drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

1001 Saddam | Bagian : 2

Gelas-gelas Bocor


Oleh : drh.chaidir, MM

Membaca kemiskinan di hotel berbintang memang terasa lebih dramatis. Pada kenyataannya, seminar-seminar, lokakarya-lokakarya, workshop, diskusi, atau apalah namanya yang diadakan oleh para pakar, tidak pernah diadakan di dusun Pemandang yang ter-pencil di kaki gunung atau di desa nelayan Selat Nenek nun jauh di pulau. Sebab, di desa itu tidak ada networking, komputer, tidak ada over-head projector, in-focus, tidak juga ada sarana komunikasi, dan tidak ada ruang-ruang sejuk dengan musik-musik lembut. Yang dominan adalah segunung kesunyian yang sudah berabad-abad seakan tak tersentuh peradaban.

Tapi, membaca kemiskinan agaknya memang harus dari jauh. Laksana penderita hipermetropia, dari jauh terlihat jelas, dari dekat dia buram. Atau seperti melihat gunung, tinggi rendahnya hanya terlihat dari jauh, sementara dari dekat pandangan terhalang oleh lebatnya hutan belantara. Kenapa demikian? Karena kemiskinan itu, walau aromanya sangat kental menyengat hidung, tapi seringkali tidak dirasakan oleh masyarakat yang tinggal dan akrab bersama kemiskinan itu. Dia seakan merupakan bagian dari kehidupan yang memang sudah demikianlah adanya. Mereka dari zarnan ke zaman hidup di desa, di kaki gunung atau di desa nelayan itu, dan mereka merasakan kedamaian dalarn kesunyian tak bertepi yang kompromistis. Kenapa mesti berdebat? Tidak ada yang perlu diperdebatkan tentang kemiskinan di sana. Di desa-desa miskin itu mereka tidak pernah merasakan kemiskinan sebagai sesuatu yarig menakutkan. Memperkatakan kemiskinan sama dengan membuka aib. Mereka yang tinggal di desa-desa, yang miskin secara material dalam perspektif kekotaan, hanya memerlukan air untuk berminyak. Yang biasanya tidak pandai menyembunyikan diri adalah kemiskinan di perkotaan. Mereka selalu tampak dramatik dan adakalanya eksploitatif, bahkan agitatif. Namun sesung-guhnya secara substansial, kemiskinan di pedesaan atau di perkotaan sama saja. Kemiskinan tetap kemiskinan. Mereka adalah kelompok yang kurang beruntung, disadvantage.

Kemiskinan, menurut pandangan Aristoteles, adalah bapaknya revolusi dan kejahatan. Agaknya inilah yang menakutkan. Kemiskinan dari sudut pandang kekalahan, sarat dengan sindrom kekalahan yang in-heren. Kata orang bijak, kemiskinan bukanlah kejahatan, tetapi kemiskinan mudah menjadi biang kejahatan. Tidak dapat dipungkiri, bahwa gerakan humanisme untuk mendekatkan kehidupan yang lebih bermartabat kepada kemanusiaan adalah satu keniscayaan yang menjadi agenda kenapa kemiskinan harus diberantas. Namun kekhawatiran atas dampak dari kemiskinan adalah bagian lain yang menjadi sebab kenapa kemiskinan harus diatasi. Banyak orang kurang menyadari perut lapar dan amarah cuma dibatasi dengan garis tipis.

Dalam berbagai kasus kejahatan dan pemberontakan atau revolusi sosial yang terjadi di sejumlah negara, selalu saja berawal dari persoalan kemiskinan. Kejatuhan monarki Prancis, kehancuran komunisme di Uni| Soviet, tumbangnya Nicolae Ceausescu di Rumania,] sampai pada krisis multidimensi dan eskalasi kejahatan di negeri kita sendiri adalah beberapa contoh yang harus menjadi cambuk bagi kita untuk mengatasi kemiskinan. Oleh karena itu, kata Aristoteles, hal utama yang harus dilakukan oleh negara adalah mengatasi kemiskinan. Dengan masyarakat yang makmur, maka secara otomatis negara akan kuat serta mudah mengambil atau melakukan kebijakan lain dalam rangka peninggian derajat.

