drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

1001 Saddam | Bagian : 5

Arogansi Amerika Itu


Oleh : drh.chaidir, MM

Terorisme kembali menjadi sebuah kata yang penting pada akhir-akhir ini. Terorisme menjadi sebuah kata yang penting, bukan saja karena kata itu dikaitkan dengan sesuatu yang berkonotasi menakutkan, keji, biadab, ataupun berbau darah, tapi karena pada saat ini kata itu berhubungan dengan sebuah negeri yang bernama Amerika. Sebuah negeri, yang paling getol memburu para teroris, yang kemudian menjadi korban terorisme itu sendiri.

Gaung kata terorisme itu semakin bergema, karena tanggal 11 September 2002 ini, Amerika Serikat memperingati genap setahun tragedi penabrakan yang melu-luhlantakkan gedung World Trade Center, yang menu-rut Amerika dilakukan oleh jaringan Al Qaeda pimpinan Osama bin Laden. Kita paham mengapa Amerika sangat marah. Bagi Amerika, serangan 11 Sepetember 2001 yang lalu merupakan sebuah kehinaan besar, di mana sebagai sebuah negara adidaya, yang selama ini mengaku memiliki sistem pertahanan tercanggih, dibuat tak berdaya. Kehinaan yang diterima oleh Amerika ini, bagi pemerintahan Bush, lebih besar dari apa yang pernah terjadi pada tahun 1941 yang mereka sebut sebagai "Hari Kehinaan" (Day of Infamy), yaitu ketika pasukan Kamikaze Jepang datang secara tiba-tiba dan menghancurkan Pearl Harbour.

Sekali lagi, kita paham dan sangat mengerti, jika karena peristiwa itu, Amerika mengambil suatu tindakan. Yang membuat kita tidak paham adalah ketika Amerika harus menuding orang lain sekehendak hatinya, untuk memuaskan diri. Amerika sepertinya secara sengaja menjadikan peristiwa 11 September 2001 sebagai dasar pijakan tanpa batas untuk mendiskreditkan musuh-musuhnya, seperti Irak, Iran, Libya, Kuba, Suriah, Korut, dan bahkan sampai pada negara-negara semacam Indonesia dan Malaysia.

Indonesia? Lalu apa hubungan peringatan "September Kelabu" yang berlangsung di Amerika itu dengan Indonesia? Ternyata khusus terhadap Indonesia, Amerika menganggap bahwa di Indonesia terdapat jaringan Al Qaeda, yang selain eskalasinya semakin besar, juga sewaktu-waktu dapat mengancam, sehingga Amerika perlu mengambil langkah-langkah pengamanan, setelah lebih dulu menuduh bahwa pemerintah Indonesia tidak mengambil langkah-langkah memadai untuk mengatasi keadaan itu. Salah satu langkah pengamanan yang dilakukan Amerika adalah menutup kantor kedutaan Besarnya di Jakarta dan Konsulat Jenderal di Surabaya. "Walau Al Qaeda dikejar-kejar, kita tahu bahwa jaringan Al Qaeda masih jauh dari dikalahkan. Kami menerima contoh jelas mengenai itu beberapa jam yang lalu, melalui informasi yang dapat dipercaya mengenai ancaman suatu teroris tertentu terhadap Kedutaan Besar kami di Jakarta dan Konsulat Jenderal di Surabaya, yang menyebabkan ditutupnya kedua perwakilan itu," kata Dubes Amerika untuk Indonesia, Ralph Boyce, seperti yang dikutip oleh berbagai media.

Sebegitu hebatkah terorisme di Indonesia, sehingga membuat negara semacam Amerika menjadi takut? Tidakkah itu berlebihan? Amerika wajar untuk takut dan sekaligus benci dengan terorisme. Saya kira, bukan hanya Amerika. Semua kita tidak setuju dengan terorisme, karena terorisme, dalam bentuk seperti apa pun atau dengan alasan yang bagaimanapun, adalah suatu penghinaan terhadap kemanusiaan. Atau seperti yang dikatakan oleh Bush, karena terorisme itu berbahaya ba-gi tiga gagasan besar dunia, yaitu berbahaya terhadap perdamaian, demokrasi, dan pasar bebas. Yang tidak wajar dan tidak kita setujui adalah, jika Amerika menjadikan apa yang menimpa dirinya sebagai sebuah alasan untuk menuding semua orang atau banyak negara sebagai bagian yang ikut bertanggung jawab.

Jika lebih jauh kita melihat, tidakkah sesungguhnya terorisme itu muncul, justru karena kebijakan internasional Amerika yang salah, memihak, dan tidak seimbang? Dalam berbagai kasus politik internasional, misalnya persoalan Palestina - Israel, sangat terlihat bagimana Amerika cenderung memihak Israel, dan bahkan selalu menerima tanpa reserve konsep-konsep tentang bahaya Islam Palestina. Sikap-sikap Amerika dalam sejumlah kebijakan internasional yang tidak seimbang tersebut, bagi banyak negara dunia ketiga, adalah semacam gerakan Neo-Imperialisme, dan tentu saja sikap itu menyakitkan serta menuai perlawanan. "Jika imperialisme meningkat, baik dalam jangkauan maupun kedalamannya, tulis Edward W. Said dalam "Culture and Imperialism", maka perlawanan pun akan semakin kuat. Dalam kasus Amerika Serikat, mungkin kondisi inilah yang menjadi bibit terorisme, khususnya ketika orang tak lagi punya jalan yang normal untuk menyelamatkan dirinya dari penderitaan.

Peristiwa peringatan 11 September sepertinya secara sengaja dijadikan sebuah jalan bagi Amerika untuk bisa memiliki kesempatan meneguhkan hegemoni, juga sekaligus ikut campur dalam urusan negara lain. De-ngan segala dalihnya, Amerika Serikat, melalui tragedi yang terjadi, seperti sedang membangun pembenaran untuk melakukan sesuatu. Ini mungkin, karena setelah perang dingin selesai dan sebagian besar negara komunis membubarkan diri, Amerika seperti kehilangan pijakan untuk mencampuri kedaulatan negara lain.

Yang terasa menusuk bagi kita dalam hubungannya dengan peristiwa ini, adalah betapa Amerika seakan-akan menggiring persoalan terorisme ini paralel dengan Dunia Islam. Padahal Dunia Islam mencintai perdamaian, lebih besar dari yang mampu diperkirakan oleh Bush, ataupun Amerika sendiri. Kita berharap, agar Amerika Serikat, khususnya pemerintahan Bush, dapat memandang persoalan secara lebih baik dan arif, searif Jefferson atau Abraham Lincoln dalam memandang diri dan Amerika.

Kekuasaan dan kemampuan besar, seharusnya seperti sebuah telaga, kata tokoh spiritual Cina, Lao Tse, ia tenang dan dalam, tidak bergemuruh seperti sungai yang mengalir dari gunung. Kita berharap Amerika begitu. Jika tidak, seperti apa yang dikatakan oleh banyak pengamat, maka1 Amerika akan menuai perlawanan yang semakin mere-bak, baik secara samar maupun terang-terangan. Kita tidak berharap Amerika Serikat justru yang menyemai bibit-bibit ketidakpuasan itu dan kemudian menyuburkannya. Kata orang, siapa yang menabur angin akan menuai badai.

(15 September 2002)


Tulisan ini sudah di baca 182 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku 1001 Saddam

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/1001-Saddam/177-Arogansi-Amerika-Itu.html