drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

1001 Saddam | Bagian : 4

Bola, Cinta, dan Persaudaraan


Oleh : drh.chaidir, MM

Sebuah pesta pasti akan berakhir. Begitulah yang terjadi di Korea dan Jepang, setelah sebulan penuh berpesta-pora dan memberikan hiruk pikuk pada dunia. Sebulan penuh kita dimanjakan oleh mimpi-mimpi, imajinasi, dan kemeriahan. Kini kita kembali pa-da kehidupan nyata. Tim Samba Brazil yang menjadi simbol kekuatan sepak bola Amerika Latin kembali menjadi juara dunia setelah menekuk simbol kekuatan benua Eropa, Tim Panser Jerman, 2-0 di pertandingan final. Lalu di belakangnya muncul Tuiki Jctu Korea, yang dikatakan orang sebagai sejarah yang berubah dan tak terduga.

Akan halnya Turki dan Korea, pada hemat saya, bukanlah semata-mata karena mereka telah menjadi pemenang ketiga dan keempat, tetapi secara hakikat adalah karena kesungguhan mereka untuk menolak diri sebagai sebuah wilayah kosong dalam buku peta juara. Ungkapan bahwa Brazil dan Jerman telah mengembalikan hirarkhi persepakbolaan dunia, agaknya adalah pertanda betapa menakutkannya kekuatan Turki dan Korea, atau juga Senegal dan Jepang. Tim-tim yang semula berada di peringkat buncit hierarki persepakbolaan dunia dan sama sekali tidak diperhitungkan, ternyata telah menguburkan nama-nama tim elit seperti Italia, Argentina, Inggris, dan bahkan sang juara berta-han, Francis. Final perebutan Juara III yang biasanya hambar dan hanya sekedar basa-basi, oleh Turki dan Korea dibuat sangat menarik dan pantas untuk ditonton.

Ada beberapa catatan penting yang sesungguhnya dapat kita tarik dari penyelenggaraan piala dunia ini dari beberapa sudut pandang.

Pertama, bola adalah cinta dan persaudaraan. Menarik sekali ungkapan pelatih Turki, Senol Gunes, sewaktu timnya akan menghadapi Brazil di semi final. Setelah dikalahkan oleh Brazil pada babak penyisihan beberapa hari sebelumnya, para pengamat memperkirakan bahwa pertemuan semi final antara keduanya, akan menjadi ajang balas dendam Turki pada Brazil. Tidak, kata Senol Gunes, sebab bola adalah cinta, perdamaian, dan harmonisasi. Dan, Gunes benar, memang tidak terlihat dendam itu. Yang terjadi adalah, bahwa kedua tim berusaha menampilkan permainan terbaik, meski kemudian Turki kalah, tapi mereka telah memenangkan simpati penonton.

Turki hanyalah sebuah contoh. Hal yang sama juga dilakukan oleh Korea, Jepang, Senegal, Argentina, Amerika Serikat, Inggris, dan tim-tim lainnya. Semua berusaha menampilkan permainan yang baik tanpa niat-niat buruk kepada lawan, tak peduli apakah lawan itu berasal dari negara yang berbeda garis politik ataupun berbeda secara agama dengan mereka. Perbedaan politik, ras, dan agama lebur dalam sebuah kecintaan sebagai sesama manusia. Semua pemain seolah-olah berlomba menunjukkan cinta dan persaudaraan dengan akar keyakinan masing-masing, lewat sikap mereka di lapangan. Yang berlatar Nasrani sepertinya berpegang secara maksimal kepada "Golden rule"-nya agama Nasrani: "Apa yang tidak kamu sukai orang lain melakukan terhadapmu, maka jangan lakukan", sementara yang berlatar Islam, dengan sikap mereka di lapangan, seolah-olah berkata: "Kami memberikan kelembutan, sesuatu yang tidak akan hinggap, melainkan membuatnya indah, dan tidak akan pergi kecuali membuat sesuatu menjadi jelek" (elaborasi dari pesan Nabi kepada Aisyah, dalam Tanbighul Ghafilin).

