drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

1001 Saddam | Bagian : 3

Sayang Sayang Selat


Oleh : drh.chaidir, MM

Negeri-negeri Melayu adalah negeri dengan peradaban selat. Berbasah-basahan dengan air, atau seperti yang dikatakan oleh seorang kawan, yaitu negeri-negeri yang tumbuh dan berkembang senafas dengan riak air dan deburan gelombang. Seperti juga Malaysia, Singapura, Brunei, dan beberapa wilayah lainnya termasuk Thailand Selatan dan Mindanao di Filipina. Pada masa lampau, akibat politik dan penjajahan, negeri-negeri Melayu itu akhirnya terpisah. Narnun uemikian, meski terpisah oieh batasan teritor namun mereka semua tetap merasa dekat karena disatukan oleh sebuah ikatan yang sama, yaitu sama-s berbasis kebudayaan Melayu.

Atas nama kesamaan akar kebudayaan itu, belum lama ini (tepatnya tanggal 47 September 2002), di Bengkalis dilaksanakan sebuah helat kebudayaan yang cukup besar, yang diberi nama Sayang Sayang Selat. Helat budaya yang diikuti oleh kalangan budayawan, seniman, akademisi, dan masyarakat itu, selain menyuguhkan pertunjukan seni lintas negara, juga diisi dengan perbincangan kebudayaan yang melibatkan para pakar; sejumlah negara, seperti dari Malaysia, Singapura, Riau, dan juga Jepang.

Oleh panitia, saya juga diundang dalam helat kebudayaan tersebut. Berbeda dengan yang lain, saya datang tidak untuk memberikan sambutan atau membawa makalah tentang kebudayaan, tapi diminta untuk membaca puisi (sesuatu yang sudah lebih 20 tahun tidak saya geluti). Karena keterbatasan waktu, saya hanya sempat membacakan satu puisi "Mencari Sebuah Masjid" karya Sastrawan Taufik Ismail, meskipun saya sudah menyiapkan beberapa buah. Saya tidak tahu apakah saya membacanya dengan bagus atau tidak. Bagi saya itu tidak lagi begitu penting, yang jelas saya sangat menikmati dan melakukannya dengan gembira (begini-begini, pernah juara baca puisi, wak, tapi dulu, he, he, he...).

Dalam pandangan saya pribadi, dialog-dialog, atau gerakan kebudayaan, seperti Sayang Sayang Selat atau kegiatan yang senafas dengan itu, adalah suatu yang sangat positif dan harus terus dilakukan. Hiruk-pikuk pembangunan yang seringkali lebih mengutamakan pada hal-hal yang berbau fisik dan material, selalu akan hanva melahirkan sebuah ketidakseimbangan yang pada gilirannya akan membuat sebuah negeri menjadi kehilangan aura dan ruh. Dengan kuatnya gerakan kebudayaan beriringan di sisi pembangunan di bidang lain, maka akan selalu besar kemungkinan bagi sebuah puak atau negeri untuk berada dalam wadah keluhuran.

Lebih dari itu, gerakan kebudayaan menjadi penting, terlebih lagi pada masa sekarang, pada hemat saya, bukan saja karena kebudayaan atau seni dapat meredakan dan menetralisir perilaku masyarakat modern yang cenderung anomi, kejam, agresif, dan serba masif, seperti yang diisyaratkan oleh Matthew Arnold, tapi juga karena kebudayaan itu, terutama bagi orang Melayu, adalah sumber jati diri. Sebagai sebuah sumber jati maka semangat dan gerakan kebudayaan harus terus ditumbuhkan, harus terus diperjuangkan, sehinggas kemajuan yang kita capai adalah sebuah kemajuan yang tidak tercerabut dari akar, tidak menjadi sebuah kemajuan yang mengawang-awang. Tapi sebaliknya adalah sebuah kemajuan yang memiliki nilai kemuliaan dai tetap mengakar pada nilai luhur kebudayaan Melayu.

Apabila dihubungkan dengan Visi Riau 2020, yang bercita-cita untuk menjadikan Riau sebagai Pusat Kebudayaan Melayu di Asia Tenggara, maka geliat gerakan kebudayaan, semacam Sayang Sayang Selat dan yang sejenis dengan itu, menjadi suatu hal yang sangat mendukung, karena dari pertemuan semacam itu, kita menjadi dapat merumuskan secara lebih baik arah pembangunan kebudayaan yang kita idam-idamkan. Kondisi-kondisi dan cara pembangunan budaya yang dilakukan negara lain dalam satu kawasan, semisal Malaysia dan Singapura, dapat menjadi pembanding yang baik bagi Riau, sehingga Riau dapat pula menentukan suatu model pembangunan kebudayaan yang sesuai dengan kondisi Riau terkini. Jika tidak demikian, maka sebaik dan sebesar apa pun cita-cita kebudayaan yang kita pancangpkan, tidak akan mendapatkan hasil yang maksimal. Dalam kunjungan saya ke Singapura memenuhi undangan pemerintah negeri itu beberapa waktu lalu, "Singapore Radio" sempat melakukan interview dengan saya dan terus terang saya tergugah karena wartawatinya banyak bertanya tentang "Malay Culture". Ini sejalan dengan pemikiran kita betapa kebudayaan Melayu harus menjadi nafas pembangunan yang sedang kita galakkan entah itu politik atau ekonomi. Singapura nampaknya sedang berusaha keras agar budaya Melayu itu tetap menjadi salah satu konstituen utama dalam jati diri baru orang Singapura.

Pada era otonomi daerah ini, kita memiliki sedikit keleluasaan dan peluang dalam menetapkan kebijakan nernbangunan pada segala bidang. Selain itu, otonomi juga membuat kita memiliki kemampuan yang lebih memadai secara finansial. Dan tentu saja dari peluang kebijakan dan material yang ada pada Riau saat ini, khusus pada lapangan kebudayaan, akan membuat kita bisa melakukan pengembangan pembangunan kebudayaan itu secara lebih baik dan terarah.

Terlepas dari "keleluasaan" yang ada pada kita, saya juga mempercayai, bahwa maju mundur pembangunan kebudayaan juga sangat tergantung pada "kehendak kebudayaan", pada pihak kita, baik itu pelaku kebudayaan, pemegang teraju negeri, dan juga masyarakat. Untuk itu, mungkin diperlukan kesamaan sikap dalam menjayakan kebudayaan ini, sebagai bagian dari pembangunan diri dan martabat negeri. Dengan kesamaan sikap dan didukung pula dengan kesatuan masyarakat Riau, saya kira, menjadikan Riau sebagai pusat kebudayaan Melayu dan menemukan jalan te-rangnya bukanlah suatu Utopia.

Gerakan pembangunan kebudayaan merupakan hal yang mesti terus ditumbuhkan dan diberi laluan, khususnya jika kita tidak ingin pembangunan memangsa anak-anaknya. Strategi pembangunan kebudayaan itu pula harus terus dirapikan, sehingga kelak masanya tiba, negeri ini wujud sebagai sebuah negeri yang maju dengan nilai kebudayaan yang ranggi. Dan bahkan menjadi "Selat Kebudayaan" Melayu dengan irama gelombang dan aroma tersendiri di antara gemuruh-gemuruh gelombang dan aroma selat kebudayaan dunia yang lain. Semoga.

(22 September 2002)


Tulisan ini sudah di baca 175 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku 1001 Saddam

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/1001-Saddam/158-Sayang-Sayang-Selat.html