drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

1001 Saddam | Bagian : 4

Membangkit Batang Terendam


Oleh : drh.chaidir, MM

Bimala tercabik-cabik antara kewajiban terhadap suaminya, Nikhil, dan tarikan yang teramat kuat dari Sandip, sang pemimpin gerakan politik yang radikal dan memukau. la berjuang keras untuk mengatasi perbenturan yang tak terdamaikan antara tertib dunia rumah yang berbudaya tinggi dan kebebasan óbisa juga keliaranó dunia luar.

Drama memuncak ketika Sandip meminta sejumlah harta kepada Bimala sebagai cara untuk melestarikan kekuasaannya atas Bimala. Ini membawa komplikasi-komplikasi yang gawat, dan novel diakhiri dalam adegan-adegan yang sangat tegang dan kekerasan yang sungguh ngeri, Kini Bimala menyadari bahwa jalan yang ditunjukkan Sandip kepadanya adalah jahat. Dia menjauhinya, tetapi semuanya telah terlambat.

Novel kuat yang mengambil latar dunia ningrat dan tuan tanah di Benggala pada 1908 ini ditulis oleh Rabin-dranath Tagore (1861-1941), seorang penulis besar India, yang memenangkan hadiah Nobel bidang sastra. Tagore secara amat bagus menjalin tumbuhnya sebuah kisah cinta dengan sebuah kesadaran politik yang terasa kontekstual menerobos zaman.

Entah mengapa, saat membalik lembar demi lembar novel "The Home and The World" (Rumah dan Dunia) karya Rabindranath Tagore ini, khayalan saya justru keluar dari setting kehidupan di Benggala yang menjadi latar, kemudian liar menyusuri relung-relung sungai dan selat di bumi Melayu Riau. Dalam imajinasi saya, tokoh Sandip saya lihat sebagai tokoh yang merepresentasikan pembangunan fisik yang gegap gempita, ketika peningkatan kualitas hidup diukur dari indikator-indikator makro, besarnya investasi, pabrik-pabrik, dan sebagainya. Sementara pada sudut lain, ada upaya yang intens untuk membangkit batang terendam, menjadikan adat istiadat dan nilai-nilai budaya sebagai minda. Hal ini terlihat dari tumbuhnya kesadaran di kalangan intelektual dewasa ini untuk mendialogkan nilai-nilai kebudayaan dengan program-program pembangunan fisik kekinian yang tengah berlangsung sebagai realitas sosial.

Akhir-akhir ini kita memang banyak berbicara tentang terma keterbuangan, keterasingan, bahkan benturan-benturan, yang sepertinya tak terdamaikan. Perbenturan nilai seperti yang ditulis dengan manis oleh Allahyarham Ediruslan Pe Amanriza dalam novelnya "Panggil Aku Sakai , masin terasa relevan. Bagaimana Batin Bandaro, kepala suku Sakai, yang terpikat oleh kemajuan dan pembaharuan, berdepan dengan Bedang, tokoh muda Sakai yang memilih hidup di hutan dengan cara hidup lama.

Pesan yang kita tangkap adalah, pembangunan, apabila tidak mengindahkan nilai-nilai budaya, akan menjadi asing, terasing, atau bahkan akan menimbulkan resistensi. Nilai-nilai baru seyogianya harus melalui proses sosialisasi terlebih dahulu, dan kalau perlu disenyawakan dengan nilai-nilai lama yang berguna. Pesan itu juga dapat kita petik dari sepotong ilustrasi esai. Ediruslan Pe Amanriza dalam bukunya "Kita Dari Pedih Yang Sama"; ketika orang asli Irian dibangunkan perumahan seperti di Jawa, rumah yang oleh pemerintah dianggap memenuhi syarat-syarat kesehatan itu ditinggalkan. Apa yang salah? Ternyata rumah tradisional yang menurut pemerintah tidak memenuhi syarat kesehatan, justru merupakan antisipasi alamiah penduduk asli untuk menghindarkan diri dari serangan nyamuk malaria.

