drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

1001 Saddam | Bagian : 2

Andai Ada Inul


Oleh : drh.chaidir, MM

Entah mimpi apa ibunya Inul ketika hamil anak yang bernama Inul. Sebab, tidak disangka, Inul yang dulu tidak ngetop, hanya seorang artis tarkam (antar kampung) di Jawa Timur, kini melejit menjadi diva seni suara dan goyang. Dari beberapa tahun yang lalu hanya dibayar dua ratus lima puluh ribu rupiah sekali manggung, kini berpenghasilan tidak kurang dari Rp 750 juta per bulan. Inul pun menjadi buah bibir di mana-mana, baik di kalangan kawula muda maupun di kalangan balita" (bandot lima puluh tahunan), baik di kalangan sesama jenis wanita apalagi di kalangan pria. Dia dipuja oleh pendukungnya dan teman-temannya sesama artis, namun dicerca oleh kalangan moralis.

Ada apa dengan Inul? Tiba-tiba saja orang di sekeliling saya banyak bercerita tentang Inul Daratista, padahal saya buta sama sekali tentang figur ini. Rasanya saya menjadi "tulalit" karena tidak mengikuti perkembangan. SMS humor pun bertubi-tubi masuk ke HP saya, bunyinya lucu-lucu, menggelikan. "Disinyalir virus baru melanda Indonesia, bila terserang akan menjadi demam, panas-dingin, lidah menjulur, air liur menetes, dan linu-linu sekitar paha. Namanya, virus Inul-fluenza". Influenza diplesetkan menjadi Inul-fluenza. Ada lagj SMS begini, "Ternyata Inul sudah 10 kali kawin-cerai Sebabnya, tidak ada suami yang tahan. Inul mengubah pedang menjadi keris". Ada-ada saja. Di lain hari, se orang teman mengirim SMS mengingatkan saya, "ada acara penting di tv", tulisnya. Saya pikir pasti ada dialog yang bagus, saya pun buru-buru ke depan layar tv, ter nyata Inul lagi "ngebor". Goyangan Inul yang amat sangat luar biasa itu dipopulerkan oleh media pers dengan istilah ngebor, entah darimana asal usulnya, pokoknya inul sudah identik dengan ngebor.

Yang membuat saya tersenyum masam adalah SMS berikut "Untuk meningkatkan produksi CPP Block, PT Bumi siak pusako akan memanggil Inul untuk ngebor sumur minyak baru". Kenapa tiba-tiba beralih ke CPP Block, inul kan di Jawa sedangkan CPP Block itu ada di Riau. Apa hubungan Inul dengan CPP Block? Ternyata hanya. dalam urusan "ngebor-mengebor". Secara kebetulan, Harian Kompas tanggal 26 Februari 2003 kemarin memang memuat berita yang cukup mengagetkan dan sekaligus menyedihkan. Produksi ladang minyak yang dikelola konsorsium PT Bumi Siak Pusako-Pertamina Hulu turun drastis dari semula sekitar 43.000 barel per hari menjadi sekarang di bawah 30.000 barel per hari. Betulkah turun demikian banyak sehingga dikhawatirkan akan mengganggu penerimaan negara? Sesungguhnya saya tidak mau percaya dengan berita itu, tetapi yang berbicara adalah Pak Rachmat Soedibyo. Beliau ini Dirjen Migas, sekarang menjadi Kepala Badan Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas (BP-Migas), dan beliaulah pejabat yang paling kompeten di republik ini dalam masalah produksi minyak yang dikelola oleh perusahaan-perusahaan Kontrak Production Sharing (KPS) seperti yang dilakukan oleh PT. Bumi Siak Pusaka-Pertamina Hulu itu.

Dalam pengetahuan yang sangat terbatas tentang ladang-ladang minyak ini, saya memberikan komentar ketika ditanyai oleh para wartawan mengenai berita turunnya produksi CPP Block itu. Pertama, mungkin pemeliharaan sumur-sumur minyak yang ditinggalkan Caltex dulu kurang optimal. Jangankan pompa yang memompa minyak dari perut bumi pada kedalaman 1000 meter, pompa sumur air penduduk dengan kedalaman lima meter saja perlu pemeliharaan. Kedua, lazimnya pada ladang-ladang minyak, entah itu di Arab sana, di Irak, di Kazakhstan, atau di Afrika, memerlukan penggalian sumur-sumur baru dalam area konsesi yang dimiliki. Usaha ini memerlukan biaya yang tidak kecil, diperlukan investasi raksasa. Untuk menemukan sumur-sumur baru yang produktif memang diperlukan pengeboran-pengeboran yang berkesinambungan.

Nah dalam masalah pengeboran inilah orang membuat plesetan. Yang sedang rajin dan populer bornya adalah Inul. Maka orang dengan mudah mengasosiasikan Inul dengan CPP Block. Andai ada Inul yang bisa ngebor setiap saat, tidak lagi perlu ada kekhawatiran penurunan produksi CPP Block dan Pak Rachmat Soedibyo pun tidak lagi perlu risau tidak tercapainya target penerimaan negara dari sektor migas. Kita pun di daerah bisa tidur nyenyak, tidak khawatir dipersalahkan karena tidak mampu mengelola ladang minyak dengan baik. Padahal penyerahan pengelolaan ladang minyak CPP Block ke daerah seperti yang dilakukan oleh pemerintah terhadap PT. BSP-Pertamina Hulu adalah sebuah model yang diharapkan menjadi pola yang berlaku secara nasional di masa mendatang.

Semoga saja penurunan itu sifatnya hanya sementara dan produksi bisa naik lagi dalam waktu yang tidak terlalu lama. Tapi seandainya memang terjadi penurunan yang signifikan, maka kita perlu memikirkan secara bersama-sama. Terperangkap dalam nina bobo kekuasaan sempit, berada dalam jerat primordialisme yang berlebihan, atau dalam "guilty feeling" (perasaa bersalah), tidak akan menyelesaikan masalah. Yang hadapi adalah hari ini dan masa depan.

Fenomena Inul dengan magic-bornya yang menghe bohkan itu, yang diplesetkan ke permasalahan kita tentu tidak membuat kita kebakaran jenggot, justru sebaliknya membuat kita tersenyum menghadapi permasalahan yang dihadapi. Saya tidak hendak menjustifikasi nge bornya Inul yang kontroversial itu. Itu bukan urusan saya, tetapi saya memberikan apresiasi terhadap teman yang mengelaborasi Inul ke permasalahan yang kita hadapi. Sebuah permasalahan yang sesungguhnya tidak ringan, karena ini menyangkut image terhadap implementasi sebuah model kebijakan yang sebelumnya kita perjuangkan dengan cukup berat. Masalah yang terasa berton-ton beratnya, menjadi ringan gara-gara bornya Inul. Tentu itu sangat berlebihan. Namun, apa yang ditulis oleh Richard Carlson dan Kristine Carlson dalam bukunya "Donít sweat the small stuff in Love" agaknya menarik. "Tidak ada sebaik humor yang sehat, yang mampu membuat kita menertawakan diri sendiri itu yang membuat anda kebal menghadapi masalah yang dihadapi".

Inul membuat kita tersenyum, tetapi elaborasi yang inheren terhadap kemampuan ngebornya membuat kita tersenyum-senyum.


(2 Maret 2003)


Tulisan ini sudah di baca 130 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku 1001 Saddam

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/1001-Saddam/149-Andai-Ada-Inul-.html