drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

1001 Saddam | Bagian : 5

Bukan Perang Naga Bonar


Oleh : drh.chaidir, MM

Perang Amerika dan Irak akhirnya terjadi juga. Manusia akhirnya gagal bertindak arif. Inilah titik puncak dari eskalasi pertentangan antara kedua negara yang sudah berlangsung sejak lama. Pada tahun 1991, di bawah kepemimpin George Bush, Amerika memborbardir Irak karena Irak menganeksasi Kuwait. Meski dihantam oleh pasukan multinasional dengan rekomendasi PBB, Saddam Hussein tetap gagah di posi-sinya, walau korban yang jatuh tidak sedikit. Kini Amerika di bawah komando George W. Bush, sang anak, kembali melakukan hal yang sama, menyerang Irak, Negeri 1001 Malam, dengan alasan Irak mempunyai sejumlah senjata pemusnah massal dan memiliki kedekatan dengan jaringan Al Qaeda.

Meskipun tidak mendapat restu dari PBB, mendapat kecaman yang luas dari dalam negeri, serta ditolak oleh beberapa negara penting dalam Dewan Keamanan, seperti Rusia, Cina, dan Prancis, Amerika tetap mengerahkan mesin-mesin perangnya ke Teluk Persia. Nyali Amerika semakin bertambah, setelah Inggris, Spanyol, dan Australia memberikan dukungan baginya. Apa yang dilakukan oleh Amerika adalah sebuah ironi. Sebagai sebuah negara pendiri PBB, semestinya Amerika berada di garis terdepan dalam menolak perang sebagai instrumen politik internasional, tapi yang terjadi justru sebaliknya. Amerika merupakan negara yang paling gila berperang dalam sejarah hubungan antarnegara, khu-susnya pada abad ke-20.

Perang Amerika dan Irak, pada sisi yang lain, juga akan menjatuhkan kredibilitas PBB sendiri. Jika selama ini masyarakat internasional menganggap bahwa Perserikatan Bangsa-Bangsa adalah sebuah lembaga yang memiliki kekuatan dalam menciptakan perdamaian, dengan pelanggaran Amerika dan sekutunya terhadap Piagam PBB, dunia internasional tidak lagi akan memiliki kepercayaan penuh kepada lembaga tersebut. Lebih celaka lagi, jika PBB tidak tegas kepada Amerika Serikat, maka itu akan menjadi semacam preseden bagi negara-negara lain untuk melakukan peperangan.

Tapi begitulah. Perang sudah dimulai, dan kita tidak tahu, siapa yang akan memenangkan pertarungan. Satu hal pasti seperti ungkapan melayu Yang menang jadi arang yang kalah jadi abu. Amerika mengklaim, bahwa mereka dengan segera memenangkan perang dan membawa Saddam Hussein sebagai penjahat perang ke Mahkamah Internasional, dan juga memastikan kepada masyarakat dunia bahwa korban masyarakat sipil akan terminimalisir oleh kemampuan teknologi yang mereka kuasai. Saddam juga tak mau kalah gertak. Saddam menjanjikan bahwa tanah Irak akan menjadi kuburan massal bagi tentara Amerika jika meneruskan niat perangnya. Entah klaim pihak mana yang menjadi kenyataan, tapi yang paling jelas adalah, dari kedua belah pihak akan jatuh korban.

Apakah yang dicari oleh Amerika dengan perang ini? Rasanya tak cukup alasan jika Amerika menganggap bahwa Irak memiliki senjata pemusnah massal. Seperti yang dipercayai oleh masyarakat dunia, perang ini lebih bernuansa minyak plus dendam pribadi. Irak dengan minyaknya yang sangat besar membuat Amerika sangat tergiur, tapi liur Amerika yang meleleh itu terhambat oleh sikap pemerintah Irak yang tidak bersahabat, bahkan keras kepala, tidak mau menuruti keinginan Amerika Serikat, dan ini tentu menggusarkan Bush Jr. Selain minyak, perang ini juga agaknya beralas dendam pribadi, khususnya untuk menebus malu Bush Jr atas usaha ayahnya yang gagal menggulingkan Saddam Hussein pada tahun 1991.