Sejalan dengan Aristoteles, Islam pun secara jelas menggambarkan kemestian memerangi kemiskinan ini. Kemiskinan itu mendekatkan manusia pada kekufuran, begitu bunyi ajarannya. Bahkan dalam bahasa lain, Imam Al Ghazali mengatakan bahwa uang (kemakmuran) itu adalah jalan ke surga, karena dengan kemakmuran orang akan menjadi lebih mudah untuk beribadah, baik dalam bentuk bersedekah maupun berbagai ibadah

Kemiskinan adalah sesuatu yang tidak kita ingin kan, tapi merupakan hal yang tidak terelakkan. Dan berbagai studi tentang pembangunan negara, kemiskinan merupakan masalah krusial yang sering dibicarakan. Jangankan pada negeri belahan dunia ketiga, seperti negeri kita, pada negara super power dan makmur sekelas Amerika pun, kemiskinan ini menjadi soal yang; memeningkan kepala, meskipun dengan kuantitas dani kualitas yang berbeda.

Menurut Bank Dunia, secara internasional ukuran yang digunakan untuk mengukur kemiskinan adalah melalui purchasing power parity, yaitu penduduk yang hidup di bawah 1 dollar Amerika Serikat per hari dan 2 dollar AS per hari. Kalau dirupiahkan, adalah penduduk yang hidup di bawah Rp 8.000,- per hari dan di bawah Rp 16.000,- per hari. Di Indonesia pada tahun 1999, masih menurut Bank Dunia, penduduk yang hidup di bawah 1 dollar per hari sebanyak 7,7 persen. Namun jika dihitung dengan menggunakan 2 dollar per hari, ada 55 persen. Perbedaan angka yang jauh ini, yakni dari 55 persen ke 7,7 persen, memiliki makna bahwa banyak sekali masyarakat Indonesia yang hidup di atas 1 dollar per hari, tapi masih di bawah 2 dollar per hari. Berarti, banyak masyarakat yang hidup sangat dekat dengan garis batas kemiskinan. Mereka adalah orang yang sangat rentan untuk menjadi lebih miskin, jika kea-daan ekonomi memburuk. Sedikit saja perahu kita oleng mereka akan karam.

Apa yang harus kita lakukan? Inilah yang hendak diteroka oleh Riau Concern Club (RCC) dalam suatu diskusi membedah kemiskinan di salah satu hotel berbintang di Pekanbaru, Riau, belum lama ini. Banyak hal diungkapkan dalam diskusi yang menarik ini, antara lain misalnya betapa upaya pengentasan kemiskinan di daerah ini laksana mengisi gelas-gelas bocor, berapa pun diisi akan selalu habis. Program-program yang ada seakan tak memberikan makna. Penyadap karet tidak pernah menjadi kaya, karena hasilnya habis untuk beras atau berjudi kecil-kecilan di kedai kopi. Nelayan pula, berhenti melaut untuk menghabiskan hasil tangkapannya dengan menikmati Joged Medan berhari-hari. Mereka tidak pernah bisa menabung, seberapa dapat seberapa habis.

Pemetaan kemiskinan secara tajam merupakan hal Yang mendesak untuk dilakukan. Siapa yang miskin, berapa jumlahnya, di mana, di kaki gunungkah atau di desa pantai, miskin apa, penyebabnya apa, adalah pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab dengan jujur dan transparan. Kita memerlukan peta yang akurat mengenai penyebaran kemiskinan ini, baik penyebaran geografis maupun penyebaran etnis. Hanya dengan peta yang jelas, program yang tepat dapat disusun dan bantuan dapat diberikan secara tepat sasaran.

Apa yang diucapkan oleh seorang sastrawan Jerman, Heinrich Heine, menarik untuk disimak. Heine mengatakan bahwa kehendak untuk berbuat atau kemauanlah yang membuat seseorang menjadi besar atau kecil. Sesungguhnya kemauan dan kehendak bersama jualah yang menentukan apakah kita bisa menambal gelas yang bocor itu atau tidak.


(6 Juli 2003)


Tulisan ini sudah di baca 144 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku 1001 Saddam

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/1001-Saddam/152-Gelas-gelas-Bocor.html