drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

1001 Saddam | Bagian : 2

Habis Banjir Terbitlah Asap


Oleh : drh.chaidir, MM

Awal tahun ini, beberapa ronde banjir besar melanda Riau. Sungai Rokan, Sungai Kampar, Sungai Siak, dan Sungai Indragiri, empat sungai besar yang membelah Riau dan laksana urat nadi dalam tubuh Riau, me-limpah-ruah. Beberapa tetua di Pasir Pengarayan, ibu-kota Kabupaten Rokan Hulu, mengatakan, banjir besar seperti ini, yang menghanyutkan rumah penduduk, sudah lama sekali tidak pernah terjadi. Tidak ada yang tahu persis kapan teriadi, tapi beberapa sumber menyebutkan konon pernah terjadi tahun 1954. Tidak ada tudingan pada El Nino —arus panas yang mengalir dari utara ke selatan di pantai barat Amerika Latin sana— seperti biasanya ketika kita mengkambinghitamkannya apabila bencana alam karena buruknya cuaca. Tidak juga ada yang menuding pengaruh La Nina, topan Filipina.

Agaknya semua maklum bin mafhum bahwa terlepas dari curah hujan yang agaknya memang luar biasa, banjir itu memang akibat ulah tangan manusia yang merusak alam secara amat sangat luar biasa. Hutan di hulu sungai, yang seharusnya menjadi daerah tangkapan air (catchment area), habis ditebangi. Hutan lindung dibabat, diambil kayunya, sebagian yang bagus-bagus untuk kayu lapis, sebagian lainnya yang bengkok-bengkok dijadikan chip (dicincang kecil-kecil) atau dijadi-kan bubur kertas. Tidak ada yang tersisa. Pemanfaatan kayunya demikian sempurna. Lahan yang terbuka? Itu soal mudah. Dalam tempo sekejap akan disulap menjadi kebun-kebun sawit.

Dalam sebuah obrolan santai "Ongol-ongol" di Riau TV beberapa hari yang lalu, bersempena Hari Lingkungan Hidup, saya menerima beberapa pertanyaan atau kerisauan pemirsa. Mereka sangat khawatir, suatu saat kelak tradisi lomba pacu jalur di Teluk Kuantan, Kabupaten Kuantan Singingi akan punah, atau akan kehilangan elannya karena penduduk tidak lagi bisa memperoleh pohon yang batangnya bisa dijadikan jalur (sampan). Memang jalur tersebut akan bisa disubstitusi perannya oleh fibre glass (mungkin akan lebih ringan dan laju), tetapi pacu jalur yang sudah mentradisi lebih dari 100 tahun ini, memiliki banyak ritual yang tidak tergantikan oleh fibre glass. Prosesi menghela jalur dari tengah belantara ke tepi sungai, tentu akan hilang. Itu baru yang kasat mata, yang tidak kasat-mata?

Dalam acara "Ongol-ongol" tersebut juga mencuat banyak cerita tentang penebangan hutan dan praktik-praktik mafia yang inheren. Pengawasan terhadap perizinan, penebangan liar, dan pengangkutan kayu. Semuanya dianggap lemah. Tapi, iya tak iya juga. Sebab, kita sudah sering mendengar adanya seminar tentang illegal logging dan mestinyalah sudah banyak rekomendasi yang dihasilkan, tapi penggundulan hutan tetap berlangsung dan seakan tak tersentuh.

