drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

1001 Saddam | Bagian : 4

Pelajaran dari Prancis dan Korea


Oleh : drh.chaidir, MM

Bola itu bulat. Inilah muasal dan sumber keyakinan dari gerakan sejarah dalam sepak bola. Bola terus menggelinding, dan sejarah pun berubah, seringkali tak terduga. Kata-kata ini semakin menemukan makna dan kebenarannya jika kita terus menyimak apa yang terjadi di Korea dan Jepang. Di sana, bola yang bulat itu menjadi semacam antitesis, mematahkan se-mua prediksi, serta membuat garis baru pada peta sejarah. Sejarah baru, membentuk diri dalam degup dan harapan, dalam tangis di antara tepukan panjang, bahkan dalam keterpanaan dan ketidakpercayaan pada pe-nyimpangan garis-garis utama sejarah bola itu sendiri.

Ya, itulah sepakbola. Sebelum peluit akhir berbunyi, maka segala sesuatu adalah niskala. Prancis adalah contoh korban keniskalaan itu. Siapa tak kenal Prancis. Siapa pun tahu, Prancis adalah sebuah negeri sepak bola yang sasa. Bertabur uang dan bintang-bintang kelas satu. Ada Zinedine Zidane, Theiry Henry, Fabian Barthez, dan sejumlah nama besar lainnya yang menjadi jamin-an. Selain itu mereka juga adalah pemegang gelar juara Piala Dunia 1998. Tapi Senegal dan beberapa Negara lemah lainnya membuat Prancis harus mengukir sejarah getir dan tersingkir, bahkan hanya sejajar dengan Arab Saudi dan Tunisia, menjadi juru kunci yang dicaci.

Kekalahan Prancis adalah suatu ironi. Di Prancis sendiri, semua kalangan membicarakan kekalahan itu, mulai dari Vice President Rolls Royce yang mengundang kami makan, sampai sopir taksi, yang pada intinya adalah negatif. Menurut mereka, kekalahan Prancis disebabkan oleh arogannya pemain. Mereka merasa besar kepala, sebab mereka adalah Juara Dunia, Juara Eropa, dan pemain dengan bayaran termahal. Popularitas dan uang membuat mereka lupa diri dan mengidap semacam syndrome the best. Perasaan sebagai the best itu akhirnya membuat mereka lupa mencermati kekuatan lawan dan kelemahan diri sendiri.

Lalu Korea. Luar biasa, fantastis, dan mengagumkan. Inilah kata-kata yang diucapkan banyak orang. Inilah juga sejarah bagi Asia. Di atas kertas, Korea sudah diramalkan tersingkir di babak awal. Tapi, anggapan itu dapat mereka balikkan dengan mempelupuh Portugal dan lawan-lawan satu grupnya. Di enam belas besar, mereka berhadapan dengan raksasa Italia. Orang pun mulai menghitung, berapa kekalahan yang akan mereka derita. Opini publik membuat Korea tak ingin menjadi. pecundang. Hasilnya, sekali lagi mereka menggemparkan dunia, dengan memberikan Italia tiket pulang kampung lewat pertandingan yang dramatis. Ironisnya, golden goal Korea justru disumbangkan oleh pemain Korea yang merumput di klub Seri A Italia, Perugia, yaitu Ahn Jung Hwan.

Korea mengajarkan kepada kita, bahwa kesungguhan, kerja keras, dan menjadikan marwah sebagai alas perjuangan akan memberikan hasil maksimal, ketimbang hanya memiliki pemain hebat dengan andalan bayaran mahal. Prancis, Argentina, dan Italia telah berdepan dengan palu godam itu. Sebagai tim favorit yang bertabur bintang dan uang, mereka dikalahkan oleh tim dengan para pemain yang berjuang bukan semata-mata demi uang, tapi juga atas nama spirit dan marwah. Bravo Korea.

