drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

1001 Saddam | Bagian : 4

Sri Amanah Dwi Wangsa


Oleh : drh.chaidir, MM

SRI SULTAN Hamengku Buwono X, Sultan Yogyakarta, dianugerahi gelar kehormatan oleh Lembaga Adat Melayu Riau. Gelar yang dilekatkan cli pundak Sultan adalah Sri Amanah Dwi Wangsa. Mak-sudnya kira-kira, dengan gelar itu, si pemegeng gelar, sejak dikukuhkan, memangku amanah dan memiliki kewajiban moral untuk mengekalkan simpai persebatian kedua hala, Melayu dan Jawa.

Dari satu sisi pemberian gelar kehormatan ini adalah sesuatu yang biasa saja, seperti layaknya Presiden Prancis memberikan gelar kepada bintang film kita Christine Hakim. Namun di sisi lain, di tengah menguaknya isu primordialisme sempit atau bahkan isu disintegrasi, pemberian gelar kehormatan antara puak, laksana si tawar si dingin. Tidak dapat dinafikan, dewasa ini, permasalahan serius yang dihadapi oleh bangsa kita adalah menipisnya rasa solidaritas, rasa persatuan dan kesatuan, rasa senasib sepenanggungan. Ke bukit kita mungkin memang masih sama-sama mendaki, tetapi dengan cara dan kepentingan yang berbeda. Ke lurah mungkin kita masih sama menurun, tapi tak lagi satu tujuan dan miskin pula dengan persebatian.

Realitas sosial membendangkan, kita tidak lagi memberikan bobot penghargaan yang seimbang dan selaras terhadap kemajemukan dan semangat persatuan. Semangat yang mendominasi alam pikiran anak negeri ketika membaca "Bhinneka Tunggal Ika", agaknya telah bergeser dari "berbeda tapi satu" ke "satu tapi berbeda". Semangat primordialisme sudah berada di depan dan kelihatannya sudah mendominasi serta telah terekam dalam keseharian kita, ketika hidup serumah tapi tak lagi beramah tamah, h~idup bertetangga tak lagi jaga-menjaga, hidup sedusun tak lagi tuntun-menuntun, hidup sekampung tak lagi tolong-menolong, hidup sedesa tak lagi bertenggang rasa, hidup senegeri tak lagi beri-memberi, hidup sebangsa tak lagi rasa-merasa. Padahal pesan orang tua-tua kita tidaklah demikian. Orang tua-tua Melayu mengamanahkan: Hidup serumah beramah tamah, hidup bertetangga jaga-menjaga, hidup sedusun tuntun-menuntun, hidup sekampung tolong menolong, hidup sedesa bertenggang rasa, hidup senegeri beri-memberi, hidup sebangsa rasa merasa.

Salah satu faktor yang memberikan kontribusi cukup dominan dalam mempengaruhi kondisi itu agaknya adalah karena paradigma masyarakat kita yang sarat dengan muatan pohtik (paradigma politik lokal). Semua aspek dipolitisasi. Padahal kalau sudah bernuansa politik maka pendekatannya pasti kekuasaan dan kepentingan. Kalau sudah berbicara kekuasaan dan kepentingan, sederetan panjang kafilah-kafilah yang beraneka ragam yang terdiri dari individu, kelompok, suku, agama, wilayah, adat, bangsa, dan sebagainya akan terfragmentasi atau terpolarisasi dalam berbagai kotak. Kotak dan kutub-kutub ini satu dengan lainnya berpotensi untuk friksi.

Pluralitas itu adalah kenyataan sejarah umat manusia. Pluralitas itu kodrati sifatnya. Menidakkan pluralitas samalah artinya dengan menidakkan sunnatullah. Dalam format ideal, masing-masing kafilah tidak bisa saling menguasai, tapi antara keduanya harus memiliki peluang untuk mengatur diri masing-masing dan memiliki peluang untuk membangun komunikasi satu dengan lainnya melalui dialog-dialog lintas kafilah yang konstruktif. Namun apabila yang mengedepan selalu saja agenda politik, apalagi politik yang tidak berbudaya, yang tidak memiliki jati diri, maka format interaksi lintas kafilah tidak lagi ideal. Simbiose mutualistik antarkafilah tentu sukar diharapkan bila kondisi tidak lagi ideal. Yang terjadi adalah saling jegal, saling memojokkan, dan saling fitnah. Sebab politik itu memang suka menyem-bunyikan banyak wajah dalam banyak kafilah dan panjangnya gerbong yang melintasi.

Agar paradigma satu dalam perbedaan (unity in diversity) memiliki makna bagi kemaslahatan umat, maka buhulnya tidak boleh mudah terungkai. Persyaratannya antara lain adalah masyarakatnya harus sudah tercerahkan. Dengan masyarakat yang tercerahkan, perbedaan bukan sesuatu yang melemahkan. Heterogenitas atau pluralitas justru akan membuat kita semakin, cepat maju. Masyarakat yang tercerahkan adalah masyarakat yang memberi apresiasi yang tinggi terhadap kebudayaan. Mengapa kebudayaan? Memang akan banyak sekali jawaban untuk itu. Jawaban yang paling sederhana adalah karena kebudayaan itu dapat menerjemahkan diri secara lebih lugas. Kebudayaan merupakan sebuah implementasi dari seperangkat pemahaman, harapan, dan sekaligus kehendak manusia dalam mem-bangun dirinya. Dengan melakukan tindakan kebudayaan, orang menjadi dapat memandang diri sendiri, bangsa, masyarakat, dan tradisi dari sudut pandang ideal. Perbedaan-perbedaan cara pandang itu kemudian melahirkan keragaman kebudayaan pula antara satu dengan yang lain, bermula dari diri, kemudian menjadi kelompok, menjadi puak, dan perbedaan itu sampai menjadi sebuah bangsa.

Ketinggian dan keranggian kebudayaan sebuah puak atau negeri justru salah satunya diukur dari kemampuan menciptakan "kelainan" dengan yang lain, menciptakan sesuatu yang berbeda dengan orang lain. Ada identitas. Btfkan justru obsesi untuk membuat se-muanya menjadi uniform atau mengembangkan perasaan superioritas atau inferioritas, ordinate atau subordinate. Dengan demikian, sesungguhnya tidak perlu ada perasaan apriori dalam suatu dialog kebudayaan. Dialog diperlukan untuk memelihara komunikasi budaya. Kemiskinan dialog budaya justru akan menimbulkan misinterpretasi dan misinterpretasi akan membentuk asumsi-asumsi yang salah, bahkan bisa menjurus kepada fitnah.

Hemat kami, pemberian gelar tersebut adalah sesuatu yang biasa saja, bagian dari sebuah komunikasi kebudayaan, itu saja. Bukan sesuatu yang aneh. Ke depan wilayannya justru harus diperlebar secara selektif Agenda demi agenda kebudayaan yang mengedepankan intelektualitas, keluhuran budi, dan kesantunan akan menandai Provinsi Riau sebagai pusat kebudayaan Melayu. Semogalah upaya yang telah dilakukan oleh Lembaga Adat Melayu Riau memberikan sumbangan kepada upaya kita bersama untuk memperkokoh jalinan persatuan dan kesatuan dalam kemajemukan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kita cintai ini.

(29 Juni 2003)


Tulisan ini sudah di baca 195 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku 1001 Saddam

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/1001-Saddam/175-Sri-Amanah-Dwi-Wangsa.html