drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

1001 Saddam | Bagian : 3

Kaja Minyak dari Riau


Oleh : drh.chaidir, MM

"Ini dia Raja Minyak dari Riau", teriak seorang teman ketika saya muncul dalam acara reuni alumni Fakultas Kedokteran Hewan UGM Yogyakarta setahun yang lalu. Dengan perasaan bangga dalam hati, saya menimpali sekenanya, saya bukan raja minyak tapi raja munyuk, kata saya yang disambut ketawa riang kawan-kawan lama.

Riau memang identik dengan minyak. Ke manapun Kita pergi di nusantara mi, minyak hampir selalu menjadi pembuka kata. "Oh Riau ya, wah ini dia si raja minyak", begitu sering terdengar. Dalam empat tahun terakhir ini simbol minyak itu semakin kuat ketika Riau berjuang habis-habisan untuk mendapatkan hak pengelolaan ladang minyak CPP Block (Coastal Plains Pekanbaru) yang habis kontraknya dengan Caltex. Riau bahkan tidak hanya kaya dengan sumber daya alam minyak yang terletak di perut bumi, minyak yang di atas perut bumi pun, berupa minyak kelapa sawit, bukan alang kepalang produksinya. Apalagi nanti ketika lebih dari satu juta hektar kebun kelapa sawit mulai berbuah.

Saya teringat beberapa tahun yang lalu dalam suatu| kunjungan kerja ke Sulawesi Utara. Rombongan kami mendapat pujian (atau sindiran) dari tuan rumah. " adalah provinsi petrodolar, Pemerintah Daerahnya ya", kata mereka. Tuan rumah kemudian melanjutkan kalau di Sulawesi Utara yang ada bukan minyak burni, tapi minyak kelapa. Karena pemilik kelapa adalah rakyat, maka yang kaya adalah rakyat.

Waktu itu dalam hati saya berkata, minyak bumi itu kan benda aneh, "menetesnya" ke atas bukan ke bawah. Anda tidak tahu atau pura-pura tidak tahu. Angka berbicara, walaupun lebih dari separuh produksi minyak nasional berasal dari perut bumi Riau, kontribusinya terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat tempatan nyaris tak terdengar. Buktinya, di awal tahun 90-an itu, menurut Prof. Mubyarto, Riau termasuk kategori provinsi termiskin di Indonesia. Untuk ukuran Sumatera, Riau hanya sedikit lebih baik dari Bengkulu. Tapi, kita kan tidak mau kelihatan miskin amat, kita pandai "berminyak air".

Prof. Mubyarto (1992) menulis dalam bukunya Riau Dalam Kancah Perubahan ekonomi Global", Provinsi Riau sebagaimana halnya Provinsi Daerah Istimewa Aceh (sekarang Provinsi Nangroe Aceh Darussalam), adalah provinsi yang amat kaya akan sumber daya alam minyak bumi. Tetapi karena pengusahaannya memerlukan teknologi canggih melalui modal asing, ternyata amat sulit "meneteskan" hasilnya pada masyarakat setempat. Pengusahaan minyak bumi, menurut Prof. Mubyarto, dilakukan secara monopoli oleh Perusahaan Negara Pertamina dalam bentuk kerja sama dengan kontraktor asing dalam hal ini Caltex sehingga 100% hasilnya disetor ke kas Pemerintah Pusat. Kecuali untuk pajak bumi dan bangunan, seluruh pajak perseroan minyak dan pajak-pajak lainnya, misalnya pajak penghasilan, menjadi porsi penerimaan Pemerintah Pusat.

