drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

1001 Saddam | Bagian : 2

Kadar Laleh dan Ladan


Oleh : drh.chaidir, MM

Jodoh, rezeki, dan ajal adalah rahasia Tuhan. Dalam Islam, kadar (takdir) baik dan buruk adalah salah satu Rukun Iman yang tidak terbantahkan. Bujang dan dara boleh saja merencanakan bulan madu dan membangun mimpi-mimpi indah perkawinan, tapi kalau Yang Maha Kuasa berkehendak lain, bulan madu akan tinggal impian. Rumah mewah dengan harta melimpah pun hanya sebatas satu batang korek api. Ajal pula tak ada satu orang pun yang bisa menduga bila akan tiba dan di mana. Mati di kasur yang empukkafi atau di rimba belantara tak ada yang bisa meramalkan. rahasia Ilahi. Semuanya gelap dan gaib. Itu pulalah yang dialami oleh dua orang gadis kembar siam dari Teheran, Laleh dan Ladan. Mereka tentu tidak pernah berencana akan mengakhiri hayatnya di Singapura, jauh dari negerinya, Iran. Bahkan kalau disimak pemberitaan-pemberitaannya, mereka adalah orang-orang yang optimis. Kalau bukan karena orang-orang yang optimis, dan memiliki kepribadian yang kuat, takkan mungkin mereka bisa menyelesaikan pendidikan S-l di Fakultas Hukum.

Saya tidak bisa membayangkan bagaimana mereka menjalani kehidupan selama 29 tahun dengan kepala menempel satu dengan lainnya. Di mana pun, kapan pun mereka terpaksa selalu berdua. Tidur, bangun, ke kampus, bahkan ke kamar kecil terpaksa selalu berdua. Mereka bisa menyelesaikan kuliahnya, itu adalah sesuatu yang luar biasa. Bukankah untuk memasuki bangku perguruan tinggi mereka harus melalui jenjang Sekolah Dasar, SLIP, dan SLTA? Itu sudah mereka lalui dalam kondisi fisik yang sangat sulit.

Dari pemberitaan yang dapat kita ikuti, mereka memiliki kepribadian yang normal, terkesan ceria dan cerdas, dan juga cantik. Diberitakan oleh berbagai media, mereka tumbuh menjadi gadis kecil, abg, remaja, dan kemudian dewasa dengan kepribadian yang berbeda. Ladan lebih terbuka dan suka bicara, sementara Laleh dikenal pendiam dan pemikir. Laleh cinta binatang, tapi Ladan lebih suka menghindarinya. Dalam perbedaan karakter itu, mereka berada dalam satu kesatuan. Bayangkan susahnya membangun kompromi demi kompromi! Mungkin hanya dalam ujian mereka menikmati keterbatasan fisik itu. karena bisa leluasa saling bisik_ untuk memberikan jawaban soal.

Dalam kehidupan dewasa, mereka biasa berkirim e-mail untuk menjalin komunikasi dengan kawan-kawannya. Dengan kondisi fisik yang tidak normal, mereka bisa melakukan aktivitas normal termasuk mencari informasi ke mana-mana untuk menemukan dokter ahli yang bisa mengoperasi mereka. Mereka sudah pergi ke Jerman, negeri yang terkenal dengan ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir, tapi ahli di sana menolak karena menyimpulkan terlalu besar risikonya memisahkan kepala mereka yang berdempet itu. Sampai akhirnya mereka menemukan seorang dokter dari Rumah Sakit Raffles di Singapura, Dr. Keith Goh, yang sudah punya reputasi sukses memisahkan kembar siam. Tapi seluruh upaya yang dilakukan dokter bersama timnya gagal. Si kembar itu pun gagal memenuhi impiannya untuk hidup sebagai manusia biasa yang terpisah. Mereka tidak akan pernah lagi menyadari bahwa harapan mereka telah pupus selamanya. Sebelum memasuki ruang operasi mereka masih terlihat ceria membayangkan kehidupan baru pasca operasi. Keceriaan itu terlihat dari petikan surat yang ditulis Laleh dan Ladan sebelum operasi. "Kami mulai menapaki kehidupan berdua. Mudah-mudahan operasi berhasil membawa kami ke ujung jalan yang sulit ini, sehingga kami bisa mengawali hidup baru yang indah sebagai dua manusia yang terpisah". Akhirnya jalan sulit itu tidak bisa mereka lalui dan mimpi-mimpi indah itu pun terkubur bersama jasad mereka sela-manya.

