drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

1001 Saddam | Bagian : 3

Perginya Seniman Pemangku Negeri


Oleh : drh.chaidir, MM

Negeri pujangga ini kembali kehilangan seorang pujangga terbaiknya, Idrus Tintin. Dia pergi dalam kesepian ketika negerinya berada dalam kegilaan kebendaan yang seakan tak terobatkan, sebagaimana dikeluhkan oleh Wordsworth;
Dunia selalu saja bersama kita, siang dan malam,
Ambil dan habiskan, kita boroskan tenaga kita.
Kita abaikan alam yang jadi milik kita


Tapi Idrus Tintin memilih sepi. Dia selalu berjarak dengan keduniaan, kendati dia berada di sana. Dia selalu ingin bermanja-manja dengan mimpi-mimpinya sampai akhir hayatnya.

Dalam sebuah buku Kesatuan Kreatif Rabindranath Tagore, diungkapkan, seorang penyair mengatakan tentang takdirnya sebagai pemimpi, tentang kesia-siaan impian-impiannya, meski impian-impian itu selalu bersamanya:
Aku gantungkan di antara insan-insan kepalaku yang tak peduli;
Buahku adalah impian-impian, sedangkan buah mereka adalah roti:
Insan-insan dunia dan penidur yang terbakar matahari,
Akan dipanen maut; tetapi setelah panen,
Dunia akan mencari peninggalanku, aku si penidur.


Idrus Tintin adalah seorang penyair yang malang-rnujur dalam dunianya. la tak hanya piawai dalam memainkan kata-kata yang kemudian menjadi sajak, tapi juga seorang yang sangat penting dalam perkembangan teater di Riau. Kehidupan kesenimanannya adalah sebuah perjalanan panjang. Dari sejumlah karya puisinya yang tersebar di mana-mana, juga seperti yang terhimpun dalam bukunya, kita seakan dibawa berkelana dalam sebuah perjalanan spiritual penulis yang berpindah dari satu tempat ke tempat lain dan dari satu persoalan kehidupan ke persoalan kehidupan yang lain.

Sastra (kesenian) adalah sebuah sisi yang tak terpi-sahkan dari kehidupan manusia, sebab ia adalah sebuah karya yang diciptakan untuk kemanusian dan untuk memahami diri. Ketika manusia sepakat bahwa kehidupan yang ideal adalah sebuah kehidupan yang di dalamnya terdapat keserasian atau keseimbangan antara peristiwa material dan spiritual, maka kesenian merupakan salah satu dari elemen penting yang ada dalam dunia spiritual yang dicari manusia.

Seni menjadi suatu hal yang penting karena dengan kesenian, seorang manusia akan mengerti dari mana kediriannya berasal, sehingga dengan demikian ia menjadi tahu pula ke mana harus melangkah. Dalam dunia yang modern, kepentingan seni semakin terasa, khususnya ketika manusia, entah secara sadar atau tidak dan disebabkan oleh persaingan material, menjadi sebuah sosok yang kehilangan keseimbangan. Dalam kondisi manusia modern yang demikian itu, maka hams ada sebuah media penyeimbang. Selain agama, media itu adalah seni. Mengelaborasi Matthew Arnold, maka peran seni pada dunia yang sekarang adalah untuk menetralisir atau, paling tidak, untuk meredakan kerusakan-kerusakan eksistensi manusia modern yang agresif, materialistis, dan kejam.

Negeri ini sesungguhnya sangat menyadari itu. Sastra sebagai sebuah percabangan seni yang berkembang di Riau merupakan sebuah dunia yang gemilang, Disebut gemilang, karena dari kesusastraan inilah, Riau dikenal oleh dunia luar, bahkan lebih dikenal dari dunia politik dan ekonomi. Kegemilangan itu ditandai dengan lahirnya pengarang-pengarang terpilih yang tumbuh pada setiap zaman. Pada penghujung abad ke-19 muncul Raja Ali Haji dengan Gurindam Duabelas dan sejumlah karya lain, kemudian disusul oleh Raja Aisyah Sulaiman Riau dan Khalid Hitam. Sesudah zaman Raja Ali Haji, pada abad ke-20, tradisi kegemilangan itu terus berlanjut dengan munculnya Suman HS sebagai salah satu pelopor cerpcn dan pcmbaru sastra di Indonesia Seangkatan dengan Suman HS, tumbuh besar pula seorang pengarang perempuan, yaitu Selasih Selegurr yang ikut memberi warna dalam kesusastraan Indonesia dan sekaligus mengokohkan kegagahan Riau pada lapangan sastra ini.

Seperti ungkapan Hang Tuah, Esa hilang dua terbilang, patah tumbuh hilang berganti, generasi kepengarangan di bawah Suman HS dan Selasih Seleguri, bermunculan pula sejumlah pengarang terbilang dengan wilayah garapan masing-masing, seperti Sutardji Calzoum Bachri, Ibrahim Sattah, BM Syamsudin, Hasan Yunus, dan sebuah nama lagi yang patut kita sebut dan kita kenang dengan takzim dan penuh rasa hormat, yaitu Seniman Pemangku Negeri (SPN), Idrus Tintin.

Dalam pandangan saya pribadi, bagi SPN Idrus Tintin, semua tempat adalah sebuah panggung ekspresi kesenian. Sebagai seniman, ia tidak terikat kepada ruang dan waktu secara ketat, sebab seni baginya adalah sesuatu yang membebaskan diri dari keterikatan alamiah terhadap ruang dan waktu.

Riau sesungguhnya memerlukan orang-orang semacam SPN Idrus Tintin ini agar geliat pembangunan dan gemerlap perburuan material tidak tercabut dari akar tunggang sejarah, baik sejarah diri maupun sejarah kebudayaan. Kita juga tidak menginginkan, Riau tumbuh menjadi sebuah negeri yang maju hanya secara fisik, sebab kemajuan satu bidang dan ketertinggalan bidang lain, tidak hanya melahirkan kepincangan, tapi sekaligus akan menyebabkan timbulnya kegamangan kemanusiaan. Sebuah negeri yang ideal, kata William Butler Yeats, adalah sebuah negeri ramai oleh puisi dan balada pada satu sisi, dan memiliki sistem yang kuat pada sisi lain. Keseimbangan semacam inilah yang harus kita capai.

Idrus Tintin. tidak lagi akan pernah bersama kita mengawal keseimbangan itu, tapi penyair tidak pernah dikubur bersama karyanya. Pesan moral melalui puisi-puisinya akan terus hidup dan akan tetap dikenang. Bang Idrus Tintin, selamat jalan.

(20 Juli 2003)


Tulisan ini sudah di baca 200 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku 1001 Saddam

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/1001-Saddam/164-Perginya-Seniman-Pemangku-Negeri.html