Sekarang, ketika musim hujan telah berlalu dan musim kering menjelang, orang pun ramai-ramai mernbakar lahan. Setelah wabah banjir yang menyebabkan banjir air mata karena hilangnya jiwa dan harta-benda, kini muncul pula asap yang juga menyebabkan banjir air mata, tapi karena mata terasa perih. Menurut nengusaha perkebunan atau kehutanan, pembakaran itu akibat ladang berpindah dari penduduk. Menurut penduduk, itu ulah pengusaha. Alasannya menurut penduduk, mereka dari dulu sudah berladang (dan ber-pindah-pindah) secara tradisional dan tidak ada wabah asap seperti beberapa tahun terakhir ini. Mestinya dengan lahan yang semakin sempit bagi penduduk karena lahan sudah teralokasikan untuk pengusaha, ladang berpindah tidak lagi leluasa seperti dulu. Entah mana yang betul. Yang jelas, jumlah titik api yang terpantau oleh satelit NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration) tetap masih banyak. Beberapa hari yang lalu masih tercatat sejumlah 1.280 titik api. Ini artinya, jelas ada pembakaran, atau keterbakaran lahan, disengaja atau tidak disengaja, atau pura-pura tidak sengaja. Satelit mana bisa ditipu. Sayangnya belum ditemukan satelit yang langsung bisa mengidentifikasi siapa yang berada di balik pembakaran itu, sehingga selalu sulit dibuktikan melalui pengadilan siapa yang patut disalahkan. Padahal, masalah asap ini sudah menjadi agenda tetap setiap tahun.

Sesungguhnya lahan dan hutan adalah sumber penghidupan. Sumber daya alam ini harus dimanfaatkan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat dalam memperoleh kehidupan yang lebih bermartabat. Manusia diberi ilmu pengetahuan dan teknologi untuk dapat memanfaatkan sumber daya alam secara baik dan benar. Dari sudut pandang ekonomi, sebenarnya sah-sah saja sumber daya alam itu dieksploitasi. Kalau kita membiarkan kekayaan itu berserakan di sekitar kita sementara kita hidup tidak sejahtera, apa bedanya dengan masyarakat di zaman batu. Orang akan cenderung berbuat lebih baik, mengolah lebih baik dan lebih banyak, dan seterusnya. Tapi kita seringkali berpikir kontradiktif. Kita negeri yang kaya akan sumber daya alam, dan kita harus hidup sejahtera dengan memanfaatkannya. Tetapi pada saat yang sama kita tidak ingin lingkungan hidup kita terjejas. Tidak ada kegiatan eksploitasi sumber daya alam yang tidak menimbulkan kerusakan lingkungan. Yang membedakan adalah parah atau parah sekali. Ada yang rusak permanen, ada yang bisa diperbaiki. Itu saja.

Alasan moral untuk peraturan lingkungan hidup berakar pada tradisi preservasi. Masyarakat kita sendiri sesungguhnya secara tradisional telah memberikan apresiasi alamiah dalam upaya preservasi ini. Kita mengenal adanya hutan sialang, hutan larangan, hutan persukuan, dan seterusnya. Jadi sebetulnya, perlunya pengaturan lingkungan hidup tidak hanya karena kerusakan lingkungan yang akan membawa akibat pada kehidupan manusia, tetapi karena lingkungan memiliki nilai intrinsik. Hal ini mudah dikatakan, tetapi di dalam kenyataannya tidak seperti yang dibayangkan. Ketiadaan ukuran prinsip kapan mengalah, seringkali memancing wacana yang tidak berkesudahan. Berita orang mati karena terseret arus banjir misalnya, tidak akan menarik untuk pemberitaan, tetapi seekor gajah mati dibunuh akan menggegerkan dunia. Beritanya terbawa LSM pencinta lingkungan hidup sampai ke mana-mana.

Beberapa Environmentalist (ahli dan pencinta lingkungan hidup) yang radikal menekankan bahwa manusia tidak lebih tinggi dari makhluk hidup lainnya dan setiap penyampingan lingkungan hidup harus dilarang. Namun, sebagian besar mereka yang mempertahankan lingkungan hidup berdasarkan moral tidak dapat menerima penderitaan manusia atas nama perlindungan lingkungan.

Agaknya memang diperlukan kecerdasan dalam memanfaatkan sumber daya alam kita. Pemanfaatannya secara berlebihan, apalagi sampai pada derajat amat sangat berlebihan, akan membawa bencana. Kita tidak ingin mengorbankan kemanusiaan untuk membela kepentingan lingkungan hidup, tetapi juga kita tidak ingin untuk kemanusiaan semusim kita mengorbankan lingkungan hidup. Anak cucu kita kelak masih akan hidup dari bumi yang sama, bumi ini juga.


(15 Juli 2003)


Tulisan ini sudah di baca 175 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku 1001 Saddam

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/1001-Saddam/151-Habis-Banjir-Terbitlah-Asap.html