drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

1001 Saddam | Bagian : 4

Don't Cry For Me Argentina


Oleh : drh.chaidir, MM

"........Don't cry for me Argentina
The truth is I never left you
All through my wild days, my mad existence
I kept my promise, don't keep your distance"
(Jangan menangis untukku Argentina
Sebetulnya aku tak pernah meninggalkanmu
Sepanjang kehidupanku yang liar dan kegilaanku
Aku menepati janjiku, jangan menjauhkan diri).

Itu refrain sebuah lagu cantik dalam film Evita Peron yang pernah dinyanyikan oleh Madonna, bintang cantik yang memainkan Evita Peron dalam film tersebut. Film dan lagu itu sesungguhnya dibuat untuk mengenang Evita Peron, First Lady (Ibu Negara) Argentina 19461952 yang sangat kharismatik dan dipuja oleh rakyatnya. Evita Peron bukan Presiden Argentina. Yang menjadi Presiden dalam periode itu adalah Juan Peron, suaminya, yang menunjukkan karakter sama dengan pemimpin militer lainnya di dunia. Tidak ada jabatan penting yang dipegang oleh Evita Peron kecuali sebagai pekerja sosial, membantu orang-orang miskin, dan memperjuangkan hak pilih kaum wanita Argentina.

Evita Peron sangat dekat dengan rakyatnya dicintai tidak hanya oleh rakyatnya sendiri, tetapi juga dikagumi di bagian dunia lainnya. Dia bintang film yang cantik, tetapi itu tidak membuatnya pongah. Kekuasaa yang diperoleh suaminya sebagai presiden, diberi makna dengan baik oleh Evita. Siapa pun ketika itu mengetahui kokohnya pemerintahan Juan Peron adalah akibat peran isterinya yang pandai mengambil hati rakyatnya.

Evita Peron sesungguhnya layak hidup di singgasana emas. Dia cantik, selebritis, dan kaya pula. Tetapi kesempatan itu tidak dilakukannya. Dia memilih menghabiskan hari-harinya bertemu dengan rakyatnya yang miskin, berdialog dengan mereka, dan membuatkan program-program untuk menolong mereka. Oleh karenanya, ketika dia menyerah kepada kanker yang merenggut jiwanya dalam usia yang relatif masih muda, 33 tahun, seluruh rakyat Argentina menangis. Presiden Juan Peron pun kelimpungan, popularitasnya menurun drastis, dan tiga tahun kemudian tumbang.

Dalam beberapa aspek, seperti sosial, politik, dan ekonomi, Indonesia tidak berbeda jauh dengan Argentina. Walaupun Argentina telah merdeka sejak tahun 1816, tapi mereka masih termasuk negara Dunia Ketiga seperti juga Indonesia. Mereka juga cukup lama berada di bawah rezim militer dan yang tidak kalah pentingnya seperti halnya Indonesia, mereka juga termasuk negara yang terlilit utang, bahkan disebut-sebut sebagai pengutang terbesar di dunia. Negaranya hampir bangkrut akibat krisis utang yang tak tertanggungkan, yang sudah jatuh tempo. Masyarakatnya pun sedang mengalami demoralisasi akibat krisis politik dan ekonomi.

Indonesia pun, dalam hitung-hitungan di atas kertas, sebenarnya sudah harus bangkrut. Kita juga terjerat utang yang sangat besar. Utang luar negeri Pemerintah mencapai angka 60 milyar dollar AS, atau sekitar 600 triliun rupiah. Utang swasta pula mencapai 70 milyar dollar AS, atau setara dengan sekitar 700 trilyun rupiah. Bila dijumlahkan, utang luar negeri mencapai 1.300 triliun rupiah.

Itu baru utang luar negeri ncek. Utang dalam negeri bertimbun, jumlahnya tidak kurang dan 650 trilyun rupiah. Maka, bila ditotal utang luar negeri dengan dalam negeri, jumlahnya hampir 2.000 triliun rupiah. Dua ribu triliun rupiah saudare, dan itu uang semua..he..he... Susah menghitung berapa nolnya jumlah itu kira-kira sama dengan enam tahun APBN kita. Tetapi bila belanja rutin dan pembangunan itu (rata-rata 350 triliun pertahun), semuanya dipergunakan untuk melunasi utang, berarti 220 juta penduduk Indonesia Selama enam tahun tidak pakai makan dan minum. Alamaaaaak, mana tahaaan.

Tadi bile hutang itu nak kite lunaskan ncek? Untuk cicilan bunga utangnya saja tahun ini harus dialokasikan dana dalam APBN sebesar 80 triliun rupiah, belum cicilan terhadap pinjaman pokoknya. Pusing!

Gambaran buram ini disampaikan oleh Menteri Komunikasi dan Informasi, Syamsul Mu'arif, dalam ilustrasi pidatonya beberapa hari lalu di Pekanbaru. Pesimiskah Menteri kita ini? Tidak juga. Dalam perjalanan dan RRI ke Stasiun TVRI di Rumbai, kami berdua satu mobil dan terlibat pembicaraan mengenai beberapa hal menyangkut situasi terkini. Negara mi memartg hdak boleh lagi salah urus. Kalau dibiarkan salah urus, akibatnya bisa berkeping-keping.

Salah satu faktor penting yang perlu mendapatkan perhatian serius adalah terjalinnya komunikasi yang baik antara stake holder dan share holder di negara ini. Komunikasi yang baik akan membangun saling pengertian, yang kemudian menumbuhkan sikap saling menghargai, saling memberi, dan saling menerima. Saling pengertian di antara stake holder ini nampaknya agak menjauh sekarang. Rasa senasib sepenanggungan tidak tercipta. Satu dan lainnya semau gue, nafsi-nafsi.

Evita Peron memainkan perannya dengan baik sebagai seorang Ibu Negara. Walaupun ia masih muda, bintang film dan glamour, tapi itu semua tidak menghalanginya dekat dengan rakyatnya. Pers dunia mencatat, betapa korupnya rezim pemerintahan Juan Peron ketika itu, tetapi Evita Peron melakukan pendekatan psikologis yang memikat hati rakyatnya, sehingga mereka merasa dimanusiakan, walaupun pada bagian lain mereka dirugikan oleh kebijakan pemerintah yang kurang berpihak kepada mereka.

Evita Peron memang telah lama mati, tetapi apa yang dilakukannya, bisa menjadi model bagaimana membangun hubungan yang hangat antara rakyat dengan lingkaran dalam kekuasaan. Ini juga konon yang dilakukan oleh Raja Thailand, Bhumibol, terhadap rakyatnya di pedesaan, sang raja berdialog, memberikan bibit, dan menanyakan hasil panen sang petani. Evita dan juga Raja Bhumibol selalu menyapa, menyapa, dan menyapa.

Bait terakhir lagu Don't Cry For Me Argentina, melukiskan betapa dalam Evita Peron mencintai negaranya dan dicintai rakyatnya: ".....There's nothing more I can think of to say to you/But all you have to do is look at me/To know that every word is true" (Tak ada lagi yang akan kukatakan kepadamu/Engkau hanya perlu melihat kepadaku/Untuk mengetahui bahwa setiap perkataanku adalah benar).

Konon, sebagaimana kita baca di media massa, Ibu Mega sudah dua kali meneteskan air mata untuk rakyatnya di Aceh. Yang menjadi renungan kita adalah kapan rakyat kita akan menangis untuk pemimpinnya.

(27 Oktober 2002)


Tulisan ini sudah di baca 132 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku 1001 Saddam

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/1001-Saddam/169-Don't-Cry-For-Me-Argentina.html