drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

1001 Saddam | Bagian : 4

AliBaba


Oleh : drh.chaidir, MM

Ali Baba merupakan kisah terkenal dalam dunia Arab, dan juga akrab dengan dunia Melayu. Syahdan, Ali Baba merupakan salah satu kisah dari seribu satu cerita yang disampaikan oleh Syahrizad menjelang tidur, sebagaimana termaktub dalam alfu Lailah wa Lailah, atau Seribu Satu Malam, yang di Eropa dikenal dengan nama Arabian Night.

Dalam Seribu Satu Malam, Ali Baba adalah sebuah cerita komedi sekaligus satire. Berkisah tentang seorang yang miskin, namun kemudian menjadi kaya karena menemukan sebuah goa harta para lanun bin penjahat ibni perampok. la kemudian tumbuh menjadi pedagang yang berhasil dan terkenal sangat dermawan di seantero Baghdad. Kekayaannya membuat banyak orang iri dan bermaksud jahat, tapi beruntung ia mempunyai seorang pembantu yang sangat cerdik, sehingga semua rencana kejahatan atas dirinya dapat digagalkan.

Dunia Melayu sangat mengakrabi tokoh ini. Allahyarham P. Ramlee, puluhan tahun yang lalu pernah menjadikan Ali Baba ini sebagai salah satu judul film komedi yang disutradarainya, dengan sedikit plesetan di sana sini. Jalan ceritanya tak jauh berbeda, tapi ketika Ali Baba akan membuka dan menutup kunci goa, mantera yang diucap oleh Ali Baba berubah menjadi bahasa wayang. Mat ingsun mantra aji Semar ngising Rampung ngising Semar tilem. Ade-ade saje P. Ramlee, bile pulak Ali Baba belajar bahasa Jawa, hehehe.

Seiring dengan perjalanan waktu, zaman, dan kepentingan, Ali Baba menemui sebuah erosi penafsiran. Sebagai contoh, nama itu beberapa waktu belakangan ini menjadi sebuah sebutan yang terkenal, khususnya setelah perang Irak dan Amerika usai, dengan kekalahan di pihak Irak dan Saddam Husein. Tapi sayang, popularitas nama Ali Baba di Baghdad ini bernuansa sangat negatif, karena dinisbatkan dengan peristiwa penjarahan yang berlangsung secara besar-besaran di berbagai sudut kota. Entah mengapa, seusai perang, seperti terorganisir, para penduduk serentak melakukan perampasan, mulai dari toko, gedung pemerintah, bahkan sampai kedutaan negara asing.

Penafsiran yang paling sering digunakan untuk kata Ali Baba ini adalah untuk menyebut adanya kerja sama lain saling bertolak belakang, baik secara etnik, cara hidup, maupun kultur. Di Malaysia misalnya, kerjasama dua orang atau kelompok dimana satu sama lain saling bertolak belakang, baik secara etnik, cara hidup maupun kultur, ada semangat predator. Sekali waktu Baba makan Ali, lain waktu Ali pula makan Baba, dan pada waktu tertentu, Ali dan Baba berkolaborasi makan anak buah Ali dan Baba, dan makan yang lain-lain lagi.

Kerja sama, baik antara dua orang, dua kelompok, atau dua daerah yang berbeda, bukanlah sesuatu yang negatif, sebaliknya dianjurkan demi kemajuan. Dalam sejarah dunia, tidak ada sebuah puak atau negara dapat menjadi besar dan maju tanpa melakukan kerja sama dengan pihak lain. Kerja sama adalah suatu hal yang tak terelakkan, karena ia semacam sunnatullah atau hukum alam bagi interaksi manusia. Tanpa kerja sama, akan banyak hal yang terbengkalai, dan kita tentu saja tidak berharap hal itu terjadi. Pemerintah Provinsi Riau, dalam upaya percepatan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi, juga melakukan berbagai kerja sama dengan beberapa pihak luar yang dianggap mungkin, misalnya dalam hal minyak, pembangunan infrastruktur, pembangunan ekonomi, dan lain sebagainya. Kita tentu saja mendukung hal itu, sepanjang semua kerja-sama yang dilakukan itu memang ditujukan untuk kemaslahatan masyarakat. Yang tidak akan kita setujui adalah kerja sama dalam terma tafsiran negatif Ali Baba di atas. Kemaslahatan dan kemakmuran masyarakat, haruslah menjadi pangkal dari semua kerja sama dan kebijakan, baik ekonomi, politik, sosial, maupun budaya yang dilakukan pemerintah. Jika kemakmuran masyarakat tidak dijadikan matlamat, maka kerjasama apa pun yang dilakukan hanya akan menjadi alat bagi kepentingan sepihak.

Yang lebih parah lagi adalah, jika kerjasama yang dilakukan oleh warga Ali dan kelompok Baba adalah kerjasama untuk menyengsarakan rakyat, menebang hutan-hutan ulayat, atau melipat uang rakyat. Sebagai contoh adalah kasus perbankan, dimana uang rakyat justru dipergunakan untuk semata demi kepentingan kelompok Baba, sebagaimana yang terjadi pada kasus BLBI. Kalau yang model begini, tak peduli Ali tak peduli Baba, harus dilawan.

Kembali pada berbagai kerjasama yang dilakukan oleh Pemerintah Riau, hal yang harus dicermati adalah apakah kerja sama yang dilakukan itu penting bagi Riau atau tidak. Jangan sampai, misalnya, kita berharap investasi yang kita terima pada waktu berikutnya adalah demonstrasi. Selain itu, apakah juga kebijakan-kebijakan yang dibuat tersebut kelak berpotensi melahirkan kekuatan baru, semacam yang terjadi di Malaysia atau tidak. Andai tidak, kolaborasi semacam apa pun, perlu dipikir .ulang.

Ali Baba yang akan ada di Riau haruslah Ali Baba yang positif, sebuah perpaduan warna yang menghasilkan warna-warna yang bagus di atas kanvas. Jika yang demikian itu terjadi, maka setiap orang di Riau akan menyanyikan lagu Ali Baba, lebih merdu dari yang dinyanyikan dalam film P. Ramlee, ya Ali, ya Baba, ya Aliiiiiiiiii Baba.

(27 April 2003)


Tulisan ini sudah di baca 168 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku 1001 Saddam

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/1001-Saddam/173-AliBaba.html