drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

1001 Saddam | Bagian : 4

Historia Vital Magistra


Oleh : drh.chaidir, MM

Pada acara Pelatihan Kepemimpinan yang ditaja oleh Jaringan Komunikasi Organisasi Melayu Riau (JKOMR), saya diminta untuk memberikan semacam "petuah" tentang bagaimana semestinya sebuah kepemimpinan dilaksanakan. Saya tidak memberikan petuah, tapi hanya mencoba berbagi catatan dan bersanding fikir dengan kita semua.

Saya hendak memulai catatan ini dengan mengambil simpulan yang diutarakan oleh Theodore A. Couloumbis dan James H. Wolfe. Dalam risalahnya yang berjudul Introduction to International Relation: Power and Justice, dikatakan bahwa kebesaran atau ketidakca kapan, kearifan atau ketidakrasionalan, kecerdasan atau ketidaktahuan, dan keefektifan atau ketidakmampuan seorang pemimpin akan sangat berpengaruh bagi power yang dimiliki sebuah negara. Saya sependapat dengan itu. Amerika, Prancis, India, Inggris, Jerman, dan Rusia menjadi negara-negara yang penting tidaklah semata-mata karena kelebihan yang fantastis dibandingkan dengan kita. Mereka menjadi maju karena, selain memiliki sumber daya materiil, negara mereka juga dibangun dengan sebuah fondasi kepemimpinan yang cerdas dan berkepribadian kuat. Mereka menjadi maju karena mereka menyimpan seorang Thomas Jefferson, Napoleon Bonaparte, Mahatma Gandhi, Winston Churchill, Adolf Hitler, Stalin, dan seterusnya serta sejumlah nama lain lagi yang memberikan pengaruh besar dalam sejarah dunia.

Sejarah Melayu pun memperlihatkan hal yang sama. Jika kita menyimak perjalanan kegemilangan kebudayaan dan pentadbiran Melayu, mulai dari zaman Sriwijaya, Johor, Riau-Lingga, Melaka, sampai Siak Sri Inderapura, maka kita dapat pula melihat bahwa ternyata, lebih banyak keberhasilan dunia Melayu tersebut berpuncak dari faktor kepemimpinan. Sriwijaya misalnya. Kegemilangan Kerajaan Sriwijaya tidaklah karena Sriwijaya sangat kaya dengan hasil alam atau memiliki balatentara yang sekuat pasukan Alexander The Great atau Iskandar Zulkarnain, tapi justru karena pada masa kegemilangan itu, Sriwijaya dipimpin oleh seorang yang cerdas (Dapunta Hyang) dan memiliki kepribadian yang baik serta kuat.

Dengan kepemimpinan seperti itu, kita menyaksikan bagaimana Sriwijaya mengokohkan diri sebagai sebuah negeri Melayu yang sangat terkenal pada zaman-nya. Sriwijaya menjadi kerajaan nasional yang pertama di Nusantara, bahkan sempat menjadi kerajaan pertama yang memiliki sistem pendidikan sampai tingkat Perguruan Tinggi, yaitu Universitas Nalanda, dengan salah satu guru besarnya adalah seorang anak negeri yang bernama Satyakirti.

Kemudian Riau-Lingga. Kegemilangan tanah ini mencuat justru pada abad ke-19. Pada masa itu, para pemegang teraju kekuasaan yang juga terdidik berkolaborasi dengan para ilmuan dan budayawan semisal Raja Ali Haji, Khalid Hitam, Aisyah Sulaiman, dan sejumlah tokoh berpengetahuan luas lainnya. Pada masa ini semua hal diatur secara baik, sampai kepada tugas-tugas yang diemban oleh seorang raja. Seorang raja (seperti yang tertera dalam kitab Tsamarat al-Muhimmah), mempunyai dua tugas utama. Pertama, tugas pemakmuran. Tugas ini mewajibkan seorang pemimpin harus mampu bekerja keras untuk memberikan jaminan kemakmuran bagi rakyat. Kedua, melakukan tugas sebagai imam. Jika sebelum rasionalisasi Islam pemimpin diartikan sebagai "bayang-bayang Tuhan di atas muka bumi" (Dzilullah fil Ardhi), maka setelah rasionalisasi tugas seorang pemimpin adalah juga tugas spiritual, yaitu mengembangkan syiar agama di tengah-tengah masyarakat.

