drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

1001 Saddam | Bagian : 2

Seratus Tahun Kebangkitan


Oleh : drh.chaidir, MM

Dalam sejarah kemajuan dan perkembangan, baik yang berlangsung pada sebuah kelompok, sebuah puak, ataupun sebuah negara, selalu saja bermula atau didahului oleh sebuah kebangkitan besar, sebuah perubahan yang mendasar pada segala bidang. Jazirah Arabia adalah sebuah kebangkitan besar, sebuah perubahan yang mendasar di segala bidang. Jazirah Arabia adalah sebuah contoh untuk itu. Kawasan tersebut ber-ubah menjadi sebuah kawasan penting setelah terjadi sebuah kebangkitan besar dalam bidang keagamaan, yaitu masuknya Islam. Di bawah semangat pencerahan - yang dibawa Nabi Muhammad, yang kemudian dilan-jutkan oleh khalifah yang empat (Abu Bakar Siddiq, Umar bin Khatab, Usman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib), jazirah Arabia kemudian tumbuh menjadi wilayah yang diperhitungkan.

Beralih ke kawasan Eropa Timur. Kita menyaksikan bahwa gemuruh perkembangan yang berlangsung di sana pada saat ini juga karena adanya kebangkitan dalam bentuknya masing-masing. Kebangkitan Rusia datang melalui kehancuran komunisme, kemajuan Rumania melalui proses peruntuhan rezim Nicolai Ceausescu, dan kebangkitan Jerman Timur melalui penyatuan dua negara ras Aria yang ditandai dengan diruntuhkannya Tembok Berlin.

Dunia Melayu juga berkembang lewat sebuah ke bangkitan. Jika pada kurun sebelum abad ke-19 dunia Melayu, khususnya Riau, belum menunjukkan kemajuan yang berarti, setelah terjadi perubahan mendasar dalam sistem ketatanegaraan, baik di Riau Lingga maupun Siak Sri Inderapura, kerajaan-kerajaan Melayu pun kemudian muncul sebagai negeri-negeri yang makmur dengan kebudayaan yang tinggi dan ranggi.

Beberapa contoh di atas memberikan penjelasan kepada kita, betapa sebuah perubahan atau sebuah kebangkitan memberikan peran yang sangat besar bagi kehebatan sebuah kawasan. Indonesia, sejak tahun 1908, dan sudah hampir mendekati seratus tahun, sebenarnya sudah mengalami sejumlah periode kebangkitan, dalam makna melakukan upaya perubahan. Pada awal kemerdekaan kita menggunakan UUD 1945, lalu beralih kepada Konstitusi RIS dengan sistem federal. Kemudian setelah pemilu 1955, kila menggunakan sistem parlementer dan dilanjutkan dengan demokrasi terpimpin. Dianggap gagal dengan demokrasi terpimpin Orde Baru pun menggantikan Orde Lama. Orde Baru pun kemudian dianggap gagal, lalu muncul Orde Reforrnasi, yang hingga kini sudah berjalan pula selama 5 tahun.

Muncul suatu pertanyaan, jika Indonesia sudah melewati berbagai bentuk kebangkitan, lalu mengapa sampai saat ini Indonesia masih saja tertinggal atau kalah jauh jika dibandingkan dengan negara-negara yang seangkatan atau lebih muda? Atau mengapa reforrnasi yang sudah berjalan selama 5 tahun ini belum piernberikan hasil yang maksimal?

Memang tidak mudah untuk menjawabnya, atau opsi jawabannya terlalu banyak dan benar semua. Ketika saya memberikan sebuah pidato pada acara peringatan lima tahun reforrnasi kemarin di kampus IAIN Pekanbaru, "gugatan" substantif inilah yang muncul. Dalam pandangan saya, lambat atau cepat sebuah kemajuan itu berlangsung, tidaklah didasarkan oleh seberapa banyak terjadinya peristiwa perubahan atau kebangkitan. Persoalan utamanya adalah, seberapa jauh dan seberapa sungguh-sungguh kita semua menerjemahkan amanat atau pesan perubahan dan kebangkitan yang telah terjadi itu secara benar dan jujur. Meskipun sering terjadi gelombang perubahan, sebagaimana yang berlaku di Indonesia, tidaklah menjadi jaminan, bahwa kemajuan yang signifikan akan segera menjelang, jika tidak diikuti oleh tindakan-tindakan dengan tulus ikhlas yang mengarah pada kemajuan yang diinginkan. Dr. Mahathir Mohamad agaknya benar ketika mengatakan orang Melayu itu pelupa. Lobang di mana dia pernah tersandung pun dia lupa, sehingga tersandung untuk kcdua kalinya Kelompok kepentingan yang memanfaatkan situasi terlalu banyak. Di era Orde Baru mereka memanfaatkan kesempatan, di era reforrnasi pun mereka dengan licik memanfaatkan keadaan.

