drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

1001 Saddam | Bagian : 3

Hari jadi


Oleh : drh.chaidir, MM

Dalam serentang perjalanan anak manusia, mulai dari merecup lahir hingga menuju peristiwa perjanjian terakhir, adalah sebuah laman kisah kehidupan. Laman kisah itu kemudian diracik dan dikenang secara periodik dalam sebuah peristiwa yang bernama hari jadi atau ulang tahun. Dalam peringatan hari jadi, setahun sekali, orang, kelompok, kota, dan negara mengenang dirinya, mengkaji sesuatu yang positif dan negatif dalam perjalanannya selama setahun, kemudian mengambil langkah-langkah penting untuk memasuki waktu berikutnya. Begitulah, segala sesuatu tumbuh dari serangkai peristiwa dan secara terus-menerus peristiwa demi peristiwa bertambah, dan ritual peringatannya terus berlangsung.

Milan Kundera dalam bukunya Kitab Lupa dan Gelak Tawa (The Book of Laughter and Forgetting) mengatakan, bahwa tugas manusia adalah menghimpun sejumlah kenangan yang bisa disebut dengan manis pada masa mendatang. Berhadapan dengan pikiran Kundera ini, maka hari jadi bukanlah sekadar peristiwa bergembira karena kita telah sebuah fase kehidupan. Tapi lebih jauh, hari jadi adalah tempat merenungi apa-apa yang telah kita lakukan dan sekaligus tempat berunding dengan diri tentang kenangan dan tanda apa yang harus kita bangun pada hari-hari mendatang. Jika hari jadi hanya sekadar waktu berkisah, maka sungguh kita akan menjadi orang-orang yang merugi.

Apakah yang hendak kita lakukan dalam menyambut hari jadi Riau tahun ini? Akan banyak sekali alternatif dan sekaligus jawaban untuk itu. Yang pasti adalah, masyarakat Riau akan mendapat kado istimewa, diserahkannya pengelolaan ladang minyak CPP Block ke Riau setelah dua puluh satu tahun lebih dikelola oleh Caltex Pacific Indonesia bekerja sama dengan Pertamina yang mewakili Pemerintah Republik Indonesia. Bukan penyerahan itu semata yang membanggakan ma-syarakat Riau, lebih dari itu adalah kesungguhan Pemerintah Pusat untuk mewujudkan janjinya bahwa mereka memperhatikan aspirasi masyarakat di daerah. Namun demikian, pada pandangan saya, hari jadi Riau tahun ini adalah sebuah momentum yang bagus untuk merenung secara lebih mendalam, yaitu mempelajari apa-apa yang telah terjadi dan apa-apa yang akan terjadi. Intinya adalah menjadikan hari jadi yang ke-4E ini sebagai peristiwa penyadaran.

Mengapa intinya adalah penyadaran? Paling tidak dengan penyadaran, kita menjadi tahu betul ke mana kita akan melangkah, sebab kita telah mengarifi kesalahan masa lalu secara baik. Kita sama-sama melihat, bahwa dalam rentang waktu setahun ini, Riau seakan-akan berada dalam tahun dukacita. Masalah tak henti-hentinya menerpa, mulai dari persoalan internal, seperti menipisnya rasa kebersamaan dan badai perpecahan, sampai pada kenyataan bahwa betapa kita seringkali dirugikan dalam hubungan dengan pusat kekuasaan, secara politik maupun ekonomi. Dengan menjadi-momentum hari jadi ini sebagai peristiwa penyadaran, maka kita akan kembali menemukan diri serta tahu apa sebenarnya yang harus kita lakukan untuk menebus semua kekalahan.

Riau adalah segumpal harapan, dan harapan itu adalah milik kita semua. Untuk itu, kita tidak mungkin rnembiarkan negeri ini berada dalam keadaan tak menentu secara terus-menerus, karena apa yang telah terjadi belum pasti adalah takdir kita. Kita harus mengubahnya, karena kita telah sepakat bahwa negeri ini harus lebih baik dari kemarin. Untuk itu, kita memerlukan waktu singgah atau waktu jeda untuk mensetting kembali segala sesuatunya.

Dari sudut masyarakat misalnya, hari jadi ini jadikanlah sebagai ruang untuk melakukan introspeksi dan kontemplasi tentang apa yang telah kita lakukan untuk negeri kita yang besar ini. Sementara itu, bagi pemegang teraju kekuasaan, momentum ini pula harus dijadikan tempat menengok ke belakang, apakah tugas sebagai pemimpin sudah dilakukan sesuai dengan amanah kemanusiaan atau belum. Jika dengan cara ini kita memperingatinya, maka hari jadi akan menemukan sosoknya yang penting. Jika tidak, maka hari jadi hanya merupakan sebuah pengulangan atau tempat orang-orang menghitung hari.

Bersempena dengan hari jadi ini, ada beberapa hal penting yang harus kita lakukan secara bersama. Pertama, meningkatkan rasa kebersamaan. Kebersamaan ini penting karena pada akhir-akhir ini kebersamaan itu terlihat semakin menipis. Kita tak jarang bertelagah hanya demi masalah kecil, tidak signifikan, dan demi sesuatu yang belum jelas, sehingga yang menerima akibatnya adalah masyarakat Riau itu sendiri. kebersamaan yang kuat, maka orang-orang akan mudah mempermainkan kita, membuat posisi tawar kita menjadi lemah, dan kondisi itu akan berujung pada kekalahan kita sendiri. Apa pun yang kita miliki tidak akan berarti banyak jika tidak kita iringi dengan kebersamaan. Kenyataan telah menunjukkan kepada kita betapa beberapa tahun terakhir ini lemahnya kebersa maan telah menjadi penyebab utama sejumlah kegagalan yang menimpa. Hari jadi tahun ini, harus menjadi awal kesadaran untuk menuju ke arah kebersamaan yang kuat dan menjadi awal persatuan masyarakat yang menggetarkan. Jika kebersamaan itu terbentuk, maka dari posisi masing-masing kita akan berusaha mak-simal mengganti kemalangan lampau menuju keme-nangan yang pasti.

Hal kedua, memacu kerja keras. Adalah sebuah kenyataan, bahwa kita memiliki tanah yang subur dan sumber daya yang melimpah. Hanya saja, semua yang tersedia itu baru akan berarti bagi kemaslahatan negeri, jika kita bekerja keras. Tak pernah ada sebuah negeri bisa maju dan menjawab semua kehendak masyarakat, jika kita semua mau bekerja keras untuk keinginan cita kemakmuran yang kita idamkan. Pekerjaan (kerja keras) itu, kata filsuf Voltaire, akan menjauhkan kita dari tiga keburukan; rasa bosan, dosa, dan kemiskinan. Selamat Hari Jadi.

(3 Agustus 2002)


Tulisan ini sudah di baca 146 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku 1001 Saddam

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/1001-Saddam/154-Hari-jadi.html