drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

1001 Saddam | Bagian : 3

Islah lslah lslah


Oleh : drh.chaidir, MM

Kata yang paling populer minggu ini dan beberapa hari mendatang adalah lebaran. Dari aspek semantis, lebaran jelas bermakna hari raya umat Islam, yang jatuh pada tanggal 1 Syawal dalam bulan Arab. Lebaran 1 Syawal disebut juga Hari Raya Idul Fitri. Di Semenanjung Malaysia lebih populer dengan sebutan Hari Raya Aidil Fitri.

Dari aspek sosiologis, lebaran agaknya bisa bermakna ketupat, kelamai, baju baru, atau juga mudik. Namun yang paling konseptuai adaiah, lebaran bermakna sila-turahim. Memulai hidup baru dengan semangat islah dalam suasana silaturahim, hubungan antarmanusia yang lebih akrab, bersahabat, dan bermartabat. Selama bulan Ramadhan, umat Islam telah melatih diri membangun hubungan persaudaraan, kebersamaan, dan rasa senasib sepenanggungan. Orang-orang yang karena kemampuan ekonominya tidak sepatutnya menanggung lapar dan haus, secara ikhlas melakukannya, bahkan kemudian membagikan sebagian hartanya untuk fakir miskin dan anak yatim. Hawa nafsu keduniaan dikenda-likan sedemikian rupa. Oleh karenanya, bagi umat Islam Yang menunaikan ibadah puasa Ramadhan dengan penuh kesungguhan, berhak merayakan Idul Fitri sebagai hari kemenangan.

Semua umat Islam di seluruh dunia, dalam suasana Idul Fitri ini menyapa antarsesama. Menyapa dan bersalaman, menyapa dan bersalaman tak hentihenti. Kata-katanya pun sederhana namun sarat makna: Selamat Idul Fitri mohon maaf lahir dan batin, minal aidin walfaidzin.

Lebaran memang sekaligus memiliki dua dimensi, yakni dimensi vertikal (Hablumminallah - hubungan dengan Allah) dan dimensi horizontal (hablumminannas -hubungan dengan sesama manusia). Dalam dimensi vertikal, memang hanya umat Islam yang melaksanakan puasa Ramadhan dengan sungguh-sungguh dapat merasakan kemesraan dan getaran hubungannya dengan Sang Pencipta. Namun dalam dimensi horizontal, lebaran agaknya telah menjadi milik bersama. Untuk Indone-sia misalnya, kehangatan persaudaraan Idul Fitri itu tidak hanya terjadi antarsesama umat Islam, umat agama lain pun ikut menyapa dan bersalaman sembari mengucapkan maaf lahir dan batin bahkan tidak sedikit, yang fasih mengucapkan minal aidin walfaizin. Padahal idiom ini sesungguhnya eksklusif.

Tema silaturahim dalam arti mempererat hubungan antarsesama dengan saling memaafkan adalah tema sentral dalam agenda lebaran. Konsep Idul Fitri sesungguhnya adalah anugerah yang luar biasa dari Sang Pencipta kepada umat manusia, setelah umat manusia itu diciptakan berkaum-kaum. Bukankah Allah SWT. telah berfirman, sebagaimana tercantum dalam kitab suci Al Qur'an Surat Al-Hujurat ayat 13, "Hai manusia, Aku menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal".

Pemahaman kita terhadap ayat tersebut adalah, bahwa pluralisme itu hukum alam, kodrati, atau sunnatullah. Dengan demikian, kemajemukan, keragaman, atau kebhinekaan tidak mungkin kita hindari. Mengingkari pluralisme sama saja mengingkari sunnatullah dan itu pekerjaan yang sia-sia. Kafilah panjang bangsa-bangsa dan suku-suku itu bahkan kini lebih diperpanjang lagi dengan munculnya kelompok-kelompok, organisasi-organisasi, atau partai-partai, masing-masing dengan bendera dan kepentingannya.