Kebudayaan, seperti yang dikatakan oleh Edward W. Said, sangat penting peranannya dalam pembentukan sikap, acuan, dan tindakan masyarakat. Sebuah kemajuan tidaklah diukur dari seberapa pesat pembangunan fisik telah dilakukan, tapi adalah sejauh mana sebuah keseimbangan material dan spiritual atau pembangunan kemanusiaan itu dapat berlangsung secara terus-menerus.

Semua negara besar, seperti yang kita lihat sekarang ini, semisal Jepang dan Cina, pada dasarnya tumbuh dan berkembang dengan alas dan semangat kebudayaan. Kemajuan Eropa pada hakikatnya juga adalah sebuah kristalisasi endapan dari sebuah gerakan kebudayaan yang telah berlangsung selama berabad-abad, khususnya setelah terjadi revolusi kebudayaan dan pencerahan yang menggetarkan, yang terkenal dengan renaissance dan humanisme, atau gerakan Aufklaruung di Jerman. Di Cina misalnya. Kemajuan-kemajuan besar yang dicapai sehingga Cina menjadi negara hebat seperti sekarang ini, sesungguhnya tidak terlepas dari spirit-spirit Kong Fu Tse, Meng Tse, dan Lao Tse yang sudah dipancangkan berabad-abad sebelumnya. Demikian pula Jepang, Korea, dan tidak jauh jaraknya dari kita, Thailand dan Malaysia, tumbuh dengan jati diri yang kuat.

Berangkat dari kesadaran dan belajar dari besarnya kepentingan gerak kebudayaan dalam memajukan sebuah negeri, maka Riau juga menjadikan kebudayaan sebagai mahkota pembangunan. Dijadikannya kebudayaan sebagai mahkota pembangunan tumbuh dari pemahaman akan realitas Riau terkini, bahwa gemuruh pembangunan fisik hari ini, kelak akan meruntuhkan banyak nilai, dan untuk itu perlu digagas secara terarah dan sistematis sebuah wilayah penyeimbang. Penyeimbang itu, selain agama, hanyalah kebudayaan dengan segala praktik yang ada di dalamnya.

Pembangunan kebudayaan Melayu mendapat tempat yang sangat besar, bahkan kebudayaan Melayu merupakan kerangka utama yang membingkai pembangunan di bidang lainnya di Riau. Riau mengemas kerangka kebudayaan ini secara molek dalam Visi Riau 2020, yakni menjadikan Riau sebagai pusat perekonomian dan pusat kebudayaan Melayu di Asia Tenggara. Dengan segala hambatan yang kita sadari, peluang untuk itu nampaknya ada. Setidaknya, di samping faktor sejarah, dewasa ini telah tumbuh kesadaran dan semangat kebudayaan di kalangan terdidik. Kalangan ini sekarang sangat peduli terhadap eksistensi kebudayaan Melayu, terbukti misalnya dengan semakin bergemuruhnya agenda kegiatan kebudayaan.

"Kita mencita-citakan lahirnya suatu komunitas masyarakat atau negeri yang tersembuhkan, sebuah negeri yang manis oleh lagu, cerita, puisi, serta balada pada satu sisi, dan memiliki kemakmuran beserta sistem yang kuat pada sisi lain", ungkap William Butler Yeats dalam bukunya "Culture and Imperialism". Dan ini nampaknya telah disadari. Kita memang harus bersama mem-bangkitkan batang terendam itu, dan peran cendikiawan di sini sangat menentukan.

Kita tentu tidak ingin tenggelam dalam romantisme masa silam, tapi kita juga tidak ingin jadi Bimala yang berkeping-keping dalam benturan yang tak terdamaikan Kita ingin memperoleh kesejahteraan secara berkualitas dan bermartabat, sebuah kemenangan yang paripurna.

(6 Oktober 2002)


Tulisan ini sudah di baca 205 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku 1001 Saddam

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/1001-Saddam/167-Membangkit-Batang-Terendam.html