drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

1001 Saddam | Bagian : 5

Satu Kata Beda Makna


Oleh : drh.chaidir, MM

Suatu hari di tengah keramaian kota Bangkok, Thailand, mata saya tertumbuk pada sederetan kaos yang dipajang oleh pedagang kaki lima setempat. Ada sebuah kaos mencolok mata, desainnya nyeleneh. Lukisan wajah dua tokoh kontroversial yang sangat populer di dunia saat ini terpampang berdampingan. Keduanya ganteng laksana sahabat karib. Siapa lagi kalau bukan George W. Bush dan Osama bin Laden. Yang pertama tentu Presiden Amerika Serikat, yang satunya pemimpin AI Qaeua yang saiigai. uibeiuji Amerika Serikat. Islahkah? Rujukkah? Atau rekonsiliasikah mereka? Adakah kampanye di Thailand untuk menda-maikan dua pihak yang berseteru itu? Ternyata tidak.

Di atas lukisan kedua tokoh itu tertulis: "Two Terrorists". Maknanya jelas bin tegas: dua orang teroris. Lebih jelas lagi maksud perancangnya, Osama bin Laden adalah teroris, George W. Bush juga teroris. Yang tidak jelas adalah, apa kira-kira pikiran yang ada dalam benak perancang desain kaos itu. Macam berani betul dia. Apakah karena rasa humornya yang tinggi, atau karena berangkat dari sebuah perenungan yang sarat dengan kepedihan terhadap tragedi kemanusiaan yang tak habis-habisnya. Kedua tokoh ini telah menjadi konsumsi pemberitaan yang selalu bernuansa pembunuhan, Osama bin Laden dengan pengikutnya memerangi Amerika sebagai zionis yang ikut bertanggung jawab terhadap pembantaian warga sipil Palestina, sementara Amerika memerangi Osama bin Laden dengan pengikutnya dengan tuduhan sebagai teroris.

Desain kaos yang nyeleneh itu bisa mengandung makna yang dalam, bisa juga tidak bermakna apa-apa. Tergantung siapa yang melihatnya dan siapa yang memakainya. Bagi yang menaruh perhatian khusus dan rajin mengikuti sepak terjang kedua tokoh itu, lukisan tersebut agaknya bolehlah dianggap mewakili. Bisakah anda membayangkan apa reaksi George W. Bush dan Osama bin Laden bila mereka dikirimi kaos tersebut?

Kalau kaos itu dijual di negeri-negeri di mana sentimen anti Amerikanya cukup kuat, maka itu adalah sesuatu yang wajar. Tetapi Thailand, negeri yang tidak pernah dijajah ini, bukanlah negeri anti Amerika (walaupun bukan sekutu AS). Oleh karena itu, adanya kreasi desain kaos seperti itu cukup menarik, karena memberikan sinyal bahwa sikap pro-kontra terhadap pertelagahan yang seakan tak terdamaikan antara Amerika Serikat dan Osama bin Laden sudah menja wacana di serata dunia. Dunia punya hak untuk menilai mana yang benar dan mana yang salah.

Bagi Amerika Serikat dan sekutunya, Osama bin Laden dengan Al Qaedanya adalah teroris, tetapi sebaliknya bagi Osama bin Laden dan pengikutnya, Amerika Serikatlah yang teroris. Klaim dari masing-masing kubu sama, yakni sama-sama merasa benar dan sama bersikukuh kubu lainlah yang menebar pembunuhan. Mana yang salah dan mana yang benar sungguhan, wallahu A'lam, karena kedua kubu jangankan kalah, merasa draw pun tidak mau.

Tetapi di atas semua itu, sesungguhnya dalam dunia yang sudah semakin tua ini tidaklah mudah untuk membedakan yang baik dan yang buruk secara hitam putih. Cerita Kahlil Gibran, seorang penulis besar Le-banon yang besar di Amerika Serikat, agaknya layak dielaborasi. Suatu hari, cerita Kahlil Gibran, Kebaikan dan Keburukan bertemu di tepi laut. Mereka saling berkata, "Marilah kita berenang ke laut". Lalu mereka menanggalkan pakaian dan berenang. Setelah beberapa saat, Keburukan kembali ke tepi dan mengenakan pakaian Kebaikan, kemudian pergi. Pada saat Kebaikan keluar dari laut ia tidak menemukan pakaiannya, karena malu bertelanjang akhirnya ia mengenakan pakaian Keburukan. Akibatnya hari ini, kata Kahlil Gibran, kita tak mampu mengenali mereka satu per satu. Hanya ada beberapa orang yang mengenali Kebaikan meskipun ia menggunakan pakaian Keburukan. Ada juga yang da-pat mengenali Keburukan, karena pakaian yang ia kenakan, tak mampu menyembunyikan wajahnya yang asli. Kahlil Gibran agaknya benar, sekarang kita sulit mengenali keduanya.

Teroris hanya satu kata, dan sesungguhnya jelas artinya universal, tapi dimaknai secara berbeda tergantung dari sudut mana memandangnya.

Tragedi Bali adalah sebuah tragedi nasional bahkan internasional. Tragedi ini jelas merupakan ulah dari teroris. Tapi kita belum tahu yang mana. Tragedi yang merenggut hampir 200 nyawa ini disebut sebagai tragedi kedua terbesar setelah tragedi WTC New York. Kita telah memasuki lembaran baru dalam kehidupan berbangsa, yang sayangnya bukan lembaran penuh dengan keindahan, melainkan sebuah lembaran hitam. Orang boleh saja berdebat tentang teror itu, tapi sebuah stasiun televisi swasta terkenal di Jakarta, dalam jajak pendapat yang diadakannya, menampilkan angka: hanya sekitar 25% saja dari responden yang percaya pengeboman itu dilakukan oleh orang-orang Indonesia, 50% lainnya berkeyakinan pembunuhan kejam itu dilakukan oleh konspirasi intelijen negara asing. Sekitar 25% lainnya tidak tahu atau tidak berkomentar.

Bagi kita sebenarnya, tak peduli teror itu dilakukan oleh siapa, oleh jaringan Al Qaeda atau bukan, oleh intelijen Amerika atau bukan. Teror itu telah memberikan pelajaran yang teramat pahit, menyesakkan dada, dan meninggalkan luka yang teramat dalam.

Pengeboman di Bali itu tidak hanya sekedar membunuh manusia, tetapi juga membunuh karakter bangsa. Bangsa Indonesia sebagai bangsa yang berbudaya tinggi, halus budi, santun, bangsa yang penyayang, tercoreng demikian saja oleh bom itu.

Bangsa kita agaknya sedang mengalami ujian yang sangat berat. Dulu kita diadu domba oleh VOC (Veree-nigde Oost Indische Compagnie - gabungan perusa-haan-perusahaan dagang Belanda untuk perdagangan di Hindia Timur) yang kelihatan wujudnya, kini kita dipecah-belah oleh kekuatan yang tak jelas wujudnya. Kekuatan itu menyebarkan virus dalam otak kita masing-masing dan virus itu bernama kepentingan. Obatnya hanya satu: membangun kebersamaan (societal cohesiveness) yang bermartabat, bermoral, dan berkeadilan dengan latar kearifan.

(20 Oktober 2002)


Tulisan ini sudah di baca 202 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku 1001 Saddam

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/1001-Saddam/178-Satu-Kata-Beda-Makna.html