drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

1001 Saddam | Bagian : 3

Balada Huzrin Hood


Oleh : drh.chaidir, MM

NAMA Huzrin Hood adalah nama yang sering terucap dari setiap bibir dalam hampir tiga tahun otonomi daerah menjadi paradigma baru pemerintahan di negeri ini. Hampir tiada hari bagi sebuah surat kabar tanpa menulis namanya dan tentu hampir tiada hari bagi pembaca tanpa menyebut namanya. Nama Huzrin Hood disebut dalam suka dan nestapa, terpendam da-lam simpati dan antipati, terbayang dalam benci tapi rindu. Sebanyak yang suka, sebanyak itu pula yang tidak suka. benang dan tidak senang tidak berjarak sejaurT mata memandang, tapi berada dalam satu ruang yang boleh dikata tidak pula lapang. Hitam dan putih har beda-beda tipis. Salah dan benar ada kalanya bisa dipisahkan tapi sulit dibedakan. Mengelaborasi Kahlil Gibran, kebaikan dan keburukan walau bisa diketahui, tapi lebih sering sulit dikenali apalagi dari pakaian dan asesorisnya.

Tentu semua itu manusiawi. Itu pertanda bahwa Huzrin Hood adalah manusia. Kendati namanya sering diasosiasikan dengan Robin Hood, pahlawan dalam cerita dongeng Inggris itu. Pembaca surat kabar, pendengar radio, pemirsa televisi, mereka juga manusia yang hidup dalam alam nyata. Mereka bukan malaikat. penjahat dan polisi adalah manusia, pengacara dan jaksa juga manusia. Tuan dan hamba semuarya manusia. Manusia adalah manusia, memiliki peluang yang sama. Di depan satwa membusungkan dada sebagai makhluk paling sempurna, tapi di depan Sang Pencipta mengaku sebagai makhluk tak sempurna, apalagi bila berbuat dosa. Tapi yang namanya manusia, selalu bisa mencari "tempat jatuh", seperti kata orang bijak; "kesempurnaan manusia itu terletak pada ketidaksempurnaannya." Maka semua insan punya peluang yang sama untuk berbuat dosa dan mengaku itu sebagai takdir manusia yang memang diciptakan tidak sempurna.

Huzrin Hood adalah sebuah fenomena atau barang-kali sebuah contoh soal betapa tidak tentu dan tidak terduganya hari esok dalam sebuah masyarakat yang sedang mengalami turbulensi seperti sekarang ini. Kita berada dalam masa transisi yang panjang, yang entah kapan akan berakhir. Ibarat sebuah pesawat yang terbang dalam cuaca buruk, kita semua terguncang-guncang, barang-barang berserakan, gelas-gelas berjatuhan, ada yang jatuh pecah menimpa muka dan meneteskan darah. Pertanyaannya adalah, adakah masa-masa seperti ini memang hams kita lalui. Tidakkah dapat kita hindari, sehingga tidak perlu ada yang terluka, tidak perlu ada air mata. Luka, betapapun kecil goresannya, akan meninggalkan parut.

Belum lagi beberapa purnama berlalu ketika Huzrin Hood dielu-elukan sebagai pahlawan perjuangan Provinsi Kepulauan Riau (dan dia memang berhak memperoleh penghargaan seperti itu), dia kemudian ditahan di penjara. Mengejutkan? Pastilah mengejutkan. Tragis? Tentulah iya.

Saya tidak hendak berbicara salah-benar dalam kasus penahanan Huzrin Hood. Sebab kasus Huzrin Hood itu multidimensional. Huzrin Hood sendiri beserta keluarga terdekatnya, karena ditempa dalam lingkungan keagamaan yang kuat, rasanya tentu siap secara mental menghadapi musibah itu. Saya teringat suatu kali, pada suatu hari, Huzrin Hood bercerita tentang komentar anaknya yang sedang studi di Kuala Lumpur, sesaat setelah bapaknya terpilih menjadi Bupati Kepulauan Riau. Komentar anaknya: Innalillahi wainna ilaihi roji'un. Respon anaknya tidak lazim, seperti yang sering kita dengar bila orang terdekat terpilih untuk suatu jabatan penting seperti itu. Umumnya ucapan selamat. Tapi anak Huzrin tidak. Dia justru menyampaikan ucapan dukacita, karena jabatan itu menurutnya sebuah cobaan yang apabila tidak dipangku dengan baik, amanah itu akan menjadi musibah. Kalau bukan karena pemahaman yang dalam tentang ke-Islaman, tentulah anak Huzrin tidak akan bersikap demikian. Terlepas dari salah-benar apa yang dilakukan oleh Huzrin Hood, Bupati Kepulauan Riau, dalam memperjuangkan aspirasi rak-yatnya yang ingin meningkatkan status Kepri menjadi provinsi, apa yang diucapkan oleh anaknya itu menjadi kenyataan. Jabatan bupati telah menjadi cobaan terbesar dalam perjalanan hidupnya.

Yang tidak siap menghadapi musibah ini agaknya bukan Huzrin Hood, tapi gerbong panjang yang dihelanya di belakang. Gerbong ini juga bagian dari "penumpang" pesawat yang terbang dalam cuaca buruk itu, bagian dari masyarakat Indonesia yang sedang berada dalam masa transisi panjang. Ini sebuah tragedi kehi-dupan. Huzrin Hood adalah sebuah contoh, kalau tidak mau disebut sebagai korban turbulensi, keadaan yang tidak menentu, unpredictable dan uncertainty. Dia korban dari tarik-menarik kepentingan sebagaimana disinyalir oleh filsuf Thomas Hobbes beberapa abad yang lampau: helium omnium contra omnes - manusia itu cenderung berperang antar sesama. Penyebabnya, tidak lain adalah konflik kepentingan. Huzrin Hood sendiri dalam peta kepentingan itu adalah juga seorang pahlawan, tinggal memandangnya dari sudut yang mana.

Dalam skala nasional, secara struktural, Huzrin Hood hanyalah seorang bupati. Seberapa besar pun kewe-nangan yang diberikan oleh Undang-undang, bupati tetaplah bupati. Ada keterbatasan laman tempat bermain, walaupun oleh sementara kalangan di pusat para bupati dan walikota ini disebut sebagai raja-raja kecil di daerah. Mereka bukan langit yang ketujuh, lapisan yang tertinggi. Di atas langit masih ada langit. Ada ratusan bupati dan walikota, dan di atasnya masih ada 30 gubernur. Namun, walaupun hanya seorang bupati, resonansi Huzrin keras sekali dan tidak boleh diabaikan demikian saja. Apalagi bila kita memandangnya sebagai sebuah drama kemanusiaan yang boleh jadi mewakili realitas benturan-benturan yang terjadi dalam pencarian keseimbangan-keseimbangan baru di tengah masyarakat.

Tragedi Huzrin Hood bagaimanapun telah membe-rikan catatan perenungan kepada kita semua bagaimana harusnya kita memandang atau memposisikan diri secara arif dalam masa transisi yang tidak nyaman itu. Tinggal bagaimana kita menyikapinya sehinggalah tidak menimbulkan luka-luka yang membekas.

Balada anak manusia yang bernama Huzrin Hood ini tentulah menarik bila nanti dituangkan dalam suatu autobiografi. Sobat Huzrin, perjuangan memang selalu membawa dua hal, yaitu pengorbanan dan pesan. Anda tentu mafhum.

(8 Juni 2003)


Tulisan ini sudah di baca 223 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku 1001 Saddam

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/1001-Saddam/162-Balada-Huzrin-Hood.html