Amerika seharusnya memikirkan kembali niatnya, sebab andaipun memenangkan peperangan, dunia tak akan bertepuk tangan karena dasar peperangan itu sendiri telah salah. Lagi pula orang akan mafhum jika Irak kalah, sebab Irak lemah dalam segala hal, terlebih setelah dikenakan sanksi selama 12 tahun oleh PBB, yang juga dimotori oleh Amerika. Sebaliknya, jika ternyata Amerika kalah, maka perang ini akan menjadi, sebuah sejarah yang sangat memalukan bagi Amerika, terlebih jika kalah dengan korban yang banyak.

Jika Amerika meneruskan kegilaan perangnya, maka tak dapat pula disalahkan jika Amerika kemudian menjadi target serangan. Sebab sebuah tindakan perlawanan, seperti peristiwa Black September, bukan muncul tanpa alasan yang jelas. Terorisme dalam hubungan antarnegara selalu diawali oleh adanya penistaan sebuah negara kuat terhadap negara yang lebih lemah darinya, sebagaimana yang terjadi dalam hubungan Israel dan Palestina. Mengelaborasi ungkapan pendiri Hamas, Dr. Abdul Aziz Rantisi, bahwa perlawanan yang dilakukan para pejuang Islam terhadap Israel (perjuangan itu di-cap terorisme oleh Amerika dan Barat), baik melalui Intifadah ataupun Istishadi (Syuhada yang dipilih sendiri atau pengebom bunuh diri) sesungguhnya tidaklah berangkat dari sebuah kebencian. "Kami tidak memusuhi orang Yahudi sebagai orang Yahudi, tapi itu kami lakukan karena perang dilancarkan oleh Israel kepada Palestina."

Arti perang adalah kehancuran. Menjadikan perang sebagai sebuah usaha mengejar impian untuk mendapatkan keamanan nasional yang mutlak, seperti yang dikatakan Amerika Serikat adalah sesuatu yang tidak rasional. Rasionalitas perang akan menjadi semakin kabur, jika kehancuran atau kerugian yang diderita oleh sebuah negara lebih besar dari kepentingan politis yang berhasil dicapai.

Melihat kondisi Irak dan mobilisasi tentara Irak yang bersandar pada konskripsi atau wajib militer, serta pengerahan pasukan rakyat (Levee en masse), baik laki-laki maupun perempuan, maka kita sudah akan mendapat kepastian, bahwa hasil perang ini hanya satu, sebuah kematian yang besar, sebuah kehanruran yang paripurna, nyawa maupun harta benda.

Kita memang tak dapat menghalangi ambisi Amerika, tapi paling tidak, kita bersyukur, bahwa tidak banyak elemen masyarakat dunia yang mendukung perang, tak terkecuali rakyat Amerika sendiri. Saya percaya, setiap kita menolak perang, bukan saja karena perang adalah sebuah kejahatan dalam hubungan internasioal, tapi lebih dari itu, karena kita menolak penistaan atas kemanusiaan dan semangat perdamaian. Perang akan menyebabkan sebuah peradaban lebur dalam desing nafsu dan peluru keserakahan. Lebih dari itu, perang dengan cara yang bagaimanapun atau dengan teknologi secanggih apa pun, tetap akan menimbulkan korban masyarakat sipil yang sangat besar. Korban akan jatuh di kedua belah pihak, dan yang akan tersisa, setelah arang dan abu, setelah puing dan mus-nah, adalah tangis kepedihan dan dendam.

Seorang tokoh jenderal yang kocak dalam film Naga Bonar pun digambarkan tak kuasa membendung tangisnya ketika sahabatnya gugur dalam peperangan. "Itulah, sudah kubilang", kata Naga Bonar terisak, "jangan berteempur, tapi berteempur juga kau, mati kau kan? Matilah kau dimakan cacing".

Perang Amerika dan sekutunya melawan Irak bukan perang Naga Bonar. Perang itu perang sungguhan, nyawa dan harta benda seakan tak berharga. Tapi apa hendak dikata.

(23 Maret 2003)


Tulisan ini sudah di baca 161 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku 1001 Saddam

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/1001-Saddam/180-Bukan-Perang-Naga-Bonar.html