drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

1001 Saddam | Bagian : 2

Warung Kelambu


Oleh : drh.chaidir, MM

Kamus Idiom bahasa prokem agaknya akan segera muncul dari Riau. Setelah Wanita Tuna Susila diberi julukan "Ayam Kampung" yang kemudian bermetamorfosa menjadi "Ayam Kampus", selanjutnya disusul pula dengan istilah "Ayam Bersepatu" di Karimun, kini muncul "Warung Kelambu". Kendati istilah Warung Kelambu kedengarannya terkesan sedikit rada mesum dan berbau esek-esek, namun tidak ada hubungan sanak famili sama sekali dengan Ayam Kampus atau Ayam bersepatu itu. Yang jelas Ayam kampung, Ayam Kampus, Ayam Bersepatu, atau warung kelambu adalah pekerjaan-pekerjaan yang dianggap oleh masyarakat dan pemerintah menyimpang dan menyalahi aturan. Mungkin masih banyak kosakata lain yang akan muncul.

Tidak jelas siapa yang mulai menggunakan istilah "Warung Kelambu". Istilah ini demikian saja menjadi populer sebagai julukan terhadap tempat-tempat makan, cafe-cafe, warung-warung, atau kedai-kedai kopi yang tetap buka di siang hari bulan Ramadhan, ketika umat Islam sedang menunaikan ibadah puasa. Warung-warung ini secara malu-malu memang menutup diri supaya tidak terlihat transparan dari luar, entah dengan menutup pintu, entah dengan kain tabir. Akibat ditutup dengan kain tabir itu, menimbulkan kesan seperti berkelambu, maka disebutlah Warung Kelambu.

Tentu tidak terdata di Biro Statistik berapa jumlah dan siapa-siapa saja yang menggunakan jasa warung kelambu ini. Tapi paling tidak, agaknya ada tiga kelompok. Yang pertama adalah kalangan non muslim yang memang tidak menunaikan ibadah puasa, yang kedua adalah kelompok muslim yang tidak berpuasa karena alasan-alasan tertentu seperti pekerja-pekerja berat atau orang yang sakit, dan yang ketiga adalah orang-orang muslim yang tidak tahan berpuasa, baik yang terang-terangan maupun yang sembunyi-sembunyi. Di rumah, di depan anak isteri, dia berpuasa untuk jaga gengsi, tapi di luar rumah dia berselingkuh dengan warung kelambu. Seorang teman menyodorkan premis begini, "pengunjung warung kelambu pasti tidak puasa, tetapi pemilik warung kelambu belum tentu tidak puasa." Teman saya ini mungkin benar.

Tetapi sesungguhnya, penjual jasa warung kelambu tidak memaksa pembeli untuk masuk ke dalam warung kelambu dan kemudian berkelambu-ria. Mereka hanya menggunakan pendekatan ilmu ekonomi saja ada demand ada supply. Ada yang membutuhkan, ada yang mensuplai. Karena ada pembeli, maka mereka menjual. Bagi mereka yang memiliki naluri bisnis, tentu merasa sayang bila peluang itu dilewatkan begitu saja. Yang penting uang masuk. Bukankah akan lebih banyak pengeluaran untuk lebaran dan mudik?

Salahkah warung kelambu? Rasanya bukan masalah salah atau benar. Masalahnya adalah karena faktor keterusikan saja. Masalah toleransi. Sebagian kalangan yang menunaikan ibadah puasa merasa terusik dan berkeberatan dengan adanya warung-warung yang masih tetap buka (walaupun pakai kelambu) di bulan puasa Ramadhan. Agaknya karena alasan tersebut, maka pemerintah yang mempunyai fungsi normatif sebagai nengatur masyarakat memang harus mengeluarkan aturan. Yang namanya aturan tentu ada yang terlindungi atau terayomi, sebaliknya juga ada pihak-pihak yang terkena aturan.