Pada ruang dan kelas yang berbeda, PSPS Pekanbaru mungkin sama dengan Prancis, bertabur bintang dan uang, tapi kalah di lapangan. Ironis tapi nyata. Kekalahan Prancis dan kemenangan Korea membuat kita harus mengambil iktibar, bahwa pemain-pemain mahal dan taburan uang yang banyak bukanlah satu-satunya jaminan untuk meraih mimpi. Ada persoalan-persoalan lain yang bersifat nonteknis dan nonmaterial, yang juga sangat penting dalam sebuah perjuangan atau permainan, yaitu kesungguhan untuk bermain baik dan menjadikan perjuangan atau permainan yang baik itu sebagai bagian dari gerakan spirit dan marwah.

Dalam banyak kasus sepak bola, para pemain seringkali menjadikan mahal-murahnya bayaran sebagai alasan untukk berusaha bermain baik atau tidak. Dari sikap seperti inilah sebetulnya sebuah malapetaka sepak bola dimulai. Seharusnya, para pemain tidak menjadi-kan jumlah bayaran yang mahal itu sebagai penggesa untuk bermain baik. Yang ideal adalah, bahwa bayaran yang mahal merupakan "risiko" dari permainan cemerlang yang kita suguhkan. Jika pemain memulai pertandingan dengan spirit serta menjadikan uang sebagai "risiko" atau sub-ordinat dari tujuan, maka saya percaya bahwa hasilnya pasti akan berbeda. Korea yang menekuk Italia dan Senegal yang menghempas Prancis dan Swedia telah membuktikan itu.

PSPS Pekanbaru memang telah gagal menjadi yang terbaik di pentas Ligina, tapi pesta itu belum usai dan the show must go on. Kita masih bisa meraih mimpi itu pada masa mendatang. Hanya saja, mulai saat ini kita harus mengubah cara kerja dan perspektif. Seperti yang saya tulis sebelumnya, kita paling tidak harus memperhatikan dua hal, yaitu pembinaan (mempertajam kemampuan) dan pembangunan akhlak (spirit dan moral force). Dengan tim yang kita punya, kita sebenarnya telah membuka jalan lebar menuju keberhasilan. Tinggal lagi bagaimana kita membina mereka dengan baik dan terarah dan kemudian menanamkan spirit, sehingga mereka kemudian bermain dengan penuh semangat, de-ngan pembelaan marwah sebagai tujuan. Kemenangan tak perlu menjadi tujuan, cukuplah ianya menjadi "risiko" dari permainan baik yang disuguhkan. Dengan permainan yang baik dan kemenangan sebagai risiko, uang pasti akan mengalir pada para pemain. Ye tak?

Mari kita ucapkan Selamat buat Korea, yang membuat kita bangga menjadi orang Asia, yang membuat kita terimbas memiliki kenangan indah dalam penyelenggaraan Piala Dunia. Mudah-mudahan PSPS belajar banyak dan kekalahan Prancis dan kemenangan Korea ini, sehingga terpancing pula untuk menciptakan kenangan tersendiri di tempat yang berbeda.

Apalah manusia tanpa kenangan. Tugas manusia, kata Milan Kundera, bukanlah menaklukkan masa depan (karena masa depan selalu menolak untuk ditaklukkan), tapi adalah bagaimana menghimpun sejumlah kenangan yang bisa disebut dengan manis pada masa datang. Itulah tugas manusia, itu jugalah tugas PSPS, dan itu tak bisa dicapai dengan kekalahan dan kesalahan yang panjang. Tim sepak bola kita (khususnya PSPS) memang harus berbenah, di samping karena hal itu belum terlambat, juga karena kita tak sudi tercatat semata-mata sebagai martir dalam gempita kemenangan dan sejarah sepak bola. PSPS, kamu bisa!

(23 Juni 2002)


Tulisan ini sudah di baca 136 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku 1001 Saddam

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/1001-Saddam/165-Pelajaran-dari-Prancis-dan-Korea.html