Misi atau kepentingan yang berbeda menyebabkan timbulnya potensi konflik. Potensi konflik menjadi mengakar manakala barisan kafilah tersebut tidak memperoleh perlakuan dan kesejahteraan yang sama. Padahal jelas, apabila kesejahteraan itu merupakan outcomes dari sebuah sistem, dia pasti tidak akan sama, walaupun faktor inputnya sama. Hal ini disebabkan karena kelompok-kelompok, suku-suku, atau bangsa-bangsa yang membentuk barisan panjang kafilah kehidupan itu satu dan lainnya memang tidak pernah sama. Jangankan antara kelompok atau suku bangsa, antara individu satu dengan lainnya saja sudah berbeda. Kepala boleh sama-sama hitam atau sama-sama botak, tapi pikiran tetap tidak sama. Entah nanti, 200 atau 500 tahun yang akan datang, apabila teori kloning manusia telah demikian canggihnya sehingga mampu diciptakan dua, tiga, atau empat atau lebih manusia kembar yang sama dan sebangun baik dalam bentuk maupun dalam sifatnya, tapi rasanya itu mustahil.

Oleh karena itu, apa yang terungkap dalam dialog yang sangat mengesankan antara Nabi Muhammad SAW. dengan pengikutnya di Madinah pada hari-hari terakhir sebelum beliau wafat patut menjadi perenungan kita. Dengan tatapan santun seorang pemimpin yang bijak bestari, Nabi bertanya kepada pengikutnya, "Jika kelak Romawi dan Persia telah berada dalam genggaman kalian, apakah yang akan kalian lakukan?" Para sahabat segera menjawab, "Kami akan bersikap seperti kebiasaan kami selama ini, ya Rasulullah. Kami akan selalu tawakkal dan bersahaja". Namun seakan tahu apa yang bakal terjadi di masa-masa sepeninggal dirinya, Beliau lantas menyanggah, "Tidak. Kalian akan berlomba-lomba mencari kekayaan dan saling mementingkan diri dan kelompok sendiri, serta tidak toleran terhadap kelompok lain, meski mereka adalah saudaramu sendiri. Pada saat itu kalian akan menduga bahwa berperang demi harta dan jabatan adalah jihad di jalan Allah, sehingga kalian akan menjadi binasa kecuali jika kalian bertakwa". Beratus-ratus tahun kemudian, abad datang silih berganti, sejarah telah membuktikan secara berulang-ulang tentang kebenaran ucapan Nabi Muhammad SAW. ini.

Lebaran tahun ini kita rayakan di tengah polarisasi kelompok kepentingan yang tajam di tengah masyarakat. Masing-masing konstituen kafilah kehidupan itu berlomba-lomba merebut kekayaan dan kekuasaan sebagaimana diprediksi oleh Nabi SAW. itu. Beda pendapat yang mestinya menjadi kawan berpikir untuk mempertajam konsep telah bermetamorfosa menjadi saling melemahkan, bahkan saling meniadakan satu dengan lainnya. Pertelagahan terjadi di mana-mana dan seakan tak terdamaikan. Kelembagaan Datuk dan Ninik Mamak tidak lagi mendapatkan apresiasi selayaknya dari cucu dan kemenakan. Para pemimpin pula tidak memiliki kredibilitas dan integritas sebagai mediator. Bangsa kita agaknya sedang mengalami krisis akhlak yang sangat serius.

Banyak orang berbicara tentang islah nasional sebagai salah satu jalan keluar. Esensi moral islah adalah silaturahim dan saling memaafkan. Tapi maaf-memaafkan saja tidak cukup. Itu semua harus diselimuti oleh akhlak dan budi pekerti yang mulia, yang menimbulkan rasa saling percaya. Selamat Hari Raya Idul Fitri, minal aidin walfaizin, mohon maaf lahir dan batin.

(8 Desember 2002)


Tulisan ini sudah di baca 126 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku 1001 Saddam

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/1001-Saddam/161-Islah-lslah-lslah.html