drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

1001 Saddam | Bagian : 3

Persebatian Cendekiawan


Oleh : drh.chaidir, MM

Kita memang agak terlambat memulai, tapi kata orang bijak, terlambat lebih baik daripada tidak sama sekali. Apa buktinya kita terlambat? Kita terlena dalam nina bobo sebagai suatu daerah yang kaya akan sumber daya alam, minyak bumi, gas, timah, granit, bauksit, dan sekarang batubara, semen, dan tentu saja pasir laut yang heboh itu. Itu belum semua, masih ada hutan dan lahan perkebunan ratusan ribu hektar. Kita masih punya empat sungai air tawar yang tak akan pernah kering yang akan kita ekspor kemanapun. Tapi lihatlah! Semua orang bilang, orang Riau ibarat ayam bertelur di lumbung padi mati kelaparan, atau ibarat itik berenang di sungai mati kehausan. Alamaaak.

Jawabannya klasik dan semua kita sudah tahu: masalah sumber daya manusia! Lapangan pekerjaan yang tersedia menuntut keterampilan, penguasaan iptek, dan profesionalisme. Sementara kita, kemampuan itu yang kurang. Maka, jadilah kalah dalam pertandingan, bahkan adakalanya kalah sebelum bertanding-Kalaupun ada yang menang satu dua orang, itu individual sifatnya, bukan hasil dari suatu kerja sama tim atau keberpihakan dari sebuah sistem. Institusi yang ada, seperti lembaga-lembaga pendidikan, lembaga-lembaga pelatihan, di mana angkatan kerja diinkubasi dan disemai, seperti kekurangan ruh, tidak fokus. Pengamat rnengatakan, institusi kita kalah mutu.

Stop, jangan kambing hitamkan institusi! Kita semua kambing hitam, kalau mau disebut kambing hitam. Pendekatan kita terlalu "matre". Sejujurnya kita selama ini terlalu mengedepankan modal dasar yang bersifat materialistis berupa kekayaan sumber daya alam. Kita mengundang investor untuk membawa modalnya masuk. Kita kemudian mengkonversikan modal yang dibawa ke dalam angka-angka pertumbuhan ekonomi daerah. Semakin besar nilai investasi dolar Amerika, semakin tinggi pertumbuhan ekonomi suatu daerah ... dan kita pun bertepuk tangan. Kita abai terhadap kapital lain yang masuk bersanding dengan dolar itu, yakni modal intelektual yang tersembunyi dalam pikiran sumber daya manusianya.

Apa yang dikatakan oleh William Butler Yeats agaknya menarik untuk kita simak. Modal manusia, menurut Yeats, adalah tempat di mana semua tangga dimulai ketika kita mulai menapak, sumber inovasi, tempat asal wawasan. Jika modal intelektual adalah sebuah pohon (satu dari metafora Leif Edvinsson), maka manusia adalah getahnya. Uang dapat berbicara, tetapi tidak dapat berpikir. Terkadang mesin melaksanakan lebih baik daripada yang dapat dilakukan manusia, tetapi mesin tidak menciptakan.

Maka, ketika Persebatian Cendekiawan Melayu Riau dicanangkan berdiri dan mendapatkan perhatian yang cukup besar dari petinggi-petinggi Riau, pandanglah ini sebagai sebuah upaya yang walaupun terlambat, tetapi patut diapresiasi secara cerdas dalam rangka mengeksploitasi modal intelektual yang ini tersembunyi.
Kita memang kurang memposisikan modal intelek tual dari para cendekiawan kita sebagai sesuatu yang signifikan. Domain ini seakan tak terlirik, sementara kita setiap kali berhari-hari mencari kesesuaian pendekatan; dalam pemecahan suatu masalah secara cerdas dan; bijak.

Sejarah telah mencatat dengan tinta emas betapa besar peran yang dimainkan oleh para cendekiawan Melayu Riau sejak zaman dahulu dalam upaya pencerahan masyarakatnya. Sebutlah Raja Ali Haji yang terkenal dengan Gurindam Duabelasnya. Haji Ibrahim dengan pantun-pantunnya. Riau juga memiliki intelektual lain seperti Raja Ali Kelana dan Raja Aisyah Sulaiman. Nama terakhir merupakan satu dari sedikit penulis perempuan yang terkenal pada zamannya. Angkatan berikutnya tercatat pujangga Suman HS, Selasih Seleguri, dan Sutardji Calzoum Bachri.

Kini cendekiawan Melayu Riau bertebaran di berbagai bidang, seperti Ibrahim Sattah, Hasan Yunus, Yusmar Yusuf, Taufik Ikram Jamil, Prof. Tabrani Rab, Prof Muchtar Achmad, Al Azhar, Azlaini Agus, dan panjang sekali daftarnya kalau mau disebut satu-satu. Mereka-mereka ini merupakan modal manusia sebagaimana dikatakan oleh Yeats.
Orang yang bijaksana pastilah orang yang berilmu, tetapi orang yang berilmu belum tentu bijaksana. Premis ini agaknya disetujui di serata dunia. Orang Jepang bilang, "berilmu tapi tidak bijaksana adalah laksana setumpuk buku di punggung keledai".

Pilihan yang paling ideal memang berilmu dan bijaksana. Inilah agaknya "pakaian" yang tidak terbantahkan bagi seseorang yang mendapat predikat cendekiawan atau merasa dirinya sebagai seorang cendekiawan. Berilmu saja atau bijaksana saja, belum tepat menyandang cendekiawan. Berilmu saja, bisa membahayakan bagi orang lain bahkan bisa menghancurkan peradaban. Apa hendak dikata kalau mereka membikin bom atom kemudian menjatuhkannya. Tapi hanya bermodal bijaksana, orang yang hidup di zaman batu pun memilikinya.

Seorang cendekiawan adalah orang berilmu dan arif bijaksana sekaligus. Ungkapan Tenas Effendy, Ketua Majelis Kerapatan Adat Lembaga Adat Melayu Riau, agaknya yang paling pas mendeskripsikan cendekiawan ini. Cendekiawan, menurut orang tua-tua kita, sebagaimana dielaborasi Tenas, adalah orang-orang cerdik pandai dan orang-orang handal yang memiliki ilmu pengetahuan dalam berbagai bidang, baik duniawi maupun ukhrowi. Ungkapan adat terhadap cendekiawan ini, masih menurut Tenas, adalah lautan ilmu dan telaga budi. Cendekiawan adalah tempat orang meminta petuah, tempat orang menyontoh meneladan, tempat menimba ilmu pengetahuan. Mereka ini, menjadi suluh dalam gulita, menjadi penuntun dalam gelap, menjadi pencelik mata dan pelapang dada, menjadi pembuka jalan pada kemajuan.

Tenas Effendy masih memiliki senarai ungkapan adat tentang cendekiawan, sebagaimana dikatakannya:
Yang disebut cendekiawan
Ilmu cukup takah sepadan
Arifnya menjadi teladan
Bijaknya menjadi ikutan
Yang disebut cendekiawan
Dada lapang pikiran panjang
Arif menyimak faham berbilang
Bijak berkira muka belakang
Cerdik menengok letak bintang
Faham membaca gelap dan terang
.....................


Persebatian Cendekiawan Melayu Riau yang baru saja diresmikan tentulah memikul banyak harap dan pinta sebagaimana ungkapan adat Melayu,
Berguna baju karena sejudu
Berguna pakaian karena serasi
Bertuah Melayu karena berilmu
Bertuah cendekiawan karena berbakti


Atau dalam pesan berikutnya,
Besar kayu karena berdahan
Daunnya tumbuh silih berganti
Besar Melayu karena cendekiawan


Selamat maju jaya...

(25 Agustus 2002)


Tulisan ini sudah di baca 240 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku 1001 Saddam

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/1001-Saddam/156-Persebatian-Cendekiawan.html