drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

1001 Saddam | Bagian : 4

Seputih Kapas Sebening Embun


Oleh : drh.chaidir, MM

Andai ada pemilihan SMS favorit menyambut bulan suci Ramadhan, maka yang akan terpilih agaknya adalah SMS ini: "Seputih kapas sebening embun, mari kita putihkan hati dan beningkan pikiran menyambut Ramadhan". Paling tidak inilah SMS yang paling banyak masuk ke telepon genggam saya. Ternyata banyak juga orang yang berpotensi untuk menjadi romantis, tergantung suasananya saja. Yang lain misalnya menulis: "Di ufuk telah membayang Ramadhan, mari ikhlaskan sanubari dan mintalah ampun pada sesama. Sucilah diri, sucilah hati, jelanglah bulan yang penuh hikmah, marhaban ya Ramadhan". Atau yang ini: "Di gerbang Ramadhan yang suci ini tiada kata yang dapat diukir kecuali saling membersihkan diri dari kealpaan dan kesalahan, kita manusia biasa".

Itu SMS orang yang diselimuti suasana romantis Ramadhan. Yang serius seperti tahun-tahun lalu juga tidak kalah banyaknya, seperti: "Ahlan wa sahlan yaa Ramadhan, syahrul mubarak syahrul Qur'an, washshiyam, washshabr, wadda'wah, walukhuwwah, waljihaad, La'allakum tattaquun. Maksudnya kira-kira, selamat datang bulan suci Ramadhan, bulan penuh berkah, bulan turunnya kitab suci Al Qur'an, bulan puasa, bulan vang penuh kesabaran, bulan yang penuh dakwah, bulan yang penuh rasa persaudaraan, bulan yang penuh Jihad melawan hawa nafsu, kekuasaan, arogansi, dan sejenisnya, semoga kamu menjadi hamba yang bertakwa.

Orang politik lain lagi SMSnya. "Dengan buku menuju bulan, dengan agama menuju Tuhan, dengan politik menuju kekuasaan, dan insya Allah dengan kekuasaan menuju ridho-Nya. Jangan salah gunakan kebebasan, kekuasaan adalah macan, kamu pun bisa dimakan. Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan".

Kedengaran seperti pantun tapi lugas dan sarat muatan filosofis. Ada yang romantis, ada yang sarat dengan dakwah, ada yang bernada politis, tapi juga ada SMS yang konyol. "Orang bijak santun bicaranya, orang baik sopan perilakunya, orang cerdas tepat tindakannya, orang stress kerjaannya baca SMS melulu...". Untung pintu maaf sedang terbuka lebar-lebar, sehingga tidak jadi soal biar dituding sebagai orang yang sedang stress. Kalau pintu maaf sedang tertutup, SMS yang terakhir itu tentu bisa membuat geram.

Kata-kata Marhaban ya Ramadhan (Selamat Datang Wahai Ramadhan), dengan hati tulus ikhlas mohon maaf lahir dan batin, semoga kita dapat memasuki Ramadhan dengan hati yang suci bersih, hilangkan segala sak Wasangka, memenuhi jagat raya. Kata-kata itu melantun bergelombang melintasi batas-batas negeri, menyinggahi hati orang-orang tersayang. Semua saling mengingat bahwa di sini ada sahabat dan di sana ada sahabat. Semua saling mengingatkan bahwa kita ini hamba Yang lemah di sisi Allah.

Banyak kata-kata indah dilayangkan melalui jasa telekomunikasi elektronik yang memanfaatkan kemajuan teknologi komunikasi. SMS (Short Message Service adalah sebuah jasa yang ditawarkan untuk memudahkan para pengguna jasa. Tahun lalu saya menulis kolom "E-Ramadhan" pada halaman yang sama di tabloid Mentari sebagai respon munculnya kecenderungai baru di tengah masyarakat dengan menggunakan jasa telekomunikasi elektronik untuk mengungkapkan perasaan atau sekadar tanda saling ingat. Waktu itu saya menerima dan mengirim banyak SMS, tahun ini rupanya lebih gila-gilaan. Selama empat hari menjelang hari pertama bulan Ramadhan saya menerima tidak kurangl dari 200 SMS, dan tentu, saya harus mengirim balasan minimal dengan jumlah yang sama.