Konon, tidak semua daerah mengeluarkan aturan yang melarang warung-warung makan ditutup selama bulan puasa Ramadhan. Ini memperkuat asumsi, ada yang tidak terusik atau tidak berkeberatan dengan kegiatan-kegiatan warung makan yang melayani pembelinya di siang hari selama bulan puasa. Kelompok ini agaknya termasuk pengikut aliran Aa Gym. Orang yang berpuasa memiliki kesabaran yang tinggi, dia tidak urus kepada orang lain yang makan dan minum di depannya. Bahkan, hal itu dianggap godaan dan cobaan yang justru akan meningkatkan kualitas berpuasa seseorang.

Keadaan memang agak dilematis. Betapa tidak. Di bulan puasa kebutuhan keluarga biasanya meningkat. Makanan dituntut lebih berkualitas dan bervariasi dari biasanya. Demikian pula pakaian. Seluruh anggota keluarga memerlukan baju baru untuk menyambut Hari Raya. Kita ingin sedikit memanjakan diri dan keluarga. Dengan demikian pengeluaran keluarga pasti akan meningkat. Memang sulit dibayangkan, pada saat-saat kebutuhan keluarga meningkat, pada saat itu justru mereka harus kehilangan mata pencaharian karena warung mereka harus ditutup. Warung-warung itu adalah sektor informal yang banyak memberikan peran dalam mengatasi pengangguran di saat-saat kita sedang mengalami krisis.

Tapi pemerintah, untuk kondisi sekarang, memang tidak bisa lain, harus memainkan perannya sebagai regulator, sebagai pengatur masyarakat dalam kehidupar beragama. Sebab kalau semua anggota masyarakat adalah penganut kesabaran seperti yang disampaikan Aa Gym itu, atau seperti Aa Gym sendiri, maka masalahnyal akan selesai. Tidak perlu ada pengaturan, tidak perlu ada kekhawatiran terhadap provokasi yang dapat merusak toleransi dan kerukunan hidup antarumat beragama yang pada akhirnya memporak-porandakan tatanan masyarakat itu sendiri.

Namun kondisinya tidak demikian. Ketersinggungan dalam masyarakat dewasa ini demikian mudah terjadi. Hal-hal kecil dapat memicu perselisihan yang lebih luas, bahkan hal-hal yang sepele kadang-kadang harus ditebus dengan jiwa. Orang semakin gampang menjadi marah. Ada yang mengatakan bahwa kondisi masyarakat kita saat ini ibarat padang rumput yang kering. Sedikit saja bara api dilemparkan, maka padang rumput itu akan terbakar habis. Oleh karena itu, pemerintah nampaknya tidak mau ambil risiko. Menghindari atau mencegah terjadinya pertengkaran akibat kesalah-pahaman akan lebih mudah daripada mendamaikan sebuah pertengkaran. Malaysia konon lebih tegas mengatur masalah orang yang makan-minum di muka umum selama bulan Ramadhan.

Tidak ada yang bisa menjelaskan secara tepat kenapa kondisi masyarakat yang sangat reaktif dan eksplosif seperti yang kita alami sekarang ini tercipta. Semakin dijelaskan semakin kabur. Satu-dua ada yang mencoba-coba memberikan argumentasi, tapi yang muncul adalah "kambing hitam", mempersalahkan orang lain, kelompok lain, atau bahkan rezim. Padahal, dalam konsep Islam kita tidak mengenal istilah dosa rezim. Yang masuk neraka bukan rezim, tetapi individu-individu yang berdosa. Kita memang selalu gagal melakukan introspeksi secara arif dan cerdas.

Sesungguhnya agama tidak dibuat sebagai penghalang bagi kemanusiaan. Oleh karena itu, sesuatu yang sejalan dengan nilai

kemanusiaan tentu akan bertahan, sedangkan yang tidak sejalan, dengan sendirinya akan sirna. Agama berasal dari Tuhan, tetapi untuk kepentingan manusia itu sendiri.


(24 November 2002)


Tulisan ini sudah di baca 181 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku 1001 Saddam

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/1001-Saddam/145-Warung-Kelambu.html