Alkisah, pada suatu ketika di negeri antah berantah, terjadilah perang antara bangsa burung dan bangsa serigala. Sang kelelawar nimbrung dengan ikut membantu bangsa burung. Namun ketika melihat bangsa burung mulai terdesak, kelelawar mulai menghindar dan bersembunyi di dahan-dahan pohon. Ketika bangsa serigala pulang dengan sorak-sorai kemenangan, bangsa kelelawar bergabung. "Bukankah kalian tadi berperang di sebelah burung melawan kami?" tanya serigala marah. "Tidakkah kalian lihat, kami memang memiliki sayap,: tapi kami tidak punya paruh, bahkan mulut kami bergigi seperti kalian", kelelawar berargumentasi. Bangsa serigala setuju. Beberapa waktu kemudian, bangsa burung menyerang negeri bangsa serigala, dan terjadilah pertempuran sengit. Ketika bangsa serigala mulai terdesak bangsa kelelawar yang tadinya ikut membantu serigala mulai menghindar dan bersembunyi di dahan-dahan pohon. Bangsa serigala akhirnya kalah. Bangsa burung berpesta pora dan bangsa kelelawar ikut pula nimbrung berpesta pora. Sebagian bangsa burung menggugat kelelawar. "Hai kelelawar! Bukankah tadi kamu berperang melawan kami?" Bangsa kelelawar dengan tangkas menjawab, "Hai sahabat bangsa burung! Kami memang tidak memiliki paruh seperti kamu, tapi kami memiliki sayap, mana ada serigala yang bisa terbang. Jadi kita sebangsa". Bangsa burung pun percaya. Tapi satu atau dua anggota bangsa burung dan bangsa serigala melihat dan menyadari, ada sesuatu yang tidak beres, kelelawar culas, kelelawar oportunis. Kedua bangsa itu akhirnya menjatuhkan hukuman adat kepada bangsa kelelawar. Dilarang mencari makan siang.

Karakter kelelawar itu, suka atau tidak suka, senang atau tidak senang, dalam masyarakat yang sedang mengalami transisi yang panjang ini, agaknya sebuah realitas sosial yang tidak bisa dipungkiri. Karakter itu, terasa ada terpegang tidak.

Sebuah kebangkitan, hanya akan berhubungan dengan pencapaian matlamat, jika semua komponen bermain dalam ruang iktikad perubahan itu sendiri. Dengan pengertian lain, sebuah langkah nyata harus dilakukan. Yang sering terjadi adalah, setelah perubahan dimulai, semua elemen tidak secara bersama-sama menemukan dan kemudian mengatasi akar persoalan vang sebenarnya, sehingga perubahan atau reformasi hanya berlalu sebagai sebuah gempita dari sebuah waktu. Andai seperti ini yang terjadi di Indonesia, maka jangankan seratus tahun kita mencoba bangkit, seribu tahun pun, kita tetap tidak akan sampai pada taraf yang diinginkan.

Dengan cara apakah sebuah perubahan harus dilakukan? Ada banyak cara, namun jalan yang paling dominan, yang merupakan urat nadinya, adalah dengan melakukan pembangunan sumber daya manusia. Hal semacam ini juga yang diinginkan oleh Budi Utomo pada tahun 1908, yang selalu kita peringati pada setiap hari Kebangkitan Nasional. Dalam tujuan berdirinya, Budi Utomo menginginkan terjadinya kemajuan nusa dan bangsa yang harmonis, yang dilakukan dengan jalan memajukan pengajaran, pertanian, peternakan, perdagangan, teknik dan industri, kebudayaan, dan mempertinggi cita-cita kemanusiaan untuk mencapai kehidupan bangsa yang terhormat.

Dari tujuan Budi Utomo yang merupakan ruh Kebangkitan Nasional tersebut kita mendapat gambaran, bahwa hakikat kebangkitan atau perubahan adalah bahwa kita harus melakukan perbaikan sumber daya dalam segala bidang. Jika semangat perubahan atau kebangkitan itu tidak disertai dengan melakukan perbaikan, maka Indonesia akan terus berada dalam keadaan yang tidak menguntungkan. Kalau tak berbuat nyata, maka akan macam bayi, bangket jatoh, bangket jatoh, ya tak pak Lung?

Hari Kebangkitan Nasional dan ulang tahun kelima reformasi tahun ini, memang harus kita jadikan momentum untuk melakukan proses penerjemahan perubahan atau kebangkitan ke dalam bentuk tindakan yang lebih nyata. Sejarah Indonesia dalam bentuk keterpurukannya telah mengajarkan kita banyak hal, bahwa keinginan yang baik tanpa implementasi yang signifikan, dan tanpa melihat kondisi riil akan memberikan hasil yang justru bertolak belakang.

Dalam konteks Riau, Kebangkitan Nasional dan Ulang Tahun Reformasi juga merupakan momentum untuk melakukan sesuatu secara lebih baik dan lebih kongkret. Sebagai orang Riau, munculnya Riau yang maju dan makmur tentu saja menjadi harapan semua. Untuk itu diperlukan usaha keras dan kita memang harus melakukannya. Kita tidak ingin reformasi, yang seperti kata Ali Syariati, berisi dua konsekuensi yaitu darah dan pesan, hanya semata menjelaskan tentang darah dan lalu mengaburkan pesan. Kita tak ingin itu. Kalau itu yang terjadi, maka seratus tahun pun kebangkitan itu, kita tidak akan memperoleh apa-apa, kecuali luka-luka yang setiap kali meneteskan darah yang membasahi persada.


(25 Mei 2003)


Tulisan ini sudah di baca 172 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku 1001 Saddam

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/1001-Saddam/150-Seratus-Tahun-Kebangkitan.html