Tersebab kepemimpinan merupakan elemen kunci dalam menuju kemajuan, maka harus ada pula ukuran-ukuran terhadap kepemimpinan itu sendiri. Filsuf Ibnu Khaldun dalam risalahnya yang berjudul "Negara Utama" (Al Madinatul Fadilah) menetapkan bahwa paling tidak harus ada 4 (empat) syarat bagi seseorang yang ingin menjadi pemimpin. Pertama, memiliki kesehatan yang baik (jasmani dan rohani). Kedua, berpengetahuan luas (cerdas) dan bijaksana. Ketiga, sanggup bekerja keras, dan Keempat, taat beribadah kepada Allah. Dengan memiliki paling tidak empat hal itu, kata Ibnu Khaldun, maka baru dimungkinkan sebuah negeri akan dapat berjalan dengan baik dan sesuai harapan.

Adalah suatu hal yang menyedihkan, ketika kita melihat, banyak di antara kita yang lebih mengedepankan semangat untuk memimpin ketimbang lebih dulu membekali diri dengan elemen-elemen yang seharusnya ada. Budaya ingin mendapatkan sesuatu secara cepat saji; (instan), bukanlah suatu model yang baik, karena pada gilirannya justru akan membawa negeri menuju malapetaka. Dunia Melayu telah memberikan contoh yang jelas tentang hal ini. Ketika Raja Ali Kelana ditahbiskan sebagai Kelana (calon Yang Dipertuan Muda Riau) atau Perdana Menteri, maka hal pertama yang dilakukannya adalah mencari ilmu pengetahuan, dan kemudian melakukan perjalanan keliling ke serata negeri dan daerah taklukan. Perjalanan ini dilakukannya, dengan maksud untuk mengetahui secara jelas persoalan-persoalan yang ada dalam masyarakat, yang kelak akan dipimpinnya. Di sepanjang perjalanan, ia membuat sejumlah catatan mengenai peristiwa-peristiwa sosial, ekonomi, dan hukum. Ketika kelak menjadi Yang Dipertuan Muda, ia sudah mengetahui permasalahan dasar yang harus ia kerjakan.

Jika pada masa sekarang generasi muda Melayu menginginkan sebuah negeri yang maju, maka banyak-banyaklah belajar, baik belajar untuk membekali diri dengan pengetahuan, belajar memahami persoalan-persoalan aktual, dan juga belajar dari sejarah. Ya, juga dari sejarah. Historia vital magistra, sejarah adalah guru yang utama, dan dengannya kita bisa memahami sejumlah persoalan yang telah terjadi, untuk kita perbaiki sisi salahnya pada hari ini. Andaipun pada generasi muda Melayu terkini telah muncul kesadaran tentang tanah dan sejarah, tapi jika tidak diimbangi dengan pengetahuan dan pemahaman, maka kita akan kembali mengulang kesalahan yang sudah terjadi.

Negeri kita terkini memerlukan orang-orang yang bisa berjuang secara cerdas, karena kenyataan mengajarkan kepada kita, bahwa perjuangan tanpa bekal yang cukup tidak akan memberikan hasil yang optimal bagi diri kita. Saya, mungkin juga seluruh orang di negeri itu berharap generasi hari ini mau belajar dari semua Peristiwa yang telah terjadi, sehingga kelak negeri ini memiliki seorang pemimpin yang dapat memakmurkan negeri, serta memegang amanah tanah dan sejarah.

By amending our mistakes, we get wisdom. Ya, mari kita percaya bahwa generasi kita telah menjadi bijak dengan belajar dari kesalahan. Dengan optimisme semacam itu, dan semangat kuat generasi penerus, maka kita mempunyai harapan besar. Kerja keras harus terus terbangun secara berkelanjutan, sebab meski harapan itu besar, tapi kadangkala seperti kata penulis besar Franz Kafka, "memang ada banyak harapan, tapi bukan untuk kita." Mari terus membangun diri dan dengannya kita akan memiliki diri.

(12 Januari 2003)


Tulisan ini sudah di baca 136 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku 1001 Saddam

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/1001-Saddam/172-Historia-Vital-Magistra.html