Dalam pandangan dan apresiasi saya, bulan Ramadhan memiliki daya pikat yang luar biasa. Ramadhan dapat membangkitkan romantisme religius dalam diri kaum muslimin dan muslimat. Romantisme religius itu berupa kerinduan terhadap Allah dan Rasul-Nya. Romantisme itu juga bisa dalam bentuk kerinduan terhadap orang tua baik yang masih ada maupun yang telah_ tiada, kerinduan terhadap keluarga yang jauh, kerin-duan terhadap sanak famili, kerinduan terhadap desa, di mana kita dilahirkan, ketika kita menghabiskan tu semasa anak-anak dengan mengaji di masjid atau di surau. Bisa juga kerinduan terhadap handai taulan dan sederetan panjang kerinduan religius yang terasa indah dan susah untuk dirangkaikan dalam kata demi kata.

Seorang teman berkomentar, bila demikian indahnya, kenapa tidak setiap bulan saja bulan Ramadhan? "Even/month is Ramadhan", katanya. Bukankah dulu ada pemeo sebelum bom meledak di Legian Bali, semua hari di Bali adalah hari Minggu? "Everyday is Sunday in Bali" kata orang bule. Begitu ekspresifnya Bali sehingga semua hari terasa laksana hari Minggu, hari libur.

Andaikan setiap bulan adalah bulan Ramadhan, rnaka agaknya, tidak akan ada pertelagahan yang tidak terdamaikan. Tidak ada kesalahan yang tak terampunkan. Bukankah kita sesungguhnya sudah letih bertelagah antarsesama? Sudah demikian banyak "mesiu" yang kita hamburkan tak beraturan, bahkan adakalanya ketika musuh sudah kehabisan "mesiu" kita beri mereka "mesiu" tambahan agar pertempuran tak cepat usai. Begitu nyelenehnya abad ini. Dikatakan perang saudara, tak ada pula yang mengangkat senjata. Tak dikatakan perang saudara, pertelagahan demi pertelagahan tak kunjung selesai, perseteruan seakan laksana laut tak bertepi. Padahal sesungguhnya, tak ada perang yang tak berakhir, bahkan Perang Dunia pun ada akhirnya.

Tentulah sebuah Utopia mengharapkan semua bulan laksana Ramadhan. Tidak mungkin. Tetapi setidaknya kita memiliki masa sekali dalam setahun untuk melatih diri menghadapi semua permasalahan duniawi yang semakin hari semakin rumit. Harus ada jeda agar sejenak kita bisa bernafas lega. Sebab tidak jarang ketika kita berhasil memecahkan suatu masalah ternyata itu merupakan awal dari sebuah masalah baru yang ada kalanya jauh lebih rumit daripada masalah sebelumnya.

Dewasa ini kita selalu berhadapan dengan pertelagahan yang disebabkan oleh perbedaan kepentingan yang acapkali tak termediasi secara baik, entah itu kepentingan kelompok, partai, suku, daerah, bahkan juga agama. Bila kepentingan itu mengedepan secara mutlak, inilah yang dinamakan hawa nafsu. Konflik akibat nafsu ingin menguasai, nafsu ingin mendominasi, pada akhirya lebih dahsyat dari perang saudara konvensional dengan menggunakan senjata.

Setidak-tidaknya ada dua makna yang terkandung dalam berbagai SMS itu, dalam perspektif hubungan dengan Sang Maha Pencipta dan dalam perspektif hubungan dengan sesama manusia. Ramadhan adalah, masa ketika hamba bisa bermanja-manja dengan Sang Maha Pencipta. Ramadhan adalah masa ketika hati seputih kapas dan sebening embun memandang semuanya sama, kita bersaudara.

(10 November 2002)


Tulisan ini sudah di baca 410 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku 1001 Saddam

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/1001-Saddam/168-Seputih-Kapas-Sebening-Embun.html