drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

1001 Saddam | Bagian : 2

Membaca Tanda-tanda


Oleh : drh.chaidir, MM

El Nino dan La Nina agaknya boleh tidur dengan nyenyak mengakhiri tahun 2002. Mereka tidak dikambinghitamkan dalam musibah banjir di beberapa kabupaten di Riau yang terjadi rrrrruar biasa di penghujung tahun. Padahal tahun-tahun sebelumnya, segala sesuatu yang menyangkut dengan perilaku alam yang merugikan penghuninya, seperti bila terjadi bencana kekeringan, banjir, topan, atau badai, mereka selalu dipersalahkan. Para pengamat ramai-ramai mengatakan, bencana alam itu pasti akibat pengaruh El Nino atau La Nina. Manusia memang cenderung menggamangkan atau agaknya frustrasi akibat sulitnya mengidentifikasi fenomena alam, sehingga disebut saja itu pengaruh El Nino atau La Nina.

El Nino sesungguhnya adalah sebuah fenomena alam yang diidentifikasi oleh para ahli sebagai arus panas yang mengalir dari utara ke selatan menyusuri pantai Peru dan Ekuador, nun jauh di Amerika Latin sana. Arus ini biasanya muncul sekali dalam empat tahun dan menyebabkan kematian ikan dan burung-burung. El Nino yang kuat pernah terjadi di pantai California dan menimbulkan badai dan banjir yang dahsyat. La Nina pula diberikan terhadap topan dan badai yang pernah menerjang di Filipina.

Beberapa tahun yang lalu, bencana kekeringan dan banjir yang terjadi di Indonesia, yang menyebabkan kegagalan pertanian, disebut-sebut sebagai akibat pengaruh El Nino dan La Nina. Entah buaya entah katak, entah iya entah tidak, tidak ada yang tahu secara persis. Apakah betul arus panas yang melintasi pantai barat Amerika yang merupakan bagian dari Samudra Pasifik itu berpengaruh sampai ke Indonesia? Agaknya karena memang tidak ada kabar berita dari Amerika sana, maka banjir yang terjadi di Rokan Hulu, Kampar, Indragiri Hulu, dan Pelalawan tidak dikait-kaitkan dengan El Nino maupun La Nina.

Banjir yang terjadi di Riau di penghujung tahun 2002 yang lalu memang luar biasa. Ada yang mengatakan banjir besar seperti itu terjadi dalam siklus 20 tahunan, tapi beberapa orang tua di Rokan Hulu mengatakan banjir besar seperti itu sudah lama sekali tidak pernah terjadi. Ada yang bilang, terakhir kali terjadi pada tahun 1954. Saya memang belum pernah mekihat kota Pasir Pengarayan, ibukota Kabupaten Rokan Hulu berkuah-ruah seperti itu.

Di Kabupaten Kampar pula, semenjak waduk PLTA Koto Panjang selesai dibangun beberapa tahun lalu, warga yang tinggal di bagian hilir waduk di sepanjang aliran Sungai Kampar tidak lagi pernah kebanjiran. Mereka, dan juga para pejabat, begitu yakin, dengan dibendungnya air Sungai Kampar di bagian hulu di PLTA Koto Panjang itu, maka pelepasan air dapat dikendalikan. Kalau curah hujan banyak dan permukaan air di waduk naik, maka pintu air dibuka sesuai keperluan sehingga permukaan air sungai Kampar tetap terkawal. Ironisnya, tahun lalu, masyarakat sangat risau karena permukaan air di waduk turun sampai pada level yang sangat mengkhawatirkan. Apabila turun terus, maka mungkin tidak akan sanggup lagi menggerakkan turbin. Apabila ini terjadi, maka suplai listrik untuk Riau akan berhenti. Sekarang keadaannya berbalik 180 derajat. Air yang perlu dibuang dari bendungan PLTA demikian banyaknya sehingga pintu air tidak lagi dapat mengendalikan untuk tidak terjadinya banjir di wilayah hilir.

Seriusnya masalah banjir yang terjadi di Riau terlihat dari perhatian para pejabat tinggi kita. Setidaknya, tiga Menteri Kabinet Gotong Royong RI menyempatkan diri meninjau dan memberikan bantuan kepada korban banjir, yakni Menteri Kimpraswil, Drs. Ir. Soenarno, Dipl. H.E., Menko Kesra, Yusuf Kalla, dan Menteri Sosial, Bachtiar Chamzah, S.E. Ketua DPR-RI, Ir. Akbar Tanjung, bahkan sempat menyusuri Sungai Kampar selama tiga jam lebih dengan menggunakan speed-boat dari Pangkalan Kerinci - Langgam - Buluh Cina - Teratak Buluh. Ir Akbar Tanjung dapat menyaksikan langsung perkampungan yang terkepung air di sepanjang sungai dan tentu merasakan betapa getir kehidupan mereka.

Pertanyaan yang menarik adalah, setelah sekian lama tidak pernah terjadi banjir besar seperti ini, dan ketika banjir seperti ini juga tidak lagi diprediksi, layaknya di Sungai Kampar itu, mengapa semua ini terjadi? Ir. Akbar Tanjung memberikan komentar moderat, "Pemerintah perlu mengkaji apa penyebab banjir besar seperti ini," ujarnya. Tidak ada tendensi untuk menyalahkan siapa-siapa. Ir. Akbar Tanjung agaknya wajar meminta pemerintah untuk mempelajari fenomena alam ini. Sebab kalaulah, misalnya, perusakan hutan yang dijadikan kambing hitam tunggal penyebab banjir setelah El Nino tidak disebut-sebut, kenapa tahun 1954; juga terjadi banjir besar? Tahun 1954 hutan kita belum porak poranda seperti sekarang. Barangkali memang karena curah hujan yang amat sangat luar biasa di penghujung tahun 2002 yang menjadi biangnya. Tetapi ini bukan bermakna dengan demikian penebangan hutan secara luar biasa boleh diteruskan. Sebab anak SD pun bisa menjawab dengan tepat bila kepada mereka ditanyakan apa akibat penebangan hutan. Mereka secara aklamasi pasti menjawab: banjir!

Sesungguhnya, berbagai gerakan dan kebijaksanaan tentang penyelamatan lingkungan hidup telah dibuat. Untuk secara terus-menerus mengingatkan kita, maka secara internasional telah ditetapkan tanggal 5 Juli sebagai Hari Lingkungan Hidup. Indonesia telah pula memiliki Undang Undang yang mengatur masalah pengelolaan lingkungan hidup, yaitu UU No. 23 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). Kita juga memiliki suatu lembaga nondepartemen untuk menangani masalah ini, yaitu Kementerian Negara Lingkungan Hidup. Untuk memotivasi dan menyadarKan masyarakat, maka setiap tahun diberikan pula penghargaan Kalpataru kepada setiap orang yang berjasa terhadap lingkungan hidup.

Berbagai bentuk LSM melakukan pemantauan terhadap pengelolaan lingkungan hidup, perusakan hutan, penebangan liar, dan pembukaan lahan, seperti "Green Peace", WALHI, dan sebagainya. Di samping itu masih ada pula pers lokal yang demikian galak menyorot pelanggaran-pelanggaran dan perusakan lingkungan hidup. Di kampus-kampus juga banyak organisasi mahasiswa pencinta alam yang memberikan apresiasi terhadap lingkungan hidup. Kurang apa?

Para penyair pun menaruh perhatian yang sangat besar terhadap lingkungan hidup, seperti ungkapan rasaan penyair terkenal, Taufik Ismail, berikut ini

Allah........
Kami telah membaca gempa
Kami telah disapu banjir
Kami telah dihalau api dan hama
Kami telah dihujani abu dan batu
Allah.....
Ampuni dosa-dosa kami
Beri kami kearifan
untuk membaca seribu tanda-tanda.


Kita memang selalu alpa membaca tanda-tanda dan selalu bangga dengan dosa-dosa. Ebiet G. Ade agaknya benar, mari kita tanya kepada rumput yang bergoyang.


(5 Januari 2003)


Tulisan ini sudah di baca 186 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku 1001 Saddam

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/1001-Saddam/147-Membaca-Tanda-tanda.html