drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

1001 Saddam | Bagian : 3

Perempuan Penguasa Kata-kata


Oleh : drh.chaidir, MM

NGERUMPI biasanya identik dengan perempuan. Dengan kata lain, perempuan memang suka memperkatakan atau mempersendakan sesuatu, kadangkala tak kenal waktu. Tapi bahwa perempuan juga bisa menjadi penguasa kata-kata, barangkali juga banyak yang tidak menyangka. Itulah agaknya yang hendak dipertontonkan oleh Herlela, seorang perempuan penulis puisi yang bermastautin di Pekanbaru, Riau. Dengan rasa percaya diri yang sangat tinggi, dia berhasil meng^ gandeng Ibu Aida Ismeth untuk menerbitkan buku antologi puisi yang ditulis oleh perempuan-perempuan penulis puisi. Tidak hanya itu, dia pun dengan kawan kawan berhasil mengumpulkan para perempuan penulis puisi senusantara ini untuk membacakan puisi-puisinya di Pekanbaru.

Maka, walaupun beberapa lelaki ikut membaca puisi, malam itu jelas didominasi oleh perempuan. Herlela beruntung memiliki kawan seperti Ibu Aida Ismeth yang mendukung penuh penerbitan dan peluncuran buku itu. Padahal, kalau dilihat kasat mata, Herlela dan Aida Ismeth berbeda bak siang dan malam.

Aida Ismeth (tentulah perempuan), adalah seorang isteri dari pejabat penting yang bermastautin di Batam, dosen Universitas Indonesia pula, sedangkan Herlela? Herlela adalah nobody, sepeda motor buruknya pun terbatuk-batuk ketika mengantarkan undangan ke rumahku, tapi dia bahagia dan selalu tertawa berderai-derai. Namun kedua perempuan ini memiliki dedikasi yang tinggi terhadap dunia seni-budaya. Puisi mempersatukan mereka, membuat tidak ada jurang pemisah antara si miskin dan si kaya. Karena itulah agaknya seorang pemenang Nobel Sastra, William Buttler Yeats, mengatakan, Irlandia yang sejahtera menjadi indah karena sastra dan puisi, juga balada.

Penyair adalah penguasa kata-kata. "Tapi mereka tidak mengendalikan kata-kata secara otoriter, memangkas atau mencukur", kata penyair Taufik Ismail. "Mereka akan duduk santai, terbaring terpejam, membiarkan kata-kata mengukur emosinya, dan bernikmat-nikmat dengan kata-kata untuk mendapatkan pencerahan". Itulah agaknya yang dilakukan oleh penyair-penyair perempuan kita ini. Tidak semua penyair yang memberikan kontribusi puisi dalam buku antologi tersebut hadir, tetapi agaknya kehadiran penyair dari Nangroe Aceh Darussalam, Sumbar, Makassar, Malang, dan Jawa Tengah cukup mewakili kawan-kawannya. Ham-pir semua perempuan penyair Riau tampil malam itu, sebut saja Murparsaulian, Hasnah Dumasari, Tien Marni, Herlelaningsih, dan beberapa penyair muda yang berbakat seperti DM. Ningsih.

Lebih jauh, Naisbitt dalam Megatrend 2000 menjelaskan, bahwa pada abad ke-21 seni akan menunjukkan suatu peran yang lebih besar dalam hubungan antar manusia, bahkan antarbangsa. Mengelaborasi Naisbitt, kemajuan teknologi yang berkembang dengan pesat akan membuat batas-batas teritorial dalam hubungan antar negara menjadi hilang. Manusia seakan-akan berada dalam sebuah kawah besar, di mana antara yang satu dengan yang lain akan dapat saling berhu-bungan dengan cepat. Kondisi ini pada gilirannya akan berpotensi mengaburkan identitas manusia itu sendiri. Maka pada masa depan, kata Naisbitt, hanya agama dan seni yang mampu menjadi identitas dan la tar kebu-dayaan seorang manusia, sebuah puak atau negeri. Naisbitt mungkin tak berlebihan tentang kecenderungan globalisasi itu. Tapi mengapa seni? Jawabnya, karena seni berangkat dari nilai dasariah kebudayaan manusia, dan karena ia memiliki kemampuan bertahan relatif lebih kuat dari hal-hal lain. Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan oleh penyair TS. Eliot, yaitu karena seni merupakan sebuah sumber jatidiri. Hanya saja, kata Eliot, meskipun seni merupakan sebuah jatidiri, ia tetap-lah sesuatu yang harus diperjuangkan, sesuatu yang harus dikembangkan.

Beberapa pendapat di atas memberikan kita sebuah simpulan sederhana, bahwa seni dengan segenap perkembangannya merupakan suatu hal yang sangat penting, dan untuk itu harus dikembangkan dan didukung secara maksimal sehingga dapat berjalan secara sepadan dan bersanding setanding dengan bidang-bidang lain.

Kita bersyukur, kreativitas kesenian di Riau telah menunjukkan suatu kemajuan yang signifikan, sehingga kita tidak perlu khawatir, andaipun ramalan Naisbitt seperti yang dilansir di atas menjadi kenyataan. Kita, dengan gemuruh perkembangan seni yang saat ini berlangsung tidak hanya di Pekanbaru, tapi juga pada tingkat kabupaten dan kota, sudah memiliki kesiapan secara baik dalam hal penunjukan identitas. Namun dernikian, tentu saja gerakan pencarian dan pemantapan harus terus dilakukan, sehingga seni tidak hanya selesai sebagai tanda atau identitas semata, tapi jika bisa, harus sampai pada tahap menjadi jatidiri.

Tidak dapat dipungkiri bahwa karya sastra merupakan manifestasi kehidupan jiwa bangsa dari abad ke abad. Di dalam karya sastra terkandung nilai-nilai budaya yang mencerminkan kehidupan manusia pada waktu tertentu. Karya sastra merupakan khazanah ilmu pengetahuan dan budaya. Oleh karena itu, penghayatan terhadap karya sastra akan memberikan keseimbangan antara pemerolehan ilmu pengetahuan dan teknologi di satu pihak dan pembangunan jiwa di pihak lain. Keselarasan keduanya sangat berperan dalam pembangunan manusia.

Semoga ke depan semakin banyak perempuan-perempuan yang mengokohkan dirinya sebagai penguasa kata-kata, yang mengajarkan kepada kita tentang kearifan, kejujuran, dan kecerdasan.

(7 Juni 2003)


Tulisan ini sudah di baca 174 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku 1001 Saddam

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/1001-Saddam/163-Perempuan-Penguasa-Kata-kata.html