.

Tapi peralatan dan perlengkapan perang mereka menakutkan?

Bagi anda mungkin menakutkan, bagi kami tidak. Wallahi.

Tidakkah pasukan Amerika dan sekutunya itu bisa anda lawan dengan senjata pemusnah yang anda miliki?

Yang bilang kami memiliki senjata pemusnah itu kan Amerika. Buktinya? Tim PBB sudah datang ke sini dan mereka tidak menemukan apa-apa, tapi Amerika tidak percaya. Mereka minta PBB agar memerintahkan kepada kami untuk menghancurkan peluru kendali pertahanan diri kami, itu pun sudah kami lakukan. Sekarang dunia silakan lihat, yang memiliki senjata pemusnah itu kan Amerika. Mereka memiliki pesawat-pesawat tempur canggih. Mereka punya pesawat pengebom Siluman B-2, pengebom jarak jauh B-l, pengebom B-52.

Mereka juga memiliki pesawat Siluman F-117, F-15, F-16, F/A-18, A-10 Thunderbolt, dan masih banyak lagi helikopter tempur lainnya. Itu belum berbagai jenis bom yang mereka curahkan di negeri kami, juga ribuan rudal yang mereka tembakkan ke kota-kota kami yang menyebabkan penduduk sipil, orang-orang tua, wanita, dan anak-anak menjadi korban. Kami tidak memiliki pesawat tempur, tidak memiliki tank. Kami tidak mungkin melawan mereka di udara dan di gurun. Kami tidak punya pilihan lain, mereka akan kami biarkan masuk ke kota, dan kami akan hadapi satu-lawan satu, kami akan melakukan gerilya kota.

Mr. Presiden, apakah anda tidak sedih melihat negeri anda porak poranda seperti ini?

Bangunan-bangunan itu ciptaan manusia, sebagai salah satu wujud manusia memberikan makna terhadap keberadaan mereka di atas dunia ini, sebagai tanda mereka memiliki peradaban. Semuanya adalah anugerah dari Tuhan. Pantaskah kita untuk anugerah-anugerah itu? Bila tidak, maka semuanya akan hilang (Saddam termenung sejenak). Aku selalu berdoa, jika harta benda dan kebahagiaan itu memang bukan milikku, biarlah dia pergi. Jika kesedihan menjadi takdirku, biarlah; tapi biarkanlah kami sebagai sebuah bangsa yang berdaulat memilih untuk anak cucu kami di negeri kami sendiri.

(... Tiba-tiba saya terkejut mendengar sirine meraung, saya pikir ada serangan udara. Tapi bukan, ternyata sebuah mobil polisi lewat di depan rumah saya di Jalan Gajah Mada, Pekanbaru. Jelas, saya di Pekanbaru. Saya tidak sedang berada di Baghdad.)

(5 April 2003)


Tulisan ini sudah di baca 183 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku 1001 Saddam

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/1001-Saddam/181-Wawancara-Imajiner-dengan-Saddam.html