Kedua, bola adalah gerakan kemanusiaan. Piala Dunia, yang dilaksanakan sekali dalam empat tahun itu, menjadi semacam tempat penyadaran kemanusiaan, sekaligus semacam sebuah simpang tempat orang-orang mengambil bekal kemanusiaan dan merenungi hakikat kebersamaan setelah negara menjadi batas dan pertarungan ekonomi, politik, dan kekuasaan menjadi alat pemisah.

Bola seakan menjadi sebuah jawaban, ketika media-media lain, seperti kaukus-kaukus politik internasional dan hubungan antarnegara dengan alur ekonomi dan kebudayaan, atau mungkin juga agama, gagal menjadi, perekat. Bola seakan-akan menjadikan dirinya sebagai jawaban akhir atas krisis kemanusiaan, peradaban, persaudaraan, dan harmonisasi.

Dari hasil pertandingan di lapangan hijau, yang menang adalah Brazil. Tapi setiap orang, dengan etnis yang beragam, saling berpelukan merayakannya. Tim-tim yang kalah, sampai pada negara yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya dalam penyelenggaraan piala dunia tersebut, sama-sama bergembira dan mele-xburkan kemenangan sebagai milik bersama. Masyarakat dunia seperti sampai pada satu titik makrifat, bahwa apa pun yang terjadi dan berlangsung pada penyelenggaraan piala dunia, adalah jalan kelahiran kembali sebagai manusia. Dahsyat sekali.

Hal lain yang tak kalah menariknya untuk kita catat adalah, bahwa piala dunia dan respon yang muncul terhadapnya membuat bola menjadi semacam "agama kemanusiaan" yang mampu membuat manusia rukun (tak berlebihan kan kalau bola mendapat hadiah Nobel Perdamaian, he..he..). Pertarungan-pertarungan politik, ekonomi, dan perseteruan antarnegara cenderung membuat yang satu dengan yang lain seperti terpisah jauh. Masyarakat dunia seakan membutuhkan sebuah "agama baru", dimana setiap individu dapat memilikinya dalam keragaman pandangan dan keyakinan, baik secara politik, ekonomi, budaya, dan bahkan dalam keragaman agama. Sebuah "agama baru" tanpa klaim kebenaran, sebuah agama kemanusiaan yang mampu meluruhkan semua manusia dalam persaudaraan dan harmonisasi. "Agama kemanusiaan" itu mungkin adalah bola.

Bola juga menjadi bahasa komunikasi universal. Secara kebetulan, pada saat yang bersamaan dengan penyelenggaraan piala dunia, saya mengikuti pertemuan-pertemuan bisnis bersama rombongan Gubernur Riau di Inggris, Prancis, Jerman, dan di Swiss. Dalam berbagai pertemuan yang sempat saya ikuti di London, Paris, Frankfurt, Berlin, dan di Zurich, cerita tentang piala dunia adalah bumbu penyedap komunikasi. Pembicaraan yang pada awalnya sering terkesan formal penuh basa-basi serta merta menjadi "cair" ketika pembicaraan memasuki wilayah bola.

Di pusat kota Berlin, sekelompok anak muda yang rnengendarai kendaraan berteriak ke arah saya dan Bupati Kuansing, Drs. Asrul Djaafar: "Korea ... Korea Korea.." Mereka mungkin mengira kami orang Korea. Pak Asrul pun kontan membalas sambil melambaikan tangannya, Hidup Korea! Tentu saja mereka tidak paham, tetapi itu tidak penting, komunikasi toh telah terjadi. Ada simpati yang mereka ungkapkan dan itu kami pahami. Bola memang tidak dapat dipungkiri telah menjelajah ke semua sudut kehidupan. Dia menjadi bahasa, "agama", dan perekat dalam pluralitas.

(7 Juli 2002)


Tulisan ini sudah di baca 156 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku 1001 Saddam

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/1001-Saddam/166-Bola,-Cinta,-dan-Persaudaraan.html