Tapi itu kan dulu. Kini agaknya Riau sungguh-sungguh menjadi provinsi petrodolar. Bermula dari terbitnya Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah yang memberikan 15% dari seluruh hasil rninyak setelah potong pajak kepada daerah penghasil, Riau mulai menggeliat. Perolehan daerah dari dana bagi hasil telah meningkatkan anggaran pembangunan daerah lebih dari lima kali lipat. Kabupaten dan kota di Provinsi Riau kini terlihat giat membangun berpacu mengejar ketertinggalannya. Walaupun hanya beberapa kabupaten saja yang menjadi daerah penghasil minyak, itu tidaklah menjadi soal, sebab kabupaten dan kota yang bukan sebagai daerah penghasil tetap mendapatkan bagian sebesar enam persen. Kabupaten Kuantan Singingi misalnya, walaupun sama sekali tidak ada bau minyak di sana, seperti juga Kota Batam dan Kota Tanjung Pinang, tetap mendapatkan bagian. Kabupaten dan kota yang berada dalam satu provinsi akan mendapat bagian walaupun mereka bukan daerah penghasil minyak. Enak kan?

Kini peluang menjadi provinsi petrodolar semakin terbuka lebar ketika tanggal 6 Agustus 2002 Provinsi Riau melalui konsorsium PT. Bumi Siak Pusako dengan Pertamina, dipercaya oleh Pemerintah Pusat mengelola ladang minyak di Riau yang dikenal sebagai ladang minyak CPP Block. Caltex memiliki empat ladang minyak, yang terbesar adalah Rokan Block, yang kedua CPP Block, berikutnya adalah Siak Block dan MFK Block (Mountain Front Kuantan Block). Dua yang disebut terakhir produksinya sangat kecil, total hanya sekitar 3300 barel per hari. Yang terbesar tentu saja Rokan Block dengan produksi sekitar 650.000 barel per hari. CPP Block sendiri sesungguhnya produksinya mengalarni declining (penurunan) dari semula sekitar 70.000 barel per hari, kini tinggal sekitar 43.000 barel per hari. Tiga block lainnya termasuk Rokan Block, Indonesia yang diwakili Pertamina masih terikat kontrak dengan Caltex.

Dari hitung-hitungan yang dilakukan oleh kawan-kawan yang akhir-akhir ini cukup banyak yang tiba-tiba menjadi pakar dalam menghitung revenue (perolehan) dari minyak, nilai nominal dari CPP Block sebetulnya tidaklah terlalu fantastik. Tetapi kepercayaan yang diberikan oleh Pemerintah Pusat kepada Riau untuk mengelola CPP Block mengandung makna politis yang sangat dalam. Ini bisa bermakna Pemerintah Pusat memang konsisten dengan semangat otonomi daerah, dan bisa juga bermakna daerah memperoleh kembali marwahnya. Penghargaan yang diberikan oleh Pemerintah Pusat akan sangat bermakna bagi daerah dalam mengembangkan kreativitasnya.

Tanggal 8 Agustus 2002 boleh jadi merupakan hari yang sangat istimewa dalam sejarah perminyakan di Riau ketika Caltex mengakhiri kiprahnya di CPP Block. Tepat jam 00 tanggal 9 Agustus, pengelolaan CPP Block berpindah tangan kepada PT. Bumi Siak Pusako. Walaupun permasalahan yang inheren belum lagi tuntas semuanya, seperti misalnya masalah kompensasi, pembagian saham dengan Pemerintah Provinsi, dan sebagainya, tapi itu tidaklah menjadi persoalan berat. Dulu, teks proklamasi kemerdekaan bangsa kita ini juga ditulis amat singkat oleh Bung Karno, padahal itu menyangkut nasib sebuah bangsa. Konon lagi hanya masalah internal CPP Block masalah bagi membagi itu urusan adik beradik atau anak beranak. Tak perlulah seperti Si poltak, Raja Minyak dari Medan dalam sinetron Gerhana itu, yang selalu berteriak peeening, peeening...

Tidak ada yang kalah dalam CPP Block bila kita melihatnya dengan kebesaran jiwa, semuanya tampil sebagai pemenang. CPP Block adalah sebuah pertaruhan panjang, tetapi kita mencatatnya dengan tinta emas, tak kira kalah atau menang.

(11 Agustus 2002)


Tulisan ini sudah di baca 138 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku 1001 Saddam

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/1001-Saddam/155-Kaja-Minyak-dari-Riau.html