Kematiannya diratapi bukan karena mereka siapa-siapa, atau karena mereka bukan siapa-siapa. Kematian mereka diratapi karena mereka telah menjadi kekasih dunia dalam waktu yang tidak terlalu lama. Dunia telah jatuh cinta kepada kegigihan mereka untuk bisa menikmati Kehidupan normal yang berada di depan mata. Tetapi ternyata, tak satu pun orang bisa menolong, padahal orang-orang di sekelilingnya memiliki semua kelengkapan yang di atas kertas dan secara teoritis harusnya mampu memberikan pertolongan. Ternyata ada pembatas halus, lebih halus dari sutera, yang tak tertembus oleh kemampuan manusia. Itulah yang namanya kada dan kadar. Kada merupakan ketentuan Tuhan yang di dalamnya terdapat iradat-Nya untuk semua makhluk. Adapun kadar merupakan perwujudan dari ketentuan yang telah digariskan, yang tak terubahkan sehelai rambut dibelah tujuh sekalipun. Kehidupan manusia Pada dasarnya adalah realisasi dari apa yang telah digariskan Tuhan sejak semula jadi, baik kehiduparvj yang menyangkut hal-hal yang baik maupun hal-hal yang buruk, beruntung atau rugi, senang atau menderita, bahagia atau kecewa, dan lain sebagainya.

Al Ghazali mengatakan, tidaklah akan terjadi pada alam nyata dan alam gaib, sedikit atau banyak, kecil atau besar, baik atau buruk, manfaat atau mudarat, iman atau kufur, pandai atau bodoh, beruntung atau celaka, bertambah atau berkurang, taat atau maksiat, kecuali dengan kada dan kadar Allah SWT. Hal tersebut berlaku karena hidup dan kehidupan manusia itu telah ditentukan Tuhan sejak semula jadi dan kita hanya tinggal menjalaninya saja. Menurut beberapa hadis, ketika kita, manusia, berada dalam rahim ibu, seorang malaikat diutus untuk menuliskan empat kalimat dalam buku tak-dir manusia, yaitu tentang ajal, rezeki, pekerjaan, dan kesenangan atau kebahagiaan, kemudian baru ditiupkan roh, maka jadilah manusia dengan buku takdirnya.

Tetapi walaupun dari sono sudah tertulis, tidak ada satu orang pun manusia yang tahu apa yang tertulis dalam buku takdirnya. Oleh karenanya, sangat tidak terpuji bila manusia hanya berpangku tangan menunggu nasib. Upaya adalah wujud kita sebagai manusia yang diberi akal budi, yang membedakan kita denga hewan.
Entah "pesan" apa yang diusung oleh Laleh dan Ladan jauh-jauh dari Teheran. Mungkin mereka tidak bermaksud membawa pesan apa-apa. Tetapi, kehadirannya di Singapura, yang disiarkan oleh media massa secara luar biasa ke seluruh dunia dalam sekejap mata, menumbuhkan kesadaran bahwa kita adalah manusia biasa. Kesempurnaan manusia sebagai makhluk terletak pada ketidaksempurnaannya. Ilmu manusia ada batasnya. Manusia hanya bisa merencanakan dan berupaya, sedangkan keputusan di tangan Tuhan. Ada makhluk yang dilahirkan dengan keberuntungan, ada yang tidak beruntung. Ada juga makhluk yang dilahirkan untuk menjadi contoh peringatan bagi yang lain. Kearifan, itulah agaknya pesan yang tertinggal dari kepergian dua gadis kembar ini.

Laleh dan Ladan, dari seberang lautan kami ucap-selamat jalan.


(13 Juli 2003)


Tulisan ini sudah di baca 200 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku 1001 Saddam

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/1001-Saddam/153-Kadar-Laleh-dan-Ladan.html