drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

1001 Saddam | Bagian : 3

Fitnah Sepanjang Zaman


Oleh : drh.chaidir, MM

Konon, kapal Kerajaan Lancang Kuning yang menjadi legenda itu, tenggelam di Tanjung Jati, perairan Bengkalis, bermula dari sebuah fitnah. Panglima Umar yang menyesal alang kepalang telah membunuh Datuk Laksamana yang tak bersalah, dengan sengaja melayarkan Lancang Kuning melewati Tanjung Jati. Maka, sebagaimana sumpah Datuk Laksamana sebelum tewas di ujung keris Panglima Umar, kapal itu tenggelam di Tanjung Jati.

Ceritanya, Panglima Hasan tergiur dengan isteri Panglima Umar, Siti Zubaidah yang cantik jelita. Panglima Hasan mengatur siasat. Ditiupkannya isu, orang Bengkalis melarang nelayan Bukit Batu untuk menangkap ikan terubuk. Berita itu sudah barang tentu membuat Datuk Laksamana risau dan mengutus Panglima Umar untuk berangkat ke Bengkalis menyelidiki gerangan apa yang terjadi. Sepeninggal Panglima Umar, Siti Zubaidah yang sedang hamil muda, digoda oleh Panglima Hasan. Namun Siti Zubaidah tidak tertaklukkan oleh Panglima Hasan. Penasaran, Panglima Hasan mengancam, apabila tidak bersedia menerima cintanya, Siti Zubaidah akan dibunuh dan dijadikan galang kapal Lancang Kuning. Sebab konon dipersyaratkan, pada saat peluncuran perdana Lancang Kuning harus seorang wanita hamil anak sulung yang dikorbankan sebagai galangnya. Singkat cerita Siti Zubaidah dibunuh oleh Panglima Hasan dan dijadikan galang kapal. Sepulangnya dari Bengkalis, Panglima Hasan bercerita Datuk Laksamanalah yang memerintahkan Siti Zubaidah dikorbankan sebagai galang Lancang Kuning. Panglima Umar tentu saja berang dan kemudian membunuh Datuk Laksamana.

Hal ihwal fitnah ini juga terjadi pada bagian lain Negeri Junjungan, Bengkalis. Dalam satu versi tersebutlah kisah Awang Mahmuda yang berkelahi tujuh hari tujuh malam dengan Awang Bungsu. Perkelahian itu bermula ketika tersebar berita bahwa Awang Bungsu berusaha merebut Dayang Dermah, calon isteri Awang Mahmuda. Awang Bungsu kemudian tewas. Nasi telah menjadi bubur ketika diketahui bahwa berita itu ternyata hanya fitnah.

Legenda negeri Melayu di Selat Melaka memang tak pernah sepi dari fitnah. Cerita yang sudah umum diketahui dalam satu versi adalah ketika Panglima Hang Tuah harus baku bunuh dengan Hang Jebat. Adalah Patih Karmawijaya yang meniupkan fitnah untuk mencari keuntungan politik pribadi di kerajaan, bahwa Hang Tuah telah berbuat serong dengan Tun Teja, isteri Sultan Melaka. Hang Tuah diperintahkan oleh Sultan untuk dihukum bunuh. Untung nasib Hang Tuah belum tamat, dia diselamatkan oleh Datuk Bendahara. Hang Jebat yang tidak rela Sultan dan saudaranya difitnah, kemudian mengamuk. Keributan ini dieksploitir dengan licik oleh Patih Karmawijaya untuk melancarkan fitnah kedua. Hang Jebat difitnah berbuat makar dengan maksud-maksud yang jahat kepada Sultan. Sultan kemudian memerintahkan Panglimanya, Hang Tuah, untuk membunuh saudaranya, Hang Jebat, yang dituduh telah berbuat makar untuk meruntuhkan kerajaan.

Fitnah, yang bermula dari nafsu menguasai yang tak terkawal oleh etika moral, agaknya telah menjadi sesuatu yang inheren dalam dunia fana ini. Dalam literatur sejarah Islam misalnya, kita juga mencatat fitnah ini banyak diilustrasikan menimbulkan kekacauan. Cerita-cerita sahabat yang terusir dari kampung halamannya, cerita tentang perampasan harta benda, cerita tentang orang-orang yang disakiti dan diganggu kebebasannya beragama, bahkan cerita tentang pembunuhan, banyak dikaitkan bermula dari sebuah fitnah.

Literatur juga mencatat peristiwa pembunuhan Usman RA, khalifah yang ketiga sepeninggal Nabi Muhammad SAW, adalah peristiwa al-fitnah al-kubra (fitnah besar) yang pertama. Peristiwa peperangan antara Mu'awiyah dengan Ali RA adalah fitnah besar yang kedua. Diriwayatkan, para demonstran yang berasal dari Mesir yang berunjuk rasa kepada Usman RA, semula sudah puas dengan jawaban Usman RA, kemudian mulai bergerak pulang. Namun masuklah provokasi dari Abdullah bin Saba, sehingga para demonstran terbalik, kembali menyerang Usman RA dan membunuhnya. Peristiwa ini memang bernuansa politik. Jadi sejak zaman dahulu kala, provokator memang sudah ada. Fitnah itu memang dahsyat, demikian dahsyatnya, sehingga kitab suci Al Qur'an menggambarkan bahwa fitnah adalah lebih kejam dari pembunuhan.

Fitnah adalah perbuatan yang tidak terpuji, itu jelas. Fitnah menurut kamus adalah perkataan bohong atau tanpa dasar kebenaran yang disebarkan dengan maksud menjelekkan orang, seperti menodai nama baik atau merugikan kehormatan orang. Fitnah bisa menyebabkar orang baik-baik yang bercitra baik menjadi orang yang bercitra jelek. Fitnah juga bisa menyebabkan seseorang kehilangan kepribadian atau karakternya. Fitnah bisa menyebabkan seseorang dihukum masuk penjara. Fitnah juga bisa menyebabkan orang atau kelompok saling bermusuhan, bahkan saling membunuh. Perburuan Osama bin Laden dan kemudian penghancuran Irak oleh Amerika Serikat, agaknya juga sebuah fitnahl yang berawal dari kegeraman Amerika terhadap teroris dan terhadap senjata pemusnah massal yang didugal dimiliki Irak. Setakat ini senjata pemusnah massal itu hanya ilusi.

Hari-hari ke depan ini, di tanah Melayu Riau, bila tidak hati-hati, kita pun akan menuai badai akibat fitnah. Hidup kita ini merupakan kafilah panjang perbedaan-perbedaan, mulai dari individu, kelompok, suku, agama, bahasa, bahkan juga kepentingan. Pada masyarakat itulah kita akan melaksanakan dua agenda penting, yaitu pemilihan Gubernur Riau dan Pemilihan Umum. Yang namanya pemilihan, tentu hanya ada satu yang tampil sebagai pemenang. Kalaulah boleh semuanya menjadi Gubernur atau semua partai menjadi pemenang Pemilu, biarlah itu terjadi, asalkan bisa memuas semua kafilah tadi. Tapi itu sesuatu yang tidak mungkin.

Di sinilah agaknya kearifan kita semua dituntut, bagaimana secara bijak perbedaan-perbedaan itu disikapi. Terjadinya bias dalam berkomunikasi bisa saja terjadi, karena itu dipengaruhi oleh banyak faktor. Mulai dari hal-hal yang bersifat tidak prinsip, seperti kemampuan komunikator dan komunikan, serta kualitas pesan (messages), sampai kepada hal-hal yang bersifat prinsip seperti latar belakang budaya, adat istiadat, agama, dan sebagainya. Itu belum termasuk kemungkinan adanya dalang, provokator, atau kalangan oportunis yang memang selalu berupaya menciptakan instabilitas atau perbenturan untuk mencari keuntungan pribadi. Itu sudah banyak kita lihat sekarang di tengah rnasyarakat. Ini semua berpotensi untuk menimbulkan salah pengertian antara satu dengan lainnya dari beraneka ragam kafilah itu. Oleh karena itu, orang tua-tua kita berpetuah, biarpun harimau di perut, tapi kambing jua yang keluar di mulut. Dengan kata lain, hal-hal yang tidak layak untuk diperkatakan, tidak perlu diperkatakan, karena itu akan dapat berkembang menjadi fitnah.

Kita sudah terlalu sering diadu-domba, bahkan de-mikian seringnya, sehingga banyak cerita yang sudah melegenda. Tidakkah kita mampu berkaca dan kemudian lebih cermat membaca tanda-tanda. Kita tentu tidak ingin penyesalan terjadi seperti Panglima Umar atau Awang Mahmuda itu, dan kita juga tentu tidak ingin mengalami nasib tragis seperti Hang Jebat. Tak usahlah marah dibilang loyang, karena emas tetaplah emas, meski dalam lumpur sekalipun.

(20 April 2003)


Tulisan ini sudah di baca 248 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku 1001 Saddam

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/1001-Saddam/157-Fitnah-Sepanjang-Zaman.html