drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

1001 Saddam | Bagian : 4

Mega Kurban


Oleh : drh.chaidir, MM

Tidak ada peristiwa pengorbanan terbesar yang tercatat dalam sejarah perkembangan dunia selain kisah Nabi Ibrahim AS, yang harus menyembelih anak kandungnya, Ismail, karena mendapat perintah dari Allah SWT. Agaknya selama dunia terkembang inilah kisah pengorbanan yang paling monumental, yang setiap tahun selalu dirujuk dan dikenang. Kisah pengorbanan Nabi Ibrahim AS yang harus mengorbankan anak satu-satunya. Ismail. amat sangat mencekam. Betapa tidak, anak yang paling disayang diperintahkan untuk dikurbankan.

Dalam perspektif kekinian, perintah itu memang terasa sangat aneh dan mengada-ada. Tapi di zaman nabi-nabi dulu, perintah seperti itu memang dimungkinkan terjadi. Mendengar perintah yang diterima oleh ayahandanya, Ismail dengan yakin dan ikhlas menja-wab penuh hormat kepada ayahandanya: "....Hai Bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar".

Kemudian, sebagaimana diriwayatkan dalam kuku-buku sejarah Islam, Nabi Ibrahim AS membawa Ismail ke suatu tempat yang sunyi di Mina, tempat di mana para jemaah haji beratus-ratus tahun kemudian melakukan ritual melempar jumrah. Konon, sebelum acara penyembelihan dimulai, Ismail mengajukan tiga permohonan, yaitu: (1) sebelum ia disembelih hendaknya terlebih dahulu Ibrahim AS mengasah pisau setajam-tajamnya, agar ia cepat mati dan tidak menimbulkan rasa kasihan maupun penyesalan dari ayahnya; (2) ketika menyembelih, muka Ismail harus ditutup agar tidak timbul rasa ragu dalam hati ayahnya, karena kasihan melihat wajah anaknya; dan (3) bila penyembelihan telah selesai, agar pakaian Ismail yang berlumuran darah dibawa ke hadapan ibunya, sebagai saksi bahwa kurban telah dilaksanakan.

Maka, sebagaimana diriwayatkan, dengan berserah diri kepada Allah SWT, Ismail pun dibaringkan dan dengan segera Ibrahim AS menyentakkan pisaunya dan mengarahkannya ke leher anaknya. Akan tetapi, sebagaimana disebut dalam kitab suci Al Qur'an, keajaiban memang terjadi sebagaimana dikehendaki oleh Allah SWT. Ismail diganti oleh Allah SWT dengan seekor domba yang besar. Maka kisah mega kurban itu pun berakhir dengan happy ending.

Andaikan Ismail tidak diganti secara tiba-tiba oleh: Allah SWT dengan seekor domba, maka peristiwa tragis akan terjadi, dan tentu ceritanya akan lain. Tentulah Ismail mati muda dan tentu Nabi Ibrahim AS harus membawa pakaian yang berlumuran darah itu pulang ke rumahnya untuk diperlihatkan kepada isterinya, yang notabene adalah ibunda dari Ismail AS. Hati ibu mana yang tidak akan hancur berkeping-keping bila suasana itu kita pandang dalam emosi dengan perspektif kekinian. Dan tentulah lain skenario sejarah mega kurban itu yang harus dijelaskan kepada umat Islam abad demi abad kemudian, sampai kiamat menjelang.

Peristiwa itu mengingatkan kepada manusia yang beriman bagaimana semestinya kepatuhan dan ketaatan kepada perintah Allah SWT. Nabi Ibrahim AS telah menunjukkan betapa patuhnya dia, dikalahkannya semua perasaan sedihnya yang tentu amat sangat luar biasa. Nabi Ibrahim AS tidak tahu adanya skenario dari Allah SWT untuk mengganti Ismail dengan domba di saat kritis itu. Oleh karenanya, peristiwa mega kurban Nabi Ibrahim AS dan Ismail itu kemudian diabadikan oleh Allah SWT menjadi salah satu unsur syariat Islam, yang hingga kini dilaksanakan oleh setiap muslim yang mampu.

Setiap tahun, kemudian, umat Islam yang memiliki kemampuan dan keberadaan selalu menyembelih hewan kurban dan memberikan daging hewan kurbannya kepada orang-orang yang tidak mampu. Daging-daging hewan kurban itu bahkan tidak lagi hanya didistribusikan lintas RT atau RW. Saudi Arabia misalnya, setiap tahun mengirim beratus-ratus ton daging hewan kurban ke negara-negara Islam yang miskin di Afrika. Tindakan menyembelih hewan kurban itu sesungguhnya bermakna simbolik. Di masa Nabi Ibrahim AS, hewan ternak merupakan simbol kekayaan yang paling tinggi. Orang yang banyak memiliki ternak adalah orang kaya, orang yang tidak memiliki ternak adalah orang miskin. Tapi di zaman sekarang simbol kekayaan bukan lagi kambing, onta, atau sapi, melainkan rumah-rumah megah, mobil mewah, atau perkebunan berhektar-hektar. Menyembelih seekor kambing atau seekor sapi bagi orang kaya, nilainya mungkin tak seberapa.

Penyembelihan hewan kurban tidak lagi dilihat dalam aspek kepatuhan terhadap perintah Allah SWT dan ketaatan menjalankan syariat agama, tetapi juga mengandung semangat toleransi dan kesetiakawanan. Lebih dari itu sesungguhnya adalah semangat kebersamaan dan semangat rela berkorban. Yang kaya membantu yang miskin, yang kuat membantu yang le-mah, yang pintar menolong yang bodoh. Dalam makna yang paling hakiki, kurban berarti kedekatan. Esensi pelaksanaan ibadah kurban adalah sesuai dengan arti-nya, yaitu dekat, atau dengan kata lain, bahwa kurban merupakan sebuah upaya mendekatkan diri kepada Tuhan dan sesama manusia. Dalam hubungan antarmanusia, setiap orang memerlukan orang lain. Hubungan yang ideal mestilah terbangun atas dasar saling memberi dan saling mendekatkan diri.

Dalam konteks kehidupan negara, semangat berkurban juga merupakan suatu hal yang sangat diperlukan. Negara yang bernama Indonesia, atau sebuah negeri yang bernama Riau ini, sesungguhnya hanya akan bisa sampai pada matlamat, yaitu menjadi Indonesia yang makmur, atau menjadi Riau yang sejahtera, jika semua elemen masyarakat menumbuhkan semangat berkorban dalam diri, jika semua orang Riau sudah mempersiapkan dirinya untuk berkurban, sesuai dengan kemampuan dan latar belakang yang dimiliki, maka kemenangan yang diimpi-impikan, bukan lagi sebuah kemustahilan.

Sebuah negeri yang maju, tidaklah cukup karena negeri itu telah mempunyai sejumlah sumber daya alam, tenaga terdidik, atau karena mempunyai seperangkat pengaturan. Tidak, sungguh semua itu tidak cukup, Semua kelebihan yang ada hanya akan memberikan hasil yang baik, jika orang-orang yang hidup di dalamnya, memiliki semangat saling berbagi dan punya rasa saling memiliki antara satu komponen dengan komponen yang lain, dan kemudian rasa itu diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari. Sebaliknya, kekayaan yang dimiliki oleh sebuah negeri akan menjadi sebuah fitnah, atau lebih menakutkan lagi, menjadi puncak kehancuran jika di dalamnya tidak hidup orang-orang yang mampu dan mau berbagi demi kemaslahatan bersama.

Dari sisi yang lain, kurban juga dapat dielaborasi sebagai suatu sikap untuk menjalankan fungsi secara benar. Jika harta merupakan kewajiban dalam pelaksanaan fungsi secara benar dari orang kaya terhadap si miskin, maka para birokrat dapat pula melaksanakan makna kurban itu dengan memberikan layanan publik secara maksimal. Begitu juga para pengusaha, ketika ia memperhatikan nasib para buruh dengan baik, maka sesungguhnya ia telah menjalankan usaha dengan makna yang sama. Pun juga, para penyapu jalan, jika fungsinya dilakukan secara baik, maka ia pun akan sampai pada hakikat itu. Inti kurban adalah, setiap orang melakukan fungsi dalam kapasitasnya masing-masing de-ngan ikhlas. Jika kita kembalikan kepada kisah Nabi ibrahim AS di atas, maka bukankah keberanian Nabi Ibrahim juga didasarkan pada pelaksanaan fungsi dan kewajiban sebagai Nabi Allah yang taat kepada Khaliknya?

Hal yang menyedihkan adalah, bahwa semangat berkurban, dalam berbagai esensi dan makna, kian menipis dalam hubungan horizontal atau sesama manusia. Dewasa ini, orang-orang sepertinya sedang terperangkap dalam kemaruk pemuasan diri sendiri dan melupakan bahwa di sekitarnya ada tanggung jawab yang harus ia pikul sebagai konsekuensi menjadi "golongan Yang dimenangkan" oleh realitas. Kita seringkali dibuat tertegun, ketika melihat betapa dengan sengaja orang menganiaya orang lain demi kepentingannya. Sekali waktu kita tersentak pula, ketika menyaksikan betapa orang secara sadar berlaku tidak peduli kepada orang yang mengharapkan pertolongan darinya. Bukankah pada sekujur diri kita ada kewajiban terhadap orang lain? Bukankah Islam mengajarkan, bahwa orang yang paling berguna/mulia adalah orang yang bermanfaat bagi orang lain?

Hari Raya Kurban ini merupakan sebuah latar dasariah yang baik bagi kita semua untuk kembali ke makna kurban. Jika selama ini kita merasa kurang dekat dengan orang lain maka dari sekarang, mari secara bersama kita memperbaikinya. Jika selama ini kita alpa dalam melakukan kewajiban dan tanggung jawab kemanusiaan, maka tak ada kata terlambat untuk menata diri. Riwayat mega kurban Nabi Ibrahim AS dan Ismail akan terus bergemuruh dalam jiwa kemanusian dan kehambaan kita, jika semangat kurban itu kita dentingkan dalam kekinian, serta kita terjemahkan dalam nerilaku kehidupan.

Andai semangat kurban ini tertuang dalam kehidupan masyarakat kita, maka pastilah dengan segera akan menjadi sebuah negeri yang penuh kemenangan. Saya percaya, bahwa kita tentu saja tidak sepakat untuk membiarkan negeri kita menjadi sebuah negeri yang gundah berwajah individualis dan terbelakang. Untuk itu mari kita isi hidup kita dengan semangat kurban, sebab dengan cara inilah kita akan "menjadi". Bila tiap generasi melakukannya, maka tiap generasi akan mewariskan kemenangan pada generasi berikutnya. Pun, tiap generasi akan dapat pula berkata, seperti ungkapan romantis para pejuang berani mati atau nyanyian legiun asing, "Dari kota-kota kecil nun jauh kami datang dengan kebersamaan, berjuang, dan mempercayakan apa yang kami menangkan,... untuk kau simpan."

(16 Februari 2003)


Tulisan ini sudah di baca 159 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku 1001 Saddam

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/1001-Saddam/171-Mega-Kurban.html