drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

1001 Saddam | Bagian : 5

Si Jago Perang


Oleh : drh.chaidir, MM

Meskipun mendapat kecaman dari berbagai elemen masyarakat Islam dan komunitas dunia, Amerika tetap mengumumkan akan melakukan serangan ke Irak. Amerika sepertinya sudah menjadikan rencana serangannya sebagai harga mati dalam hubungan internasionalnya dengan Irak, walaupun PBB tidak memberikan izin. Dan walaupun Irak secara bertahap menunjukkan suatu iktikad baik dengan memberikan kesempatan kepada tim inspeksi senjata PBB melakukan tugasnya dan bahkan menghancurkan pula beberana rudal yang dianggap melebihi kapasitas sistem pertahanan nasional.

Di Indonesia, "perang" melawan perang Amerika atas Irak bergemuruh di setiap daerah. Berbagai organisasi masyarakat, organisasi Islam, atau hampir semua organisasi yang ada, menentang kehendak perang Amerika. Begitu pula di Riau, Pekanbaru khususnya, penolakan terhadap rencana Amerika ditunjukkan melalui serangkaian demonstrasi, dan bahkan hingga penyegelan terhadap sesuatu yang berbau Amerika.

Kita menolak serangan Amerika atas Irak. Kita menolak bukan semata-mata karena soal Islam atau karena ingin membela Saddam Hussein, tapi kita menolak rencana Amerika ini karena kita melihat sisi ketidakadilan Amerika (juga PBB) dalam menyikapi berbagai kasus internasional. Amerika diam ketika Israel membunuh warga Palestina meskipun Israel membunuh anak-anak dan para wanita, tapi sebaliknya dengan cepat memberikan tanggapan kekerasan dengan menyerang Afghanistan meski yang dicari hanya satu orang yang bernama Osama bin Laden. Amerika hanya memandang pasif ketika terjadi pembantaian di Chechnya, tapi dengan cepat memberikan reaksi atas gerakan yang bertentangan dengan keinginannya, seperti di Kolombia, Mindanao, dan sebagainya. Ketidakadilan semacam inilah yang membuat kita semua tidak setuju. Ketidak-setujuan itu meluas sehingga menimbulkan reaksi dimana-mana. Jika Amerika memang memposisikan dirinya sebagai Polisi Dunia (World Cop), semestinya Amerika juga melakukan tindakan serupa terhadap semua hal yang membahayakan kemanusiaan. Tidak "tiba di perut dikempiskan, tiba di mata dipicingkan".

Lebih dari itu, kita menolak perang Amerika ini, karena kita sadar bahwa perang, dalam banyak kasus, justru tidak mampu menyelesaikan inti persoalan, dan tak jarang pula berbelok pada tujuan-tujuan lain, seperti menjatuhkan pemimpin yang tidak disukai, atau penguasaan ekonomi, seperti yang disinyalir oleh Richard Lewinsohn dalam "The Profits of War Through the Ages", yaitu bahwa perang menjadi alat bantu untuk mencapai kepuasan para pemilik uang dan kaum industrialis dari negara-negara imperialis yang berusaha mencapai posisi monopoli ekonomi regional maupun global. Perang Amerika-Afghanistan pasca peledakan World Trade Center adalah contoh nyata. Pengusaha Amerika berada di garis terdepan dalam membangun perusahaan seusai mereka membentuk pemerintahan koalisi yang dipimpin Hamid Karzai.

Yang paling tragis, yang juga merupakan inti penolakan kita, adalah bahwa perang akan lebih banyak menimbulkan kehancuran. Perang yang berlangsung dari awal abad ke-20 sampai tahun 1945 sudah membunuh lebih dari 16.000.000 manusia, yang sebagian besar dari korban, justru adalah masyarakat sipil yang tidak memiliki kepentingan apa pun terhadap perang. Kemudian, pada rentang waktu yang sama, kita menyaksikan pula tingkat kemiskinan membengkak akibat perang. Jutaan anak dan wanita terserang penyakit, dan sejumlah kemajuan, serta pranata sosial dan ekonomi yang terbangun, hancur berkeping-keping. "Ketika perang usai", kata Francis Moore, "setelah kedua belah pihak lelah baku hantam dan akhirnya berdamai, apakah sebenarnya yang diperoleh rakyat?" Moore menjawab sendiri: "Pajak, janda, kaki kayu, dan utang".

Kita memang tidak tahu secara persis apa yang diinginkan oleh Amerika, dan juga tidak tahu mengapa Amerika sangat menggilai perang. Padahal dalam Piagam PBB, perang diletakkan sebagai instrumen terakhir dalam konflik internasional. Dalam pasal 51 dimuat pelarangan secara tegas penggunaan perang sebagai instrumen politik, kecuali untuk mempertahankan diri secara individu atau kolektif. Pelarangan itu juga termaktub pada pasal 2 ayat 4 yang berbunyi: Semua anggota dalam hubungan internasionalnya harus menahan diri untuk tidak mengancam atau menggunakan kekuatan terhadap integritas wilayah atau kemerdekaan politik negara lain. Mustahil Amerika tidak paham klausul ini, mereka kan tidak bodoh amat.

Merujuk pada statistik perang, Amerika dapat dikategorikan sebagai pembangkang utama Piagam PBB di atas dan sekaligus mengukuhkan diri sebagai si jago perang. Betapa tidak, dari lebih 105 peperangan yang terjadi dalam berbagai skala pada rentang waktu 50 tahun (1945-1990-an), khususnya seusai perang dunia ke-2, Amerika menduduki tempat teratas sebagai negara yang sangat sering berperang. Memang sebuah ironi, sebab Amerika adalah sebuah negeri di mana lembaga perdamaian didirikan, negeri tempat pasal-pasal pelarangan perang dikuat-kuasakan, dan juga sebuah negeri yang setiap waktu mengaku sebagai kampiun kemanusiaan.

Kita bersyukur, ternyata masih banyak negara-negara yang tidak sejalan dengan kebuasan Amerika dan Inggris, seperti Prancis, Jerman, Cina, dan Rusia misalnya. Pada hemat saya, penolakan mereka terhadap perang yang dicanangkan Amerika pastilah tumbuh dari sebuah kesadaran bahwa perang bukanlah merupakan sebuah instrumen penyelesaian pertikaian yang bermoral. Atau paling tidak penolakan itu muncul sebagai sebuah antitesis dari kebiasaan negara maju, seperti yang dikatakan oleh Klaus Knorr dalam Military Power and Potential, bahwa negara maju sering memanifestasikan power politik dalam bentuk kemampuan pemerintah untuk mempengaruhi atau memaksa pemerintah lain untuk menyetujui keinginan politiknya.

Kita jelas menolak serangan Amerika atas Irak kare-na akan lebih banyak bencana kemanusiaan yang akan timbul ketimbang perdamaian yang akan tegak. Apalagi, seperti yang banyak dicurigai masyarakat dunia, perang Amerika ini lebih bertendensi balas dendam dan menjatuhkan seseorang, serta penguasaan atas sumber daya minyak ketimbang hal-hal lain. Kita menolak rencana si jago perang, Amerika, karena kita menolak manusia dan kemanusiaan dihancurkan.
Sesungguhnya, menurut Bonar Law, "tidak ada perang yang tak terelakkan. Kalau perang pecah, maka itu adalah karena manusia gagal bertindak bijaksana".

(9 Maret 2003)


Tulisan ini sudah di baca 134 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku 1001 Saddam

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/1001-Saddam/179-Si-Jago-Perang.html