drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

1001 Saddam | Bagian : 2

Berguru Kepalang Ajar


Oleh : drh.chaidir, MM

Masyarakat kita dewasa ini cenderung berkembang aneh (The Odd Society). Barat mengatakan, masyarakat Indonesia kekanak-kanakan. Kekanak-kanak-an bermakna seperti kanak-kanak, walaupun bukan kanak-kanak. Sebab kalau kanak-kanak, maka sekolahnya tentu di Taman Kanak-kanak. Istilah kekanak-kanakan memang hanya disangkutkan dengan orang yang bukan kanak-kanak. Saya teringat Gus Dur ketika suatu kali bercanda dalam pidatonya di depan sidang DPR RI, ketika beliau masih memangku jabatan Presiden RI, dengan mengatakan, bahwa DPR kita seperti Taman Kanak-kanak. Waktu itu, anggota DPR tersinggung berat. Mereka marah besar, seperti kebakaran jenggot. Gus Dur bercandanya memang keterlaluan, mosok anggota Dewan Yang Terhormat koq dibilang seperti Taman Kanak-Kanak. Dimana keterhormatannya kalau begitu?

Kita memang boleh sependapat boleh tidak terhadap tudingan Barat bahwa masyarakat kita kekanak-kanakan. Mau marah atau tidak marah? Silakan. Seorang teman berkomentar, kalau marah tanda ya, kalau tidak marah tanda setuju. Hayo, pilih yang mana? Artinya, potret buram karakter kita sebagai sebuah bangsa yang berbudaya, nampaknya sulit untuk kita pungkiri, walaupun itu juga bukan merupakan suatu hipotesis yang memerlukan pembuktian.

Sejujurnya, gejala umum yang kita lihat di tengah masyarakat yang sedang mengalami pancaroba dewasa ini adalah, emosionalitas lebih mengedepan daripada rasionalitas. Cakrawala menyempit. Sikap kita sering banci terhadap suatu masalah. Suka "menegakkan benang basah", apalagi bila "benang basah" itu berasal dari kelompok sendiri. Suka memfitnah dan mempergunjingkan orang lain. Tidak menguasai masalah, tapi ingin disebut sebagai pengamat. Ingin gelar Doktor, beli saja, tak perlu S-3. Profesor pun ada yang instan kalau mau. Konon dengan tarif 2,5 - 5 juta rupiah anda akan memperoleh gelar tersebut. Ada yayasan yang tidak memiliki hati dan dengan licik memanfaatkan kegandrungan masyarakat dalam hal gelar menggelar ini dengan membawa-bawa nama Universitas Harvard, Universitas Berkeley, Universitas California, dan sebagainya. Bukankah ini tipologi dari masyarakat yang kekanak-kanakan atau tipologi masyarakat tradisional yang gamang karena "berguru kepalang ajar", yang masih sangat terbatas perkembangan intelektualitasnya?

Gejala-gejala itu nampak menonjol pada masyarakat yang belum terdewasakan atau tercerahkan. Bukankah anak Taman Kanak-Kanak sangat bangga diperankan sebagai dokter kecil dalam sebuah pesta karnaval? Kita marah ketika tamu mengatakan di rumah kita ada tikus. Tapi kita membiarkan tong-tong sampah dan lorong-lorong gelap tak terurus. Kita meneteskan air mata untuk hal-hal yang seharusnya tidak kita tangisi, sebaliknya kita tertawa-tawa ketika orang lain sedang belasungkawa. Dapat dipahami bila Australia merasa tersinggung ketika Kapolri, Jenderal Da'i Bachtiar, bercanda ringan dan tertawa bersama Imam Samudra, saat melihat "Manusia Bom" itu di tahanan. Kejadian yang tidak disengaja itu, sialnya, diliput pula oleh media elektronik dan dipancarluaskan ke mancanegara.

Sesungguhnya, institusi-institusi pendidikan kita telah banyak menghasilkan sarjana-sarjana yang pintar, walaupun dari segi jumlah belum mencapai ambang yang memadai. Tetapi masalahnya, sebagaimana dikatakan oleh Profesor Muchtar Achmad, Rektor Universitas Riau, pendidikan kita baru pada tahap menghasilkan orang yang pintar, belum menghasilkan orang yang cerdas. Kecerdasan, menurut Muchtar Achmad, adalah suatu gabungan antara kepintaran dan kepandaian, kebijaksanaan dan kepiawaian. Profesor Muchtar agaknya benar, pengalaman kita bermasyarakat menunjukkan, orang yang memiliki kecerdasan mampu merespon lingkungannya secara arif dan bijak, sehingga ia mampu bertutur kata secara santun dan mampu bersikap secara pas dalam berbagai situasi dan kondisi. Orang yang pintar tetapi tidak cerdas, adakalanya "tulalit", tidak nyambung, atau in-absentia. Dia di antara ada dan tiada, dan seringkali tidak kontekstual. Sedihnya, dia tidak tahu" kalau dia tidak tahu.

Pendidikan merupakan kegiatan yang berhubungan langsung dengan hidup dan kehidupan manusia. Pendidikan merupakan usaha dari manusia dewasa yang sadar akan kemanusiaannya dalam membimbing, melatih, mengajar, dan menanamkan nilai-nilai serta dasar-dasar pandangan hidup dan juga kebajikan kepada generasi muda, agar nantinya menjadi manusia yang sadar dan bertanggung jawab akan tugas-tugas hidupnya sebagai manusia, sesuai dengan sifat hakikat dan ciri-ciri kemanusiaannya. Pendidikan menjadi sebuah keniscayaan karena pendidikan pada dasarnya bukan hanya untuk membina kepribadian dan akhlak manusia, tapi juga membentuk karakter sebuah bangsa. Oleh sebab itu, corak pendidikan erat hubungannya dengan corak penghidupan. Berubah corak penghidupan, berubah pula corak pendidikannya.

Proses berpikir merupakan aspek penting dalam pendidikan. Mengapa demikian? Karena pendidikan, melalui proses pembelajaran, pada hakikatnya memang berupaya untuk melatih olah pikir manusia agar menjadi insan yang mandiri dan otonom tidak mudah terpro-vokasi, dan tidak gampang terkooptasi.

Pertanyaan yang mendasar adalah, adakah sesuatu yang salah dalam sistem pendidikan kita, sehingga kita tumbuh menjadi insan-insan yang tidak memiliki karakter, tidak berwatak? Budi pekerti menjauh, sopan santun sirna. Kacamata yang diberikan adalah kacamata kuda, yang tentu saja sudut pandangnya sempit. Institusi ilmu ekonomi lebih banyak menghasilkan ekonom yang mahir ilmu perkalian, tetapi tidak pandai membagi. Institusi ilmu politik lebih banyak menghasilkan ahli politik yang mahir melakukan politiking. Institusi ilmu hukum pula lebih banyak menghasilkan ahli hukum yang mahir menjerat hukum.

Kita tidak boleh membiarkan karakter bangsa ini tumbuh menjadi masyarakat yang impersonal, masyarakat tanpa hati nurani, tidak dewasa-dewasa. Bila terus menerus terdorong ke arah itu, akhirnya nanti akan terjerumus menuju titik nadir, suatu titik di mana tidak lagi ada akhlak, tidak lagi ada aturan-aturan manusia dan Ilahi. Bila itu yang terjadi, maka nilai yang berlaku adalah nilai-nilai dunia binatang, kekerasan, dan kelicikan.

Optimisme Albert Camus agaknya layak disimak "Aku tetap percaya bahwa dunia ini tidak mempunyai makna hakiki", kata Albert Camus, "namun, aku tahu bahwa sesuatu di dalamnya mempunyai makna dan itu adalah manusia karena dia merupakan satu-satunya cip-taan yang bersikukuh untuk memiliki makna". Nah!

(1 Desember 2002)


Tulisan ini sudah di baca 145 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku 1001 Saddam

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/1001-Saddam/146-Berguru-Kepalang-Ajar.html