drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

1001 Saddam | Bagian : 4

Gong Xi Fa Choi


Oleh : drh.chaidir, MM

Cina adalah sebuah bangsa yang tua. Memperkatakan Cina, baik sebagai bangsa maupun etnis, samalah artinya membicarakan sebuah sejarah yang panjang. Ketika sebagian besar bangsa di dunia masih berada dalam keterbelakangan peradaban, pada saat yang sama, Cina telah menjadi salah satu pusat peradaban dan kebudayaan dunia, yang bersanding secara setanding (jika tidak lebih besar) dengan kebudayaan tua lainnya yang pernah berdiri megah, seperti peradaban Yunani, Sumeria, Mesir Kuno, Mesopotamia dan Babylonia. Bahkan menurut Michael H. Hart dalam The 100, a Rangking of the Most Influential Person in History _ pada abad ke 78, Cina merupakan negeri dengan kebudayaan termaju di dunia, sebelum kemudian tertinggal oleh Eropa pada abad ke-15.

Kebesaran peradaban Cina pada sejumlah lapangan, mendapat tempat khusus di sepanjang sejarah. Di sana pernah hidup sejumlah tokoh yang ikut memberi bentuk pada perubahan dan perkembangan dunia, seperti Kong Fu Tse, Lao Tse, dan Meng Tse pada lapangan pendidikan, moral, dan spiritual. Ada Tsai Lun (105 M) yang menemukan kertas, yang penemuannya itu kemudian membuat perkembangan ilmu pengetahuan menjadi semakin pesat. Di lapangan pemerintahan dan kemiliteran, mereka mempunyai Qin Shi Huang Di atau Chin Shih Huang Ti (259 SM - 210 SM) dan Sui Wen Ti atau Yang Chien (541- 604), dan banyak lagi hingga ke pengetahuan tentang pengobatan dan seni. Adalah suatu hal yang wajar, kalau Nabi Muham-mad SAW. sampai berpesan tuntutlah ilmu walaupun sampai ke negeri Cina.

Meski merupakan sebuah negeri yang penting dalam kebudayaan sejagat dan sekarang telah demikian maju dan berpengaruh pula, bangsa Cina tetaplah sebuah bangsa yang dibangun dengan alas kepatuhan kepada tradisi yang ditinggalkan oleh para leluhur atau nenek moyang mereka. Salah satu tradisi yang selalu dirayakan adalah menyambut pergantian tahun, yang kita kenal dengan Imlek.

Perayaan pergantian tahun Cina adalah sebuah perayaan yang telah berlangsung ribuan tahun. Dari sebuah sumber yang pernah saya dapat, dikatakan bahwa tradisi ini. mungkin dalam bentuk vane berbeda dengan sekarang, telah dilakukan semenjak awal-awal bermulanya kebudayaan dan peradaban Cina di pinggir sungai Hwang Ho, yang kemudian berkembang sejalan dengan perkembangan kebudayaan dan spiritual Cina itu sendiri. Ditarik dari kurun waktu yang demikian jauh, maka tidak mengherankan jika perayaan itu sendiri dewasa ini menjadi begitu bergema.

Seperti yang terlihat pada tanggal 2 Februari beberapa hari lalu, seluruh orang Cina yang hidup dengan latar kebudayaan Cina, di mana pun berada, secara bersama merayakan tahun baru. Tahun baru Imlek. Tahun Kambing Air. Pada tanggal itu, seluruh dunia gegap-gempita. Ini bisa dimaklumi. Dengan jumlahnya yang fantastis (mendekati 1,5 milyar), maka suku bangsa yang satu ini ada hampir di semua negara. Karenanya, dapat dibenarkan pendapat yang mengatakan, bahwa etnis Cina adalah etnis yang tak pernah kesepian, karena dalam setiap 5 (lima) orang penduduk dunia, seorang daripadanya adalah orang Cina.

Di Indonesia, khususnya Riau, perayaan Tahun Baru Cina juga tak kalah meriahnya. Dalam rangka tahun baru, berbagai acara dibentangkan. Kemeriahan ini bukanlah karena jumlah mereka yang banyak, tapi karena mulai membaiknya keterbukaan dan juga telah berubahnya cara pandang masyarakat dalam berinteraksi dengan etnis Cina. Dengan membaiknya berbagai hal tersebut, masyarakat etnis Cina menjadi lebih leluasa mengekspresikan diri di tengah-tengah masyarakat.

Lalu jika demikian, apakah yang harus kita lakukan dalam kondisi yang membaik ini? Akan kita hela ke manakah arti penting Imlek ini, khususnya sebagai sebuah masyarakat bangsa? Pada hemat saya, perayaan Imlek ini merupakan sebuah momentum dalam membangun dan mengukuhkan kebersamaan. Sekah iagi, sebuah media yang baik untuk membangun kebersamaan.

Tak bisa dipungkiri, selama ini dan juga sejak lama, sepertinya terjadi stagnasi atau terdapat sebuah jurang dalam hubungan sosial. Dengan membaiknya situasi dan cara pandang, maka terbuka kesempatan untuk menata kembali hubungan sosial yang selama ini belum berjalan sebagaimana mestinya. Melalui penataan yang sungguh-sungguh akan muncul sebuah persatuan yang kuat, dan dengan persatuan yang kuat itulah, kemajuan atau kemenangan sebuah negeri dimungkinkan.

Daripade becekau tak tentu pasal, kan lebih baek besatu-padu membangun negeri, ye tak? lyelah.

Menarik garis memanjang dan melebar (mudah-mudahan saya tidak dianggap terlalu utopis), perayaan Tahun Baru Cina atau Imlek ini semestinya juga menjadi sebuah momentum bagi persatuan Asia. Dewasa ini terlihat adanya kecenderungan masyarakat dunia untuk "kembali kepada asal". Eropa bersatu, misalnya, dibentuk dan terbangun dari sebuah kesadaran bahwa mereka berasal dari ras yang sama, yaitu Kaukasoid. Begitu pula persatuan Afrika, terbentuk dari semangat kebersamaan sebagai ras Negroit, dan hanya Asia yang belum melakukan itu secara lebih kongkrit. Dari manakah akar umbinya harus ditarik, sehingga persatuan itu menjadi suatu hal yang memungkinkan? Sebagaimana Eropa dan Afrika yang menggunakan tema ras, maka bangsa Asia pun bisa melakukannya dari sana. Bukankah hampir keseluruhan bangsa Asia berasal dari sebuah ras besar yang bernama Mongoloid? Dari sana kemungkinan itu digagas dan dimulai. Rumpun Melayu (sub ras Mongoloid) memang telah melakukannya dengan membentuk Asean, tapi secara sadar harus kita akui, bahwa persatuan itu belum cukup Kuat untuK berdiri sendiri, khususnya ketika berhadapan dengan gempuran kekuatan faksi lain yang lebih kuat.

Eropa telah membuktikan, bahwa dengan bersatu, mereka telah mengukuhkan diri sebagai sebuah kekuatan besar dalam semua hal, yang hampir tanpa tanding. Semestinyalah kenyataan semacam itu menggesa negara-negara Asia untuk mengambil langkah yang sama, sehingga dengan demikian, Asia akan muncul menjadi sebuah kekuatan yang dahsyat. Dua kekuatan Asia, seperti Jepang dan Cina, memang telah berada pada posisi yang diperhitungkan, tapi saya kira, posisi itu akan menjadi lebih menggerunkan jika negara-negara yang berada dalam rumpun Mongoloid ini bersatu membina kebersamaan bersatu. Jika sejak sekarang rasa kebersamaan itu dikukuhkan, maka jika kelak apa yang diramalkan oleh Naisbitt terjadi (bahwa negara-negara akan bersatu berdasarkan kesamaan alas kebudayaan), bangsa Asia akan berada pada posisi siap untuk menghadapinya.

Kebersamaan dan pembangunan semangat Asia merupakan jalan yang paling bagus jika Asia secara keseluruhan ingin berdiri sama tinggi dengan kekuatan lain. Jika tidak, maka selamanya Asia akan dianggap sebagai bangsa kelas dua, atau bahkan kelas tiga, seperti yang terjadi selama ini. Semogalah kebersamaan itu kian menguat. Gong Xi Fa Choi.

(9 Februari 2003)


Tulisan ini sudah di baca 136 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku 1001 Saddam

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/1001-Saddam/170-Gong-Xi-Fa-Choi.html