drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

1001 Saddam | Bagian : 5

Pandanglah Ke Timur


Oleh : drh.chaidir, MM

Mulut kamu adalah harimau kamu. Pepatah ini, sekarang mungkin sangat tepat untuk dialamatkan pada Amerika dan Inggris, pasca penyerbuan brutalnya ke Irak. Penyerbuan yang dimulai dengan pembenaran-pembenaran sepihak, yaitu dengan menuduh Irak memiliki Senjata Pemusnah Massal, akhirnya mengalami delegitimasi, khususnya setelah tuduhan tersebut, seperti yang diduga banyak pihak sejak awal, tidak terbukti. Lebih jauh, justru saat ini, Amerika dan Inggris mendapat kecaman dari dalam negeri dan dunia internasional. Bahkan, di Inggris berujung dengan kematian penasehat pertahanan, ahli senjata Dr. David Kelly, 59, yang sebelumnya menjelaskan kesalahan itu di BBC. Akibatnya, popularitas Perdana Menteri Tony Blair menurun.

Lebih dari itu, saat ini, Amerika juga harus menuai perlawanan dari rakyat Irak yang, konon, mereka bantu. Entah sudah berapa banyak tentara yang tewas oleh perang gerilya kota yang dilancarkan rakyat Irak, yang sepertinya sulit untuk diselesaikan. Kita tidak tahu, alasan apa lagi yang akan digunakan Amerika untuk membela diri atas fakta-fakta yang ada. Amerika dan Inggris mungkin bisa saja mengganti opini dunia dengan mengatakan bahwa tindakan mereka masih dapat dibenarkan karena Saddam telah bertindak sewenang-wenang, diktator, otoriter, dan itu diatur dalam Declaration of Human Right, "Untuk menjaga agar orang (negara) tidak mengambil jalan kekerasan sebagai jalan terakhir, maka kekuasaan sewenang-wenang dan penindasan harus ditentang keras." Saddam mungkin saja sewenang-wenang dan otoriter dalam pandangan Amerika, tapi itu tidaklah dengan serta-merta menjadi pembenar bagi Amerika untuk menyerang sebuah negara yang berdaulat, dan kemudian mendudukinya. Sebab, ketika sebuah kesewenang-wenangan tumbang, maka kekuatan yang datang seringkali menjadi sebuah kesewenang-wenangan baru pula. Hal ini tentu menjadi sebuah pengalaman yang teramat mahal yang harus dibayar oleh sebuah negeri.

Mungkin benar apa yang dipercayai orang, bahwa perang Amerika-Irak, sesungguhnya bukan persoalan senjata pernusnah massal, tapi lebih mengarah pada kehendak hegemoni dan mempertunjukkan power politik sebagaimana yang dilansir oleh Klaus Knorr dalam Military Power and Potential, bahwa negara maju sering memanifestasikan power politik dalam bentuk kemampuan pemerintah untuk mempengaruhi atau memaksa pemerintah lain untuk menyetujui keinginan politiknya.

Inilah sebenarnya yang utama, lagi pula Irak bukanlah sebuah kasus pertama dalam perang internasional. Hal yang sama pernah dilakukan oleh Amerika dalam kasus Ortega di Kolombia, perang Vietnam, penyerbuan Grenada, dan sekarang Amerika ikut campur tangan pula di Liberia dengan target presiden Charles Taylor.

Mengelaborasi konsep psikoanalisa Sigmund Freud, apa yang dilakukan oleh Amerika merupakan dorongan libidinal atas kehendak hegemoni yang besar dalam percaturan politik internasional. Tapi, pembenaran bukanlah kebenaran, dan seperti kata Thomas Jefferson, sebuah kebenaran akan terbukti dengan sendirinya. Pembenaran justru sebaliknya, terkadang bahkan mempermalukan kita. Malang bagi Amerika. Kebenaran itu terbukti dengan sendirinya, laksana dalam Kisah Seribu Satu Siang dan Malam, karya sastrawan pemenang Nobel, Najib Mahfouz, kebenaran, walaupun suatu tempo kelihatannya dizalimi, tapi di lain tempo pada saat yang tepat dia akan muncul mengalahkan kepalsuan. Lihatlah, bagaimana tuduhan terhadap Irak tidak terbukti dan kebenaran lain pun segera menampakkan diri dalam bentuk perlawanan rakyat Irak!

Perlawanan yang dilakukan rakyat Irak, pada hemat saya, sesungguhnya tumbuh dari sebuah kesadaran bahwa apa yang dilakukan Amerika bukanlah sesuatu yang secara murni dikehendaki oleh orang Irak sendiri. Rakyat Irak tetap memandang bahwa Amerika adalah bangsa asing yang datang dengan kesewenang-wenangan tersendiri, sebuah pribadi yang sedang, mencoba menguasai sebuah pribadi yang lain. Masyarakat Irak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Sigmund Freud dalam Civilization and Its Discontents yang mengatakan, bahwa jika pribadi lain berkuasa atas diri saya, maka pribadi itu pun akan menghancurkan, memperkosa, mengeksploitasi, dan membunuh saya, meski tak mendapatkan keuntungan dari tindakan tersebut. Atas dasar itu, rakyat Irak melawan. Lagi pula masyarakat Irak juga tahu, bahwa pe-rang yang terjadi sesungguhnya adalah persoalan pribadi yang digeneralisir menjadi persoalan bangsa dan persoalan internasional. Atau bahkan tidak berlebihan, bila perang itu disebut perang para paranoid.

Amerika mungkin harus meninjau ulang (remaking) terhadap semua kebijakannya dengan memandang bahwa Amerika bukanlah satu-satunya standar kebenaran. Pandanglah ke Timur! Timur boleh saja dianggap Barat sebagai negeri yang terlalu banyak tata krama, kurang produktif, atau kurang demokratis, tetapi Timur memi-liki banyak sekali pernik-pernik kebajikan dan persahabatan dan selalu memberikan penghargaan dan apresiasi yang layak terhadap hubungan persaudaraan. Belajarlah mencari kebaikan-kebaikan yang tercecer! Sebuah dunia internasional yang damai tidaklah harus diciptakan lewat sebuah perang, tapi juga dengan cara memandang orang lain dengan penghormatan yang besar. Gandhi lewat Satyagraha-nya telah mengajarkan kepada dunia bagaimana sebuah dunia yang damai dibangun, bagaimana sebuah kebenaran ditata. "Aku menentang orang Inggris dengan teramat sangat," kata Gandhi, "tapi aku tetap menghargai mereka sebagai teman dialog yang sederajat." Amerika harus mencontoh Gandhi untuk masa-masa mendatang.

(1 Agustus 2003)


Tulisan ini sudah di baca 145 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku 1001 Saddam

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/1001-Saddam/176-Pandanglah-